Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Trauma


__ADS_3

"Aku haus, bisa ambilkan Aku minum sayang !" Kevin mengalihkan pembicaraan, untuk saat ini Ia tidak ingin merusak suasana.


"Aku tidak punya air minum, sebaiknya Kamu pulang saja" usir Anin, dan mengeser posisinya ke sudut sofa agar tidak berdekatan dengan Kevin.


"Kalau begitu biar Aku ambil sendiri saja, toh ini rumah istriku" Kevin melemparkan senyum nya pada Anin, dan melangkahkan kakinya ke dapur untuk ambil air minum untuknya dan juga untuk Anin.


"Tolong pergilah, Aku tidak mau terjebak lagi, dalam cinta segitiga ini" batin Anin frustasi, takut cinta segitiga, tiga tahun lalu terulang lagi, di mana Dialah satu-satunya orang yang terluka.


"Sayang Kamu juga pasti haus kan" Kevin memberikan minum pada Anin, dan Anin menghiraukan perkataan Kevin dan sibuk dengan ponselnya.


Kruk....kruk....kruk.


Kevin lagi-lagi menerbitkan senyumnya saat mendengar perut Anin bunyi. Satu yang tidak hilang dari Anin selama tidak bersamanya yaitu keras kepalanya tambah parah.


"Kamu lapar? Kita makan siang dulu ya?" ajak Kevin tidak tega jika Anin kelaparan.


"Aku tidak lapar" kilah Anin yang jelas-jelas perutnya keroncongan.


"Baiklah, angap saja Aku yang lapar, karena ini adalah rumah Istriku, Aku akan memasak semauku" Kevin kembali ke dapur dan mulai berkutat dengan alat-alat dapur, ya walau hanya membuat mie instan.


"Aku masih penasaran dengan kisah hidupmu selama tidak bersamaku, apa Kamu mau menceritakannya padaku!" pinta Kevin masih sibuk dengan mie yang Ia buat ala chef Kevin.


Anin masih bisa mendengar suara Kevin, karena memang apartemen Anin tidak besar, jadi dapur, dan juga Sofa sedikit berdekatan.


"Tidak ada yang perlu di ceritakan" ucap Anin meremas jari-jari tangannya yang terasa dingin, bayangan masa lalu kembali menghantuinya, dimana saat Ia kecelakaan dan kenyataan pahit saat Ia kehilangan anaknya. Inilah salah satu ketakutan Anin saat bertemu dengan Kevin.

__ADS_1


"Apa Kamu tidak penasaran dengan kehidupan sehari-hariku tanpamu?" Kevin melanjutkan pertanyaanya tanpa menyadari perubahan ekspresi Anin.


Ya Anin akan berubah menjadi orang yang sangat kaku dan keras jika mengingat masa lalunya, dan yang kena dampaknya dulu adalah Dilan. Karena Anin menganggap Dilan adalah Kevin, dan Anin akan melampiaskan semua kekesalannya dan juga menatap benci pada Dilan, namun Dilan dengan sabar menghadapi sikap Anin dan tidak pernah marah sekalipun.


"Apa Kamu tahu? setelah kepergianmu, Aku tidak pernah merasakan ketenangan selama tiga tahun, Aks selalu mencarimu kemana-mana,namunn tidak pernah menemukanmu. Setiap weekend Aku akan selalu mengunjungi Ibu hanya untuk mengetahui keberadaanmu, tapi Ibu Sandra tidak pernah memberitahukan di mana keberadaanmu. Apa Kamu tahu? sekarang sahabatmu Tari, sudah menjadi pengacara ternama dan berada di peringkat kedua setelah pengacara Charles.Aku juga mewujudkan mimpimu membuka butik di berbagai kota dan itu semua atas namamu." Kevin menceritakan masa-masa saat tidak bersama Anin, dan banyak lagi, dan di sinilah Anin bisa melihat sisi cerewet Kevin.


Anin yang masih bisa menguasai emosinya, memberanikan diri untuk menanyakan Oma Jelita, Ia begitu merindukan wanita tua yang selalu menyayanginya, bahkan Ia adalah salah-satu orang yang mendukung keputusannya untuk pergi dari kehidupan Kevin, agar bisa menenagkan diri, dan menunggunya kembali ke kediaman Adhitama. Jika bukan sebagai menantu, maka sebagai seorang cucu permpuan Adhitama.


Ya Oma Jelita menitipkan surat pada Dilan untuk di berikan pada Anin, namun Oma benar-benar tidak tahu bahwa Anin akan pergi dengan Dilan, dan benar-benar meninggalkan cucunya Kevin.


