
Suasana itu remang - remang dan minim akan cahaya bohlam yang memang sengaja di atur sedemikian rupa untuk menciptakan suasana yang syahdu nan romantis di dalam presidential suite room itu.
Lantainya telah bertabur kelopak mawar merah yang mengeluarkan aroma tenang nan memabukkan. Semakin menguarkan suasana romantis bagi sepasang insan yang saling adu pandang.
"Kau suka?" tanya Alvaro memastikan.
"Sangat suka. Rasanya seperti honeymoon kedua!" Marsha tertawa kecil.
"Mau minum wine?" Alvaro menawarkan lalu beranjak mendekati meja untuk meraih botol wine yang disediakan.
"Aku sedang tidak bisa." Marsha menolak tegas.
"Kenapa? Kau pernah meminumnya. Satu gelas, bagaimana?" Alvaro memaksa di karenakan diri yang tidak mengetahui maksud hati Marsha.
"Satu gelas pun aku rasa tidak boleh." Marsha kembali menolak.
"It's oke! Aku saja yang menikmati sendirian." Alvaro mengalah tak mau lagi memaksa Marsha.
"Aku menolaknya bukan tanpa sebab, sayang. Itu karena kemarin aku mengecek dan aku harap kau melihat hasilnya." Marsha langsung menyodorkan benda yang sejak tadi ia genggam.
Di tangannya, Alvaro jelas - jelas melihat sebuah benda tak asing berbentuk panjang dengan di tengah - tengah menunjukkan sebuah keterangan.
Alvaro langsung bergegas menyalahkan bohlam lampu untuk menerangi ruangan dari kamar hotel tempat mereka menginap malam ini. Lelaki itu ingin melihat secara jelas benda yang Marsha serahkan kepadanya.
Dugaan Alvaro tepat. Sebuah testpack berada di genggaman jemarinya. Sebuah benda menunjukkan hasil tanda positif yang mampu merubah suasana hati Alvaro.
Ada senyar penuh kegembiraan di hati Alvaro yang terhantar sempurna hingga menggetarkan tubuh gagahnya. Alvaro lemas. Bingung untuk bereaksi seperti apa.
Ingin berteriak tapi takut memekakkan telinga Marsha. Ingin berloncat - loncat tapi takut di ejek kekanak-kanakan. Alvaro berkahir bersujud di atas lantai sembari melontarkan rasa syukurnya akan kebahagiaan tak terkira yang sang pencipta berikan.
"Baby... ini.... ini...." Alvaro tak sanggup melanjutkan kata-kata di karenakan rasa haru penuh kebahagiaan yang menguasai diri.
"Bisakah kau meluangkan waktu untuk menemani aku untuk menemui Dokter Keira?" tanya Marsha dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
"Bisa. Sangat bisa! Besok pagi kita akan menemui Keira dan menyaksikan sendiri adiknya Miracle berada di rahimmu." Alvaro langsung mengiyakan permintaan istri tercintanya. "Kenapa tidak memberitahuku? Kenapa baru sekarang kau memberitahuku, sayang?" sambung Alvaro yang sedikit merasa kecewa.
"Kemarin aku ingin memberitahumu. Tapi, karena sikapmu yang menyebalkan di tambah lagi karena kemarin malam kau pergi, aku jadi marah dan menyembunyikannya sementara waktu." Marsha memasang wajah yang masam, setelah puas mengeluarkan unek-unek di hati yang terpendam.
"Jadi? Karena ini kau marah dan ngambek tidak jelas padaku?" Alvaro mengerutkan dahi.
"Iya!" Marsha meluapkan kekesalannya dengan memukul dada Alvaro. "Kau itu sangat menyebalkan dan tak peka. Aku benci!" Sambungnya bersungut kesal.
"Maafkan aku, Baby." Alvaro menarik Marsha kedalam pelukannya. "Aku balas kesalahanku kemarin dengan malam ini. Malam ini kau akan begitu aku manjakan, sayang."
