
Tatapan Dilan tak kalah tajam dari tatapan Kevin, tatapan Dilan di penuhi dengan amarah.
Bukh
Satu pukulan mendarat di wajah tampan Kevin, membuat sudut bibirnya robek dan mengeluarkan darah segar.
"Apa yang Kamu lakukan bren*sek" bentak Kevin dengan tatapan menyala-nyala penuh emosi.
Bukh
Kevin membalas pukulan Dilan tepat sasaran, dan kini mereka satu sama.
Dilan senyum sinis dan menarik kerah baju Kevin. "Apa yang Kamu lakukan pada Elice hah? apa Kamu ingin membunuhnya perlahan-lahan?" rahang Dilan mengeras menatap Kevin dengan tatapan permusuhan.
Kevin menghempaskan tangan Dilan. "Apapun yang Aku lakukan padanya, itu tidak ada hubungannya denganmu, Aku adalah Suaminya, jadi Kamu tidak punya hak untuk melarangku atau mencampuri urusanku dengannya." Kevin mendorong tubuh Dilan dengan sangat keras, untungnya Dilan bisa mempertahankan keseimbangannya dan tidak terjatuh. "Satu lagi namanya Anin bukan Elice ingat itu" Kevin sangat emosi saat Dilan melayangkan pukulannya dan sok mengerti dengan wanitanya, Kevin tidak akan terima ada Pria lain yang memperhatikan wanitanya selain dirinya.
"Shit" umpat Dilan. "Suami macam apa yang bahkan tidak tahu penyakit Istrinya dan malah membuat penyakit Istrinya kambuh." Dilan menatap nyalang pada Kevin, sementara Kevin tak bergeming dan mencerna kata-kata Dilan.
"Penyakit?" batin Kevin.
"Elice itu butuh perhatian dan juga kasih sayang dari orang-orang terdekatnya, tapi apa yang Kamu lakukan hah? Kamu bahkan menekannya dan membuatnya stres" bentak Dilan, namun lagi-lagi Kevin tak bergeming. "Apa Kamu tahu? selama dua tahun lamanya, Elice mengidap penyakit bipolar karena trauma di masa lalunya. Kau mungkin mengangap Elice baik-baik saja, karena melihatnya selalu cerita, namun Kamu tidak tahu bahwa jika Elice tertekan sifatnya akan berubah drastis dari bahagia menjadi sedih, dan sebaliknya. Dan bisa saja Dia membahayakan dirinya. Aku tidak tahu apa yang Kamu lakukan pada Elice, tapi itu membuatnya sters dan hampir kehilangan kendali malam ini." setelah mengatakan itu, Dilan berlalu pergi.
Ya Dilan sebenarnya ingin memberitahu penyakit Anin pada Kevin dengan cara baik-baik, namun saat melihat Anin begitu stres Dilan begitu Emosi dan kehilangan kendali. Dilan sama sekali tidak pernah membenci Kevin, karena Dilan tahu, semua ini terjadi bukan kesalahan Kevin. Karena sebelum menjemput Anin, Dilan sudah mengetahui semua kesalahpahaman Anin dan Kevin dari anak buahnya. Namun Dilan diam saja, dan menunggu Kevin menjelaskan sendiri pada Anin. Dilan juga ingin Kevin mengetahui sifat ular Anna yang pura-pura baik padanya.
Tubuh Kevin ambruk begitu saja di balik pintu setelah menutup pintu kamarnya, sekali lagi, kenyataan pahit harus Ia terima.
"Mengapa Kamu tidak pernah memberitahuku sayang? apa Kamu segitu tidak percayanya padaku?" Kevin mengusap wajahnya dengan kasar.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka Kamu semenderita itu, Aku tidak menyangka Kamu mengidap penyakit bipolar karena trauma di masa lalu" tak terasa air mata Kevin mengalir begitu saja membasahai pipinya.
Hati Kevin begitu sakit mengetahui kenyataan bahwa wanitanya begitu menderita, dan sekali lagi Ia menyalahkan dirinya.
"Apa karena itu Kamu menjauhiku dan tidak ingin pulang bersamaku?" lirih Kevin.
Kevin bangkit dari duduknya dan melangkahkan kakinya mendekati ranjang, merebahkan tubuhnya, untuk mengistirahatkan tubuh dan fikiranya. Tubuhnya sangat lelah, namun matanya tidak bisa di ajak kerjasama, waktu sudah menunjukkan jam 1 dini hari namun Kevin masih terjaga.
