
"Aku pulang" ucap Kevin mengembangkan senyumnya lalu mekangkahkan kakinya ke meja makan dimana semua keluarganya sedang bersenda gurau.
Anin berhenti tertawa saat melihat Suaminya berjalan kearahnya dengan senyuman yang begitu manis, Anin bangkit dari duduknya dan berlalu pergi, di ikuti dengan yang lainnya.
"Kenapa kalian pergi? mana makan malamku?" Kevin mengernyitkan keningnya sehingga kedua alisnya berkaitan, tidak mengerti dengan perilaku keluarganya.
"Itu ada semangkuk sup diatas meja, makanlah sendiri" ucap Oma Jelita dan berlalu pergi menyisakan Kevin sendiri.
"Apa ini hanya sup?" geurut Kevin, tapi mau tidak mau Ia harus memakannya karena sudah sangat lapar.
Setelah siap dengan sarapannya Kevin melangkahkan kakinya dangan gontai memasuki kamarnya, sembari mengenggam dan menempelkan benda pipih ketelinganya.
"Kamu tahu Ans? sekarang bukan lagi Anin yang menghindariku, tapi Ia juga berhasil menghasut keluargaku agar mengucilkanku?" curhat Kevin mondar-mandir di dalam kamar.
"Ha...haha..Aku tidak menyangkan seorang Tuan Kevin yang biasanya mengabaikan orang lain, sekarang malah di abaikan oleh keluarganya sendiri" Bukannya membela temannya Ans malah mengejeknya membuat Kevin semakin Kesal.
"Ans Aku ingin........" Kevin menghentikan perkatannya saat mendengar pintu kamar terbuka. "Aku tutup telfonnya" tut, Kevin memutuskan sambungan telfonnya, dan buru-buru mendudukkan tubuhnya disofa, mengambil buku bacaan yang ada di atas meja dan membacanya.
Anin yang baru saja masuk kedalam kamar segera menghampiri Kevin yang sedang duduk santai atau lebih tepatnya berusaha duduk santai memengang sebuah buku.
"Mas Kevin" panggil Anin yang hanya dijawab sebuah gumam oleh suaminya.
"Emmm" gumam Kevin walaupun Ia sedang salah tingkah.
"Mas Kevin" ulang Anin.
"Apa?" kini Kevin membuka suara dan menoleh kearah Anin.
"Itu bukuku, Aku ingin membacanya" ucap Anin dan berhasil membuat Kevin semakin salah tingkah, apa lagi saat mengetahui judul buku tersebut.
"Ah sial, bagaimana bisa Aku segugup ini, dan malah mengambil buku tentang wanita melahirkan," batin Kevin.
"Apapun yang ada dikamar ini, mau itu milikmu atau milikki itu sama saja, dan milik kita bersama" ucap Kevin tanpa sadar.
"Oh ya? tapi Aku tidak ingin milik ku dimiliki orang lain" ucap Anin tepat mengenai sasaran.
"Glek" Kevin menelan salivanya dengan kasar, kata-kata Anin barusan seperti jarum yang menghantam hatinya, namun ada rasa bahagia yang juga menjalar disisi lainnya berharap Anin cemburu.
__ADS_1
"Aku ingin membaca buku ini" Anin mengambil buku ditangan Kevin lalu berjalan ketempat tidur mengambil bantal dan melangkahkan kakinya hendak keluar kamar.
"Apa kegiatanmu besok?"
"Eum besok Aku akan pergi bersama Oma ke mall untuk membelikan hadiah untuk jack"
"Jack? oh iya itu pasti kolega penting Oma dan Aku juga mengenalnya" Kevin sok tahu.
Anin menahan tawanya agar tidak meledak melihat tingkah Suaminya, "Jack itu bukan kolega Oma tapi Anaknya kak Rara" ucap Anin menahan tawanya.
"Kamu mau kemana? bawa-bawa bantal segala?" tanya Kevin mengalihkan pembicaraan karena sangat malu hingga kini pipinya memerah seperti tomat.
"Aku akan tidur dikamar Oma mas"
"Kenapa? Apa Kamu mengadu pada Oma?"
"Tidak Aku hanya mengatakan pada Oma bahwa mas Kevin bau" setelah mengatakan itu Anin berlari keluar kamar menuju kamar Oma jelita.
