Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Perjuangan


__ADS_3

"Sayang Kamu baik-baik saja kan?" Kevin membimbing Anin untuk bangun. pasalnya Anin terjatuh karena tidak sengaja menginjak kerikil dan membuat high heels yang diapakainya patah.


"Aku tidak apa-apa" Anin menepis tangan Kevin. Anin tidak menyangka akan bertemu dengan mantan suaminya di Beijing, ada rasa bahagia menghinggapi hatinya, namun di sisi lain, Ia belum bisa memaafkan Kevin.


"Kita ke dokter ya, takutnya kaki Kamu bengkak atau terkilir" Kevin tidak tega melihat Anin meringis kesakitan.


"Tidak perlu" ucap Anin ketus.


"Kalau begitu Aku akan mengantarmu pulang" Kevin mengembangkan senyumnya, dan berusaha membujuk Anin.


"Tidak usah repot-repot Aku bisa sendiri" Anin melangkahkan kakinya meninggalkan Kevin walau jalannya tertatih-tatih karena kesakitan. Anin belum siap bertemu dengan Kevin.


Jujur Aku sangat bahagia bisa melihat Pria yang yang Aku rindukan selama tiga tahun lamanya, ingin rasanya Aku sesegera berlari dan memeluknya, namun itu semua hanya khayalan semata. Aku tahu diri, Aku bukan siapa-siapa Kevin lagi Aku hanya masalalunya, dan mungkin Dia sudah bahagia dengan Anna, itulah sebabnya Aku bersikap ketus padanya. Aku tidak ingin Dia mengetahui perasaanku yang sebenarnya, seberapa keraspun Aku membencinya, itu tidak akan mampu menghilangkan namanya di dalam hatiku.


"Sayang tunggu" panggil Kevin dan segera mengendong tubuh Anin ala bridal style menuju mobilnya, Kevin tidak ingin wanitanya tersiksa.


"Apa yang Kamu lakukan Kevin, turunkan Aku, Aku malu, lihatlah banyak orang yang memperhatikan Kita" protes Anin, namun Kevin tidak mendegarkannya sama sekali.


Kevin mendudukkan tubuh Anin dengan lembut di kursi mobil samping kemudi, lalu Dia juga ikut naik, dan melajukan mobilnya meninggalkan taman Beihai Park.


"Apa Kamu tidak ingin bertanya sesuatu padaku?" Kevin memecah keheningan dan sesekali melirik wanita yang sangat Ia cintai. "Apa Kamu tidak penasaran bagaiman Aku menjalani hidupku selama tiga tahun belakangan ini?" tanya Kevin lagi.


"Aku tidak penasaran sama sekali dengan kehidupanmu" ucap Anin acuh dan memalingkan wajahnya keluar jendela, jantungnya berpacu dengan hebat untuk saat ini, dan Ia ingin cepat-cepat pergi menjauh dari Kevin.


"Bohong Aku bohong jika bilang tidak penasaran dengan kehidupanmu? ingin sekali Aku bertanya apa kabarmu dengan Anna? apa kalian hidup bahagia" batin Anin.


"Tapi Aku penasaran bagaimana Kamu menjalani hari-harimu tanpaku? tapi di lihat dari penampilan dan juga perubahanmu, sepertinya Kamu hidup bahagia tanpaku" ucap Kevin dengan nada sendu, Kevin merasa sedih jika apa yang Ia pikirkan benar adanya, Anin hidup bahagia tanpanya dan tidak pernah memikirkannya.


"Kalau sudah tahu kenapa bertanya lagi" ucap Anin masih dengan nada ketus. walau itu adalah kebohongan terbesar yang pernah Ia ucapkan. sedetikpun Ia tidak perna melewatkan untuk tidak memikirkan Kevin, sampai-sampai Dilan yang menemaninya selama tiga tahun tidak bisa mengantikan posisi Pria di sampingnya itu.


"Syukurlah" ucap Kevin, walau hatinya bagai di remas-remas mendapati kenyataanya, bahkan sekarang Ia sedang tidak percaya diri, Ia takut wanita yang berada di sampingnya sudah bahagia dengan Pria lain.

__ADS_1


Kevin menghentikan mobilnya tepat di parkiran gedung apartemen sederhana, sesuai pentunjuk GPS yang di beritahukan Anin padanya.


Kevin buru-buru turun dan membukakan pintu untuk Anin. "Apa kakimu masih sakit?" tanya Kevin ingin memastikan.