Kevin meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas, mencari nama seseorang untuk di hubungi tanpa memperdulikan waktu yang bisa saja menganggu seseorang.
"Si*l, kenapa Ans tidak menjawab panggilanku?" gerutu Kevin masih menghubungin Ans berulang kali. Panggilan ke lima Kevin barulah di angkat oleh Ans.
"Kira-kira dong kalu mau menghubungi seseorang, lihat sudah jam berapa?" gerutu Ans. Bagaimana tidak, tidur nyenyaknya di ganggu oleh bosnya.
"Ans carikan Aku cara bagaimana seseorang bisa menangani seseorang yang mengidap penyakit bipolar!" perintah Kevin tanpa memperdulikan gerutuan Ans.
"Astaga bro, hanya karena itu Kamu menelfonku, Kamu kan bisa cari sendiri di internet" Ans benar-benar di buat kesal oleh Kevin, hanya untuk mencari informasi seperti itu saja harus Dia yang melakukannya.
"Baiklah-baiklah Tuan Kevin yang terhormat, Aku akan mencarinya besok jadi tunggulah" Ans kembali menarik selimutnya hendak untuk tidur, namun segera di urungkan saat teringat sesuatu. "Kenapa Aku harus mencari tahu cara menangani orang yang mengalami penyakit bipolar? apa jangan-jangan Kamu........."
"Cukup Ans, cukup" teriak Kevin di seberang telfon membuat Ans menjauhkann ponselnya dari telinganya jika tidak, gendang telinganya akan pecah.
"Aku sudah menemukan keberadaan Anin, namun sesuatu terjadi." jelas Kevin namun tidak menyebutkan bahwa Anin sakit, Ia tidak ingin seseorang mengetahui penyakit Istrinya dan menatap Anin dengan tatapan kasihan Ia tidak suka itu.
"Oh Kamu sudah menemukan Anin" ucap Ans santai. "Apa? Kamu sudah menemukan Anin? serius?" teriak Ans saat menyadari perkataan Kevin. "Lalu bagaimana......"
Brak.
Ans memutuskan sambungan telfonnya saat mendengar suara pintu di dorong begitu keras. Ans mengembangkan senyumnya saat melihat wanita yang di cintainya berlari masuk ke kamarnya dengan penampilan yang acak-acakan khas bangun tidur, dan Ans sudah terbiasa dengan itu setiap pagi.
__ADS_1
"Apa Kamu segitu merindukanku? sehingga Kamu melewati batas yang Kamu buat sendiri sayang? kenapa tidak menelfonku? dan Aku saja yang melewati garis batasnya." goda Ans. padahal Ans tahu betul kenapa Tari sampai melewati batas.
Ya, setelah Ans melamar Tari, namun Tari menolaknya dengan alasan akan menunggu Anin. Saat itulah Tari membuat batasan, bahwa salah satu dari mereka tidak boleh melewati pintu kamar lawan jenisnya, walau sepenting apapun itu. Tari takut akan terjadi apa-apa, pasalnya Ans beberapa kali mengajaknya menikah, dan Ans adalah laki-laki normal, dan itu membuat Tari sedikit waspada.
"Katakan padaku, apa yang Aku dengar barusan semuanya benar?" Tari berkacak pinggang di samping ranjang Ans.
"Iya sayang, Tuan Kevin sendiri yang memberitahuku"
"Benarkah?" Tari meloncat kegirangan pasalnya Ia sangat bahagia mendegar sahabatnya sudah di temukan keberadaanya, dan tanpa sadar Tari memeluk Ans yang masih duduk bersandar di atas ranjang.
"Sayang apa yang Kamu lakukan? apa Kamu sedang mengodaku?" ucap Ans, yang berusaha tetap tenang walau sesuatu terasa sesak di bawah sana. Ans sebisa mungkin mengontrol hati dan pikirannya, agar tidak traveling kemana-mana. Ans tidak ingin merusak wanitanya.
Tari yang tersadar akan perbuatannya segera menjauhkan tubuhnya dari pangkuan Ans, dan berlari keluar kamar karena sangat malu, mukanya jangan di tanya lagi sudah sagat merah.
"Dasar mesum" terik Tari sebelum menghilang di balik pintu.
Ans menghela nafas kasar. "Sabar-sabar, menunggulah sebentar lagi" ucap Ans pada dirinya sendiri dan melanjutkan tidurnya.
-
-
-
-
-
TBC
__ADS_1
Jangan lupa dukung Author dengan memberikan Like, komen, Vote, dan jangan lupa menambahkan sebagai cerita favorit kalian, agar mendapatkan notifikasi setiap up.