
Dua hari telah berlalu setelah liburan mereka ke Bali, dan hari ini Anin akan menemui Tari untuk mempersiapkan pernikahan Tari yang sebentar lagi akan di adakan. Dan tentu saja Anin sudah mendapat izin dari Kevin dengan syarat Kevin harus menemaninya, Kevin rela tidak masuk bekerja hanya untuk menemani sang istri menemui sahabatnya.
Kevin akhir-akhir ini memang bekerja dengan santai, karena ada Elvan yang mengurus perusahaan.
Anin turun dari mobil setelah sampai di depan kontrakan sahabatnya, Anin berlari dan menghambur kepelukan sahabatnya yang sangat Ia rindukan tiga tahun lamanya. Ya Tari sengaja menunggu Anin di depan pagar karena Ia juga sangat merindukan sang sahabat.
"Tari Aku sangat merindukanmu" ucap Anin masih memeluk tubuh Tari begitu erat, dan tidak memperdulikan Kevin berdiri di sampingannya.
"Aku juga sangat merindukanmu, kenapa baru sekarang Kamu menemuiku? bukankah Kamu sudah ada di Kota ini dua minggu yang lalu?" Tari melepaskan pelukannya namun masih mengengam tangan sahabatnya. "Itupun Kamu menemuiku karena Aku menelfon tadi malam, jika tidak, mungkin Kamu tidak akan meneumiku" Tari cemberut.
"Kamu tahu sendirikan, Aku sekarang mempunyai Suami yang sangat posesif kemana-mana selalu mengikutiku" Anin melirik Suaminya yang sedang berdiri di sampingannya dengan wajah datarnya.
Tari melirik Kevin sebentar dan beralih pada Anin. "Bagaiamana Kevin tidak mengikutimu kemana-mana coba? lihatlah Kamu sudah sangat berubah, penampilanmu uh sungguh menarik perhatian pria di luar sana, dan lihat kau semakin cantik sayang" ucap Tari bertujuan menas-manasi Kevin.
"Ah biasa saja" Anin tersipu mendapat pujian dari sahabatnya. "Kau juga semakin cantik baby, pasti Ans sangat tersiksa menjagamu karena kau wanita bar-bar dan bisa saja mengoda pria di luar sana" ledek Anin, Tari bukannya marah malah Ia tertawa dengan ledekan Anin.
"Kau sungguh banyak berubah, bahkan kau sudah berani menantangku" Tari kembali memeluk Anin.
"Apakah semua wanita seperti ini jika sedang bertemu? sibuk bergosip dan saling memuji dan melupakan orang-orang di sekitarnya? bahkan Anin melupakan Aku suaminya" batin Kevin.
"Apa Kamu tidak risih dengan keberadaan Kevin di sini? jika Kamu tidak menegurnya Dia akan terus mengekori Kita." bisik Anin di telinga Tari masih dengan posisi berpelukan.
"Sebenarnya banyak sekali yang ingin Aku ceritakan, tapi Aku merasa cangung jika ada Kevin disini" jujur Tari yang ingin curhat pada sahabatnya.
"Kalau begitu tunggu apa lagi? ayo gunakan kemampuanmu untuk mengusrinya" bisik Anin lagi.
"Ais Kau sungguh Istri durhaka, namun Kau juga sahabat terbaikku. Baiklah Aku akan mengusirnya." Tari melepaskan pelukannya dan menatap Kevin.
"Kenapa perasaanku tidak enak? apa yang mereka rencanakan? kenapa mereka menatapku seperti itu?" batin Kevin.
"Kenapa kalian menatapku seperti itu?"Kevin mengerutkan keningnya membuat alisnya saling bertautan.
"Apa Tuan Kevin akan terus berdiri di sini?" Tari mulai melancarkan aksinya.
"Tidak, Saya akan masuk bersama kalian" jawab Kevin datar.
"Siapa yang membiarkan Anda masuk?" Tari menaikkan alisnya masih menatap Kevin, sementara Anin menahan senyumnya.
"Tidak ada yang menyuruh Saya, tapi kemanapun Istri Saya pergi Saya akan mengikutinya" jawab Kevin datar.
__ADS_1
"Tidak boleh, Anin hari ini adalah milikku, dan tidak ada yang boleh mengangunya" Tari bekacak pinggang.
"Mas biarkan Aku bersama Tari seharian ini, Aku ingin menghabiskan waktuku berdua saja, Aku ingin mengobrol banyak hal dengannya" bujuk Anin bergelayut manja pada lengan Kevin.
