
Marsha yang selalu menjadi saksi tidak akurnya Alvaro dan Keira hanya bisa meringis senyuman ketika keduanya saling menyerang dengan kata - kata pedas nan tajam satu sama lain. Yang satu memamerkan kekuasaan dan kekayaan yang di miliki. Sementara yang satu memiliki keberanian yang tak gentar membalas setiap kata - kata penyerangan.
"Kau...."
"Ah, sayang!" Marsha menginterupsi. "Tadi janjinya apa? Enggak ada keributan seperti ini, kan?" ucap Marsha yang meringis senyuman terpaksa.
"Tapi dia yang memulai dan bukannya aku, Baby." ucap Alvaro yang tidak mau di salahkan.
"Please sayang, demi anak kita." Marsha membujuk dengan wajah yang memelas.
"Hemmm!" Deheman singkat dari Alvaro yang menandakan dia mau menurut.
"Maaf ya Dokter Keira. Maafkan suamiku."
"Aku sudah terbiasa, Marsha. Kami memang ditakdirkan untuk tidak akur seperti ini. By the way, selamat atas kehamilan kedua kalian. Sepertinya kalian berdua benar-benar kejar setoran?"
"Makanya kau itu cepat menikah! Aku saja sudah mau dua. Kau malah belum ada sama sekali dan baru akan menikah." mulut Alvaro kembali memperkeruh suasana di ruangan Keira.
"Sayang!" Geram Marsha dengan menatap tajam. "Mulutmu mau aku cubit atau mau aku taburin bubuk cabai?" ancam Marsha sambil meringis senyuman.
"Biarkan saja, Marsha. Beruntung telingaku ini sudah kebal! Jadi, aku sudah terbiasa." ucap Keira yang mulai memaklumi.
"Maaf ya Dokter Keira. Saya jadi tidak enak." kata Marsha yang merasa bersalah.
"Ayo naik ke ranjang, Marsha! Kita lihat anak kalian. Aku selalu berdoa agar sifat anakmu nanti tidak menuruni sikap menyebalkan Papanya, ya?" Dokter Keira yang sudah hilang kesabaran kembali menyindir Alvaro.
...***...
Bara dengan sengaja menghampiri Kiran di lokasi pemotretan. Model cantik itu masih bersikeras untuk menyanggupi pemotretan dari brand kosmetik terkenal dunia saat detik-detik persiapan pernikahannya. Keputusan yang tidak bisa Kiran urungkan di karenakan hati yang menginginkan.
Ruang tunggu khusus itu steril dari orang - orang yang tidak berkepentingan. Menyisahkan kedua insan yang sebentar lagi akan resmi menjadi pasangan suami istri.
Bara menarik kursi lalu menempatkannya ke tempat yang tepat di sebelah Kiran yang masih membersihkan riasan di wajahnya. Entah apa yang membuat Bara tertarik dengan gerakan Kiran, hingga lelaki tampan itu berakhir ikut membersihkan wajah perempuan kesayangannya itu dengan sebuah kapas yang terbasahi oleh toner.
"Ini pemotretan terakhir minggu ini, kan?" tanya Bara dengan mata yang fokus pada gerakan tangannya.
"Iya! Kenapa?" Kiran mengulas senyuman, begitu tersentuh akan posesifnya Bara.
__ADS_1
"Kenapa kau bilang?" tangan Bara berhenti bergerak. Tatapan kedua mata menajam pada Kiran. "Pernikahan kita hanya menghitung hari dan kau masih ngotot ingin bekerja!" Sambung Bara memarahi.
"Siapa yang menyuruhmu menentukan tanggal pernikahan begitu cepat? Kau sudah tahu kontrakku sebagai ambassador. Jadi, aku tak bisa cancel schedule pemotretan begitu saja. Itu namanya aku tak profesional, Bar." Kiran tak mau di salahkan.
"Tidak bisakah kau berhenti dari dunia modeling ini? Aku benci mata lelaki yang melihat - lihat kecantikan dari istriku?"
