Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Tuduhan Kejam Julian Dan Kondisi Alvaro


__ADS_3

"Operasi kemarin kau membentak Naura, Julian?" Bimantara menginterogasi Julian yang sudah datang menyambangi ruangannya.


"Dia mengadu?" tanya Julian menuduh.


"Bukan dia. Kenapa kau ini sensitif sekali dengan dia, Julian?" Bimantara membantah lalu kembali bertanya pada lelaki yang duduk santai di hadapannya.


"Pasti Bayu, iya kan?" Julian menerka - nerka.


"Jangan galak - galak dengan Naura, Julian." Bimantara membujuk lelaki dingin itu yang masih di selimuti dengan amarah.


"Ahh....! Ternyata benar Bayu yang sudah mengadu."


"Lembut sedikitlah dengan Naura, Julian. Aku sudah memberitahu alasan di balik kedatangannya ke rumah sakit ini, kan?" Bimantara kembali membujuk Julian untuk mau melembut dengan Naura.


"Rumah sakit ini tak butuh dokter manja seperti dia. Aku tidak peduli alasan apapun di balik kedatangannya ke rumah sakitku! Jika dia tak bisa menerima dokter pembimbing sepertiku, cari saja rumah sakit lain yang bisa menerima kemanjaan dirinya!"


Julian tidak bisa lagi menahan kata - kata yang tertahan sejak tadi di tenggorokannya. Begitu tak ragunya lelaki itu mengeluarkan unek-unek di dalam hati atas permintaan Bimantara yang tak akan mungkin Julian kabulkan.


"Lian...! Kasihan dia. Aku sudah memberitahumu jika Naura....."


"Aku mau ke ruanganku. Masih banyak pekerjaanku yang jauh lebih penting di bandingkan dengan membicarakan dokter manja tidak tahu diri seperti dia."


Julian langsung beranjak dari tempat duduknya setelah memotong habis ucapan Bimantara. Lelaki itu kemudian melenggang pergi meninggalkan ruangan Bimantara tanpa ingin lagi mendengar penjelasan dari partner bisnisnya itu.


Di luar ruangan tepatnya di depan pintu, Naura mematung setelah tidak sengaja menguping pembicaraan Dokter Bimantara dengan Dokter Julian. Niatan hati yang ingin meminta bantuan pada Dokter Bimantara untuk menghubungi Ayahnya terurungkan di karenakan kedua telinga mendengar jelas ucapan Dokter Julian yang begitu membenci sosok dirinya.


Segera mungkin, Naura melarikan diri dari tempat itu, sebelum Dokter Julian berhasil menarik daun pintu ruangan Dokter Bimantara dan berhasil menangkap basah dirinya.


...***...


Julian sedang menandatangani beberapa dokumen pasien yang di berikan oleh Rian. Lelaki tampan itu begitu berwibawa dengan keseriusannya. Seketika benaknya terlintas pada satu ingatan yang terlupakan.


"Dimana Dokter Naura? Kemarin kau sudah memberitahunya untuk menghadapku pagi ini?" tanya Julian, yang teringat akan perintahnya pada Rian, namun Naura belum datang juga untuk menghadapnya.


"Sudah Dokter. Sekarang Dokter Naura sedang ada pasien di IGD. Pagi tadi, Dokter Naura sudah datang kesini. Tapi Dokter Julian sedang berada di ruangannya Dokter Bimantara." ucap Rian, yang begitu lancarnya menjelaskan ketidakhadiran Naura di ruangannya hingga detik ini.


"Bilang kepadanya untuk datang ke ruanganku, setelah selesai menangani pasien." titah Julian yang langsung lugas di jawab oleh Rian.


...***...

__ADS_1


Naura meletakkan kedua telapak tangannya tepat di atas dada guna menenangkan irama dengan debaran jantung yang tak kunjung normal. Kedua mata masih menatap penuh ketegangan daun pintu depan pamflet nama bertuliskan Dr.Julian Mallory Pratama Alvarendra, Sp.B.


Bagaikan sebuah wahana rumah hantu yang menyeramkan. Naura begitu enggan untuk mengetuk pintu apalagi untuk masuk kedalamnya. Karena baru di depan ruangannya saja sudah membuat nyali Naura terbirit-birit hingga pontang-panting. Sikap berani yang kemarin menyala - nyala lenyap bagaikan sebuah kobaran api yang tersiram derasnya air.


Entah sampai kapan Naura akan terus berdiri tegak di depan ruangan itu. Sampai pada akhirnya seseorang datang menangkap basah dirinya.


"Dokter Naura....? Kenapa berdiri di sini?" tanya Bayu terheran akan tingkah Naura.


"Dokter Bayu sendiri sedang apa di sini?" Naura balik bertanya.


"Saya ada urusan dengan Dokter Julian." jawab Bayu.


"Apakah pribadi? Atau..."


"Oh tidak - tidak. Urusan pekerjaan." Bayu menyela cepat.