"Uh enaknya kalau sudah menikah, bebas ngapain aja dan juga bisa manja-manja, jadi tidak sabar pengeng nyusul" celetuk Tari.
Kevin menghela nafas melihat tatapan memohon Anin, Ia paling tidak bisa menolak permintaan istrinya. "Baiklah Aku pergi, tapi Kamu harus janji dulu padaku" ucap Kevin.
"Kabariku Aku setiap jamnya, Kamu lagi apa, dan di mana, dan lagi ngapain, bisa tidak?" ucap Kevin dingin.
"Iya Aku janji mas" Anin mencuim lengan suaminya.
"Satu lagi."
Anin melepaskan rangkulannya di lengan kekar suaminya dan cemberut. "Apa lagi mas?" tanya Anin kesal.
"Panggil Aku sayang." pinta Kevin senyum penuh arti.
"Istriku Kamu tidak akan bisa menyanggupi permintaanku yang satu ini, Aku tahu lidahmu terasa keluh jika mengatakannya apa lagi di depan sahabatmu" batin Kevin.
Anin mengembangkan senyumnya. "Suamiku yang tampan sejagat raya, izin Aku pergi bersama sahabatku ya" pinta Anin.
Kevin mengalihkan padangannya dari Istrinya yang sedang membujuknya saat menerima pesan dan pesan itu tak lain dari Ans.
Tuan ada meeting penting dengan para dewan di reksi sebelum makan siang, dan itu tidak bisa di wakili . Isi pesan
Saya akan datang tepat waktu, persiapkan semuanya. Balas Kevin.
Kevin kembali menyimpan poselnya di saku jasnya. "Kenapa apa Kamu tidak bisa mengatakannya? kalau begitu Aku tidak akan pergi" goda Kevin yang sebenarnya akan pergi karena ada urusan penting di kantor.
"Pengendeh Ans seperti Kevin yang sangat posesif dan menyayangi istrinya, jadi iri" batin Tari.
"Sayang izin kan Aku ya" Anin memelas.
"Aku tidak mendengarnya" ucap Kevin walau Ia mendengar dengan jelas Anin memanggilnya sayang dan itu membuat hatinya berbunga-bunga, ini kali pertamanya Anin memanggilnya sayang.
"Tau ah" Anin medelik dan menarik tangan sahabatnya masuk kedam rumah.
Kevin mengembangkan senyumnya melihat tingkah sang Istri dan membalikkan tubuhnya berjalan menuju mobilnya untuk segera berangkat ke kantor.
__ADS_1
"Mas" panggil Anin berlari ke arah Kevin.
"Jangan lari-lari" ucap Kevin.
"Hati-hati di jalan sayang"
Cup
Setelah mengucapkan kata perpisahan pada Suaminya Anin menyempatkan diri mengecup bibir sang suami sekilas dan berlari masuk kedalam kontrakan Tari.
Kevin yang mendapatkan serangan tiba-tiba hanya diam mematung menyentuh bibirnya yang baru saja di kecup sang Istri. "Kamu membuatmu gila sayang" gumam Kevin dan melanjutkan langkahnya mamasuki mobil dan melajukannya menuju Adhitama Grub.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tari menyiapkan jus jeruk kesukaan Anin, sementara Anin sedang sibuk melihat-lihat desain-desain gaun pernikahan yang akan di pakai Tari, dan juga beberapa gambar rumah mewah yang akan Ans beli untuk Tari.
"Menurut Kamu yang mana paling cocok?" Tari ikut duduk di samping Anin.
"Terserah Kamu, Aku percaya pilihanmu itu sangat bagus." ucap Anin membuat Tari kesal.
"Anin Kau itu sama saja dengan Ans, dan kata-katamu itu persis dengannya" garutu Tari kembali mengingat pertengkaranya dengan Ans kemarin malam, hanya karena gaun dan juga rumah, jika Tari menanyakan nya pada Ans, Ans hanya akan berkatan 'Terserah Kamu sayang Aku percaya pilihanmu itu bagus' sambil memainkan ponselnya.
"Sepertinya pilihanku untuk menikah salah deh, apa sebaiknya Aku membatalkan semuanya sebelum terjadi?" Tari menundukan kepalanya.
"Kamu tidak boleh...............
-
-
-
-
-
TBC
Jangan lupa dukung Author dengan memberikan Like, komen, Vote, dan jangan lupa menambahkan sebagai cerita favorit kalian, agar mendapatkan notifikasi setiap up.
__ADS_1