"Bagaimana dengan Oma? apa Dia baik-baik saja?" tanya Anin, karena dari tadi Kevin tidak menceritakan Omanya.


Lama Kevin terdiam mencari jawaban yang tepat untuk berbohong pada Anin. "Oma baik-baik saja, Dia sekarang tinggal di rumah untuk mengurus taman yang di penuhi dengan tanaman hias. Itu adalah hobi baru Oma" senyum Kevin.


Kevin tidak menceritakan Oma Jelita, karena Ia takut Anin akan bersedih dan akan menyalahkan dirinya saat mengetahui Oma lebih menderita darinya. Setelah kepergian Anin, Oma Jelita bahkan tidak pernah lagi makan bersama dengan Kevin, Elvan dan juga Ajeng. Oma Jelita selalu menyendiri, dan menghabiskan waktunya di taman untuk merawat tanaman dan sekali-kali melukis.


Kevin membawakan semangkuk mie Instan untuk Anin. "Makanlah dulu, Kamu pasti lapar" Kevin duduk di hadapan Anin dan menyuapi Anin setelah Ia mendinginkan mienya.


"Aaaa" Kevin membuka mulutnya seakan-akan Dia yang akan makan.


"Sudah Aku bilang Aku tidak lapar" Anin mengepalkan tangannya mencoba mengontrol emosinya agar tidak meledak di depan Kevin. Anin takut Kevin akan mengetahui traumo dan juga keanehannya, Kevin akan kasihan padanya, dan Anin tidak suka jika ada seseorang yang mendekatinyan hanya karena kasihan.


"Ayo makan dulu ya nanti Kamu sakit" bujuk Kevin lembut.


"Kevin cukup, sudah Aku katakan Aku tidak lapar, kenapa Kamu terus memaksaku hah?" bentak Anin dengan suara yang sangat tinggi.

__ADS_1


Kevin terhenyak, melihat perubahan Anin yang begitu kasar menuturnya. "Sayang Kamu kenapa?" Kevin mencopa menyentuh tangan Anin dan segera di tepis oleh Anin.


"Jangan menyentuhku dasar bajin*an." nada suara Anin masih masa seperti tadi.


Kevin yang tidak tahu bahwa Anin mempunyai trauma di masa lalu, mulai tersulut emosi mendapatkan penolakan dan juga bentakan, Kevin hilang kendali. "Aku salah apa sama Kamu hah? bahkan Aku sudah berusaha menjadi ayah yang baik untuk anak Kita, menjadi Suami yang baik untukmu, tapi kenapa Kamu begitu membenciku Anin?" Kevin yang tersulut emosi tidak sadar membentak Anin.


"Kamu masih bertanya di mana salahmu? dan masih berani menemuiku setelah apa yang Kamu lakukan padaku dan juga Anakku? Kamu yang membunuh Anakku Kevin, kamu." suara Anin mulai merendah dan menangis. "Jika Kamu jujur padaku sebelum ulang tahun Oma, bahwa Kamu tidak mencintaiku dan menginginkan Aku pergi dari hidupmu, Aku akan pergi dan tidak akan menganggumu. Dan Kamu tidak perlu repot-repot untuk bersandiwara di depan Oma bahwa Kamu mencintaiku. Kenapa Kamu tega mempermainkan hatiku?, setelah Kamu membuatku terbang begitu tinggi, Kamu menjatuhkanku dengan memberikanku surat perjanjian perceraian yang tidak masuk akan bagiku. Dan dengan teganya Kamu berpelukan dengan mantan pacarmu di dalam kamar yang telah Kamu pesan untukku." tubuh Anin bergetar hebat beriringan dengan air mata yang bercucuran dengan begitu deras membasahi pipinya.


Kevin yang tersadar akan perbuatannya, segera menarik Anin kedalam pelukannya dan kali ini tidak ada penolakan dari Anin. Hati Kevin begitu teriris sakit namun tak berdarah, melihat wanita yang sangat Ia cintai, wanita yang beberapa hari ini terlihat kuat, sekarang sedang menagis pilu di dalam pelukannya. Kevin benar-benar menyesali perbuatannya yang tega membentak Anin.Kevin benar-banar tidak tahu bahwa wanitanya begitu tersakiti sehingga membuatnya trauma seperti ini.


"Sayang.................


-


-


-


-


-


-


TBC

__ADS_1


Jangan lupa dukung Author dengan memberikan Like, komen, Vote, dan jangan lupa menambahkan sebagai cerita favorit kalian, agar mendapatkan notifikasi setiap up.


__ADS_2