"Benarkah?" tanya Marsha antusias.
"Kau mau apa?" sahut Alvaro cepat.
"Aku tidak mau apa - apa. Malam ini aku mau di peluk oleh suamiku tercinta ini." pinta Marsha manja.
"Lebih dari itu pun aku sanggup. Tapi tidak untuk malam ini. Besok kita akan tanya pada Keira apakah kita bisa melakukannya atau tidak." keputusan akhir dari Alvaro yang tidak berpihak pada nafsu.
"Apakah kau senang?" pertanyaan implusif Marsha yang membuat hati Alvaro tertawa.
"Aku harus memberitahukan kabar bahagia ini kepada Papa dan Bunda. Lalu memanas - memanasi Saga jika aku itu lebih jago dan lebih dulu unggul dari dirinya." lanjut Alvaro dengan penuh percaya diri.
...***...
Naura terhenyak dalam lamunannya. Tatapannya lurus dan kosong dengan tangan menopang dagu.
Dalam benak, Naura tidak henti - hentinya menyesali kesalahan yang telah di perbuat kepada Julian. Jalanan takdir yang malang bagaikan pil pahit yang harus di telan bulat - bulat. Realita yang tidak begitu sesuai dengan ekspektasi.
Di Kota S, Naura sudah terbiasa menelan segala pil pahit hingga mengharuskan perempuan cantik itu menginjak kaki di Kota B. Dengan berangan - angan bisa menelan manis sebuah permen yang melenyapkan pereda rasa pahit di lidah yang sudah lama tercecap di sana.
Namun, naas. Semangat Naura mulai mengendur ketika kepribadian introvetnya berimbas pada masa depannya di kota B. Terkhusus pada rumah sakit swasta yang menjadi tempatnya untuk membuktikan kemampuan diri.
Belum lagi jika mengingat sikap konyol Naura saat berada di Apartemen milik Julian karena di pengaruhi oleh Alkohol. Dengan murahnya Naura langsung memeluk Julian dan ikut membasahi tubuhnya secara bersamaan di bawah guyuran shower. Di tambah lagi, saat terbangun mendapati diri tak mengenakan pakaian sehelai benang pun.
__ADS_1
Naura yang lari dari Apartemen milik Julian terpaksa mencuri kemeja milik Julian tanpa meminta ijin terlebih dulu, saat lelaki tampan itu sedang membersihkan diri di dalam kamar mandi.
Hancur sudah semua rencana yang sudah tersusun rapi di otak Naura. Kali kedua perempuan cantik itu menginjakkan kakinya di Kota B, Naura malah berakhir bermalam dengan lelaki yang kini menjadi dokter pembimbingnya.
"Dokter! Dokter! Kenapa bengong aja?" tanya Luna partner perawat yang membuyarkan lamunan Naura.
"Usiamu berapa?" Naura menatap Luna sekilas dengan wajahnya yang terlihat putus asa.
"Saya? Saya sudah berusia 24 tahun, Dokter. Kenapa Dokter Naura?" tanya Luna heran.
"Apa kau sudah lama bekerja di rumah sakit ini?" tanya Naura lebih lanjut dengan raut wajah yang sama.
"Saya sudah bekerja selama dua tahun, di rumah sakit ini, Dokter." Luna menjawab polos dengan penuh kejujuran.
"Dua tahun? Dua tahun kau bilang baru?" Naura seolah tak percaya.
"Iya. Karena di sini, banyak yang masa kerjanya lebih lama dari saya. Memangnya kenapa Dokter Naura?" tanya Luna yang begitu penasaran.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin melihat gambaranku selama enam bulan kedepan dari dirimu seperti apa nantinya. Sepertinya kau itu begitu betah bekerja di rumah sakit ini." Naura yang sudah lemas menyandarkan tubuhnya pada kursi penyandar.
...**********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.