"Kakiku tidak sakit lagi, pergilah" kilah Anin, nyatanya kakinya masih sangatlah sakit, namun Ia tidak ingin Kevin mengantarkannya ke apartemen, Ia tidak mau terjadi kesalahpahaman antara Anna dan juga Kevin.


Bukannya pergi, Kevin terus mengekori Anin, seperti Anak ayam yang terus menempel pada induknya. Kevin yang melihat Anin masih kesakitan, kembali mengendong tubuh Anin tanpa memperdulikan orang-orang sekitarnya, toh tidak ada yang mengenalinya.


"Turunkan Aku Kevin" pinta Anin walau Ia merasa bahagia.


"Diam dan nikmati saja wajah tampanku ini, Kau pasti sangat merindukannya" Kevin menguatkan tekadnya untuk merebut kembali hati sang pujaan hati, toh tidak ada salahnya jika mengoda istri sendiri.


"Pede baget" Anin cemberut.


"Lihatlah? Kamu beruntung siang ini, karena Lift sedang ada perbaikan, jadi Kamu bisa sepuasnya memandangi wajah tampanku ini" goda Kevin lagi, Ia benar-benar bersyukur Lift sedang dalam masa perbaikan, dan itu menguntungkan dirinya, dengan begitu Anin akan lama berada di pelukannya jika Ia lewat tangga walau itu mungkin melelahkan.


"Kita lihat saja nanti, Aku ingin tahu bagaimana kekuatan Pria pede ini" ejek Anin, tanpa sadar menimpali perkataan Kevin, padahal niatnya ingin bersikap dingjn pada Kevin. "Ayo jalan ! kamarku ada di lantai 7" tantang Anin, Ia tahu Kevin tidak akan sanggup dan lebih memilih menurunkannya.


"Siapa takut." Kevin mulai melangkahkan kakinya menapaki anak tangga satu persatu, Ia ingin membuktikan pada Anin, bahwa Ia tidak main-main, dan seperti itu juga cintanya yang tidak pernah main-main pada Anin.


"Kenapa senyum-senyum? apa Kamu tergoda dengan ketampananku?" goda Kevin walau nafasya sudah tidak beraturan karena sudah lelah, namun mereka baru sampai di lantai 5.


"Ais dasar Pria narsis" ejek Anin. "Mas..." tanpa sadar Anin memanggil Kevin dengan sebutan mas dan juga melingkarkan tanganya semakin erat pada leher Kevin. Bagaimana tidak, Ia takut terjatuh saat Kevin memperbaiki posisinya.


Hati Kevin bagai tersiram air dingin terasa sejuk, mendegar wanitanya kembali memanggilnya dengan sebutan mas, apa lagi saat Anin mempererat pelukannya pada lehernya.


"Kenapa jantung mas Kevin berdetak sangat kencang, sama seperti jantungku yang tidak karuan ini?" batin Anin


Tangan Anin refleks menyentuh dada bidang Kevin, ingin merasakan lebih dalam detak jantung Kevin.


"Kondosikin tanganmu, jika tidak mau hal-hal aneh terjadi" Anin menyembunyikan wajahnya karena malu tertangkap basah.

__ADS_1


"Ah sial kenapa Aku menyentuhnya, dasar tangan nakal" batin Anin.


"No berapa kamarmu?" tanya Kevin setelah sampai di lantai 7


"Di ujung sana, no 311" tunjuk Anin pada kamar di ujung lorong.


Kevin menurunkan tubuh Anin dengan hati-hati di sofa ruang tengah apartemen Anin. Apartemen sederhana namun terlihat elegan karena tata cara peletakan barang-barangnya begitu menarik, belum lagi dinding yang di hiasi beberapa lukisan pemandangan alam yang asri.


Kevin berjongkok di depan Anin, menyentuh kaki Anin dengan lembut dan.


Srek


"Akh..." teriak Anin refleks menjambak rambut Kevin sehingga rambut yang terlihat rapi itu berantakan karena ulahnya. Bagaimana tidak, Kevin mengusut kaki Anin yang keseleo.


"Bagaiamana masih sakit Sayang?" Kevin mendongak, dan tidak memperdulikan rambutnya yang berantakan akibat ulah Anin.


"Sudah mendingan, kenapa tidak dari tadi coba pas ditaman" gerutu Anin, "Apa coba maksudnya?" batin Anin.


"Pulanglah, Istrimu pasti menunggumu" ucap Anin.


"Aku.......


-


-


-


-


-

__ADS_1


TBC


Jangan lupa dukung Author dengan memberikan Like, komen, Vote, dan jangan lupa menambahkan sebagai cerita favorit kalian, agar mendapatkan notifikasi setiap up.


__ADS_2