"Bau?" Kevin mencium seluruh tubunya yang bisa ia cium dan tidak ada bau apa-apa. "Aku tidak bau, malahan Aku sangat harum" puji Kevin pada dirirnya sendiri. "Ya sudah, sepertinya Aku akan tidur nyenyak malam ini karena tidur dikasur" ucap Kevin melompat dan mendaratkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Oma apa ini tidak keterlaluan? bagaimana jika mas Kevin marah?" tanya Anin yang berada di dalam kamar Oma Jelita.
"Kevin harus diberikan pelajaran, biar Dia tahu bahwa tidak semua yang di milikinya akan selalu ada disisinya termasuk perhatian dan kasih sayang mu" jelas Oma Jelita.
"........." Anin mengangukkan kepalanya tanda mengerti.
****
"Kamu mau kemana? pagi-pagi sudah rapi ?" tanya Kevin menyelidik, berdiri dibelakang Anin yang sedang sibuk memoles wajahnya dengan bedak tipis-tipis.
"Aku kan sudah bilang tadi malam, akan pergi ke mal bersama Oma" jawab Anin masih sibuk dengan ritual kecantikannya. ya Anin akhir-akhir ini hobi menghias diri mungkin karena hormon kehamilannya.
"Eum" Kevin menganguk-anggukan kepalanya tanda mengerti.
"Aku tahu kenapa Kamu bersikap seperti ini,"
"Maksudnya?"
__ADS_1
"Karena hormon kehamilanmu, membuatmu seperti sekarang, mudah berubah sifat dalam sekejap" jelas Kevin.
"Kenapa malah Dia bersikap seperti itu dan menghakimiku, padahal Dia yang sering berubah-ubah sikap, baiklah Aku akan bersikap seperti apa yang Ia pikirkan" batin Anin.
"Ya karena hormon kehamilanku, Aku akhir-akhir ini sering marah-marah tidak jelas" teriak Anin tepat didepan Kevin membuat Kevin diam membeku melihat perubahan sikap Anin.
"Akh" Anin memegangi perutnya karena pergerakan baby yang ada didalam perutnya
Kevin melangkahkan kakinya saat melihat Istrinya meringis, mendaratkan lututnya ke lantai menumpu berat tubuhnya, mengelus perut Anin yang mulai membuncit dengan usia kandungnya berjalan lima bulan.
"Lihatlah, bahkan baby Kita marah melihat Ibunya bersikap kasar dan juga tidak sopan pada pada ayahnya" goda Kevin masih fokus mengelus-elus perut Anin.
"Seandainya Kamu mencintaiku, mungkin saat ini Aku adalah wanita paling bahagia. Hei Anin apa ya Kau pikirkan? jangan pernah berharap lebih, Dia memperlakukanmu seperti itu karena baby yang ada didalam kandunganmu, bukan karena Dia mencintaimu" batin Anin bermonolok.
"Hey Kamu kenapa melamun, bukankah Kamu akan pergi?" tanya Kevin membuyarkan lamunan Anin.
Dengan memperlihatkan ekspresi kesalnya, Anin melangkahkan kakinya masuk keruang ganti dan menutup pintunya sedikit kencang, lalu bersandar dibelakang daun pintu, mengatur nafas dan juga hatinya. jika seperti ini terus Aku mungkin tidak bisa melanjutkan sandiwara yang telah disusun Oma.
"Yah Dia ngambek, padahal Aku ingin meberikannya baju yang telah Aku beli kemarin" ucap Kevin dengan nada bicara sengaja dikeraskan agar Anin mendengarnya.
Dan betul saja, Anin membuka pintu ruang ganti baju lalu mengulurkan tangannya keluar tanpa memperlihatkan wajahnya, dengan menahan tawa yang hampir meledak Kevin memberika paperbeg pada Anin.
"Cepatlah ganti baju, Aku akan menemani mu belanja hari ini, Oma tidak bisa menemanimu karena ada urusan." ucap Kevin yang masih setia berdiri didepan pintu ruangan ganti.
Oma Jelita tidak jadi pergi bukan karena ada urusan penting, melainkan Kevin yang memohon agar Ia sendiri yang mengantar Istrinya belanja.
Kevin melangkahkan kakinya menuju balkon kamar dan menghubungi seseorang.
"Kosongkan jadwalku hari ini !" perintah Kevin pada sekretaris Ans.
"Tapi Tuan, jadwal hari ini sangat padat dan....."
"Aku bilang kosongkan jadwalku hari ini !" ulang Kevin, dan memutuskan sambungan telfonnya secara sepihak.
-
-
__ADS_1
-
TBC