"Wow, to the wow! Terima kasih, Tuhan. Kau telah mengirimkan aku seorang penyelamat." batin Naura berteriak senang.


"Bagaimana kalau kita masuk bersama - sama saja, Dokter Bayu. Karena saya juga ada urusan dengan Dokter Julian." ajak Naura dengan keberanian yang kembali memeluk dirinya.


Bayu mencengkam tuas pintu, lalu menekan dan menggerakkannya. Daun pintu itu langsung terdorong dan menampakkan pemilik ruangan yang terfokus dengan kehadiran Bayu dan juga Naura.


"Kalian mau apa kesini? Mau pamer kedekatan kalian seperti gosip yang sudah beredar?" tanya Julian menuduh kejam.


"Hei Julian! Bukan begitu, kami-" ucapan Bayu terpotong karena Julian menyela cepat.


"Dan kau Dokter Naura! Sudah aku katakan, bukan? Untuk tidak membuat skandal apapun yang akan mencoreng nama baikku sebagai dokter pembimbingmu! Baru beberapa hari saja kau berada di rumah sakit ini, tapi tingkah murahan mu itu sudah terlihat dengan jelas."


Tuduhan kejam Julian menghujam keras tepat mengenai sasarannya. Seketika hati Naura terasa perih seperti luka sayatan yang baru dengan daging menganga dengan mengeluarkan darah segar.


"Hel, Julian! Apa - apaan kau ini? Jaga ucapanmu ya, Dokter Julian!" Bayu menegur Julian yang begitu tajam memiftnah Naura.


"Aku itu mengatakan hal yang benar, Bayu? Apa kau mau tahu? Kemarin malam dia baru saja menyatakan rasa sukanya padaku. Lalu sekarang, dia juga menyatakan rasa sukanya padamu? Hati - hati, Dokter Bayu! Perempuan ini tak sepolos yang kita pikirkan."


Tubuh Naura yang masih berada di dalam rangkulan Bayu pun bergetar setelah mendengar kembali fitnah kejam dari Julian yang menusuk - nusuk hati dan jantungnya. Mengoyak - ngoyak begitu keji tanpa perasaan.


Kedua mata Naura panas. Seketika air mata yang membanjiri kedua mata tumpah membasahi pipinya.


"S-s-saya permisi." suara parau Naura tersendat - sendat dengan getar yang mengiringi keluar dari mulutnya.

__ADS_1


Naura melepaskan diri dari rangkulan Bayu dan langsung berlari pergi dari ruangan Julian. Perempuan cantik itu, menyembunyikan diri yang hancur dan menangis. Naura benci jika seseorang melihat dirinya yang lemah dengan air mata yang keluar bebas dari mata indahnya.


...***...


Alvaro masih terbaring lemah di atas ranjang tidur dengan wajah yang memucat. Kepala yang masih terasa berat dan pusing mendapatkan pijatan lembut dari Marsha.



Sudah satu Minggu, Alvaro merasakan pusing dan mual setiap terbangun di pagi hari. Lebih tepatnya, saat lelaki tampan itu menyadari aroma parfum yang digunakan Bastian begitu mengusik hidungannya. Dan sudah tiga hari juga Alvaro tak masuk ke kantor di karenakan diri yang tak sanggup untuk memeras kecerdasan otaknya.


Kondisi lemahnya Alvaro, membuat Marsha dirundung rasa bersalah. Apalagi orang - orang di sekitar mereka mengatakan jika Alvaro sedang mengalami ngidam karena Marsha tengah mengandung calon anak kedua mereka.


Harusnya Marsha yang mengalami masa - masa umum seorang perempuan hamil. Harusnya Marsha yang merasakan kesakitan Alvaro saat ini. Perempuan cantik itu beranggapan demikian di karenakan tak masuk akal rasanya jika sang suami harus mengalaminya.



"Al, kita kerumah sakit saja ya? Sudah satu Minggu kau terus seperti ini, sayang?" Marsha berakhir membujuk paksa Alvaro yang dari kemarin bersikeras tak mau pergi kemanapun.


"No!" Alvaro masih keras kepala.


"Jangan seperti ini. Aku jadi merasa bersalah padamu, sayang." ucap Marsha lemah dengan diri yang merasa frustasi untuk membujuk Alvaro pergi kerumah sakit.


"Mungkin ini timbal balik dari kehamilan pertamamu. Jika sewaktu mengandung Miracle kau yang mengalami morning sicknees seperti ini dan aku yang setiap malam selalu menyerangmu di ranjang. Kini gantian aku yang mengalami morning sicknees. Tapi, kau tidak menyerangku dan itu tak seru rasanya."


Marsha terperangah mendengar ucapan dari Alvaro yang bisa - bisanya masih saja mengeluarkan hal - hal yang sensual. Sejenak Marsha terhenyak sampai - sampai tak bisa langsung membalas perkataan dari Alvaro.


...*******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.


__ADS_2