"Bar...." rayu Kiran dengan menangkup wajah tampan Bara. "Kau tahu, betapa besar mimpiku di dunia yang sudah lama aku geluti ini. Haruskah lagi dan lagi kau meminta aku untuk berhenti?"
"Aku bisa dan sangat mampu menfakahimu tanpa harus kau bekerja seperti ini. Apapun yang kau minta bisa aku kabulkan, sayang." bujuk Bara dengan menyombongkan diri.
"Aku tahu tanpa harus kau beritahu. Saat menikah nanti pun, aku akan menomor satukan kau dan juga anak - anak kita. Jadi, please?" pinta Kiran dengan frustasi.
"Oke! Tapi, kau janji kau tak akan mengenakan pakaian yang terbuka pada setiap pemotretanmu!" Pinta Bara memaksa.
"Tubuhku adalah milikmu, sayang. Semuanya adalah milikmu, sayang." ucap Kiran yang menggoda Bara setelah mendapatkan lampu hijau dari lelaki tercintanya.
"Benarkah?" Bara menarik kursi untuk semakin dekat dengan Kiran. "Bisakah aku memintanya di sini?" tanya Bara yang mengedipkan matanya.
"Apa - apaan kau Bar!" Tangan Kiran menyilang di depan dada sebagai pertahanan diri.
"Malam nanti aku bisa menginap di Apartemenmu?" kembali Bara yang mendesak.
"Kalau begitu.... kiss me, please?" Bara mengerucutkan bibirnya.
"Bar! Nanti ada yang masuk dan melihat kita." Kiran menolak dengan menahan senyuman.
"Tidak ada yang berani masuk kesini." kata Bara yang semakin memajukan bibirnya. "Ayolah, sayang. Aku rindu."
Kiran menurut. Hatinya juga rindu pada Bara terlebih bibirnya yang menggoda. Dengan sekali gerakan singkat yang terburu - buru, Kiran mengindahkan permintaan Bara. Bibirnya berhasil mendarat di bibir Bara.
"Sudah, oke! Only one!"
"Once more, di sini!" Bara menepuk pipinya.
"Bar! Kau ini menyebalkan! Tapi, aku cinta gimana?" ucap Kiran dengan nada yang manja.
"Jangan tunjukkan kemanjaanmu seperti itu. Aku semakin tidak bisa menahannya nanti." Bara semakin frustasi menahan diri dari perempuan kesayangannya.
__ADS_1
...***...
Marsha dan Alvaro kembali menduduki kursi di hadapan Dokter Keira. Keduanya mengulas senyum bahagia dengan perasaan yang terselimuti kehangatan yang sulit di gambarkan.
Sebuah janin yang berusia lima minggu yang sedang tumbuh dan berkembang di rahim Marsha. Calon anak kedua yang mampu menghantarkan senyar kebahagiaan di hati Alvaro dan juga perempuan kesayangannya.
Genggaman tangan pun Alvaro urung lepaskan dari tangan Marsha. Lelaki tampan itu malah tak malu atau pun ragu membelai kepala Marsha dengan penuh sayang di depan Keira.
"Aku jadi paham, alasan kau begitu mencintai lelaki ini, Marsha." Keira mengomentari sisi lembut Alvaro yang tak banyak orang ketahui. Sisi lembut yang berbanding jauh dengan ketajaman lidahnya.
"Cover sungguh tak sama dengan hatinya, Dokter. Awalanya aku sempat meragu. Tapi orang, tak sayang jika belum berkenalan." jawab Marsha dengan bijak membela suami tercintanya.
"Kau cemburu?" Alvaro menyambar cepat.
"Ya! Aku iri dan cemburu." Keira mengakui, lalu perhatiannya terpecahkan pada sebuah undangan yang ada di laci meja kerja. "Ini undangan pernikahanku minggu depan. Aku resmi mengundangmu, Marsha. Kau boleh mengajak siapapun, asal jangan mengajak suamimu yang menyebalkan ini. Aku hanya mengundang orang-orang tertentu saja," cibir Kiera dengan menyodorkan undangan pernikahannya.
"Selamat Dokter Keira." ucap Marsha tulus. "Tapi, jika tidak dengan suamiku, dengan siapa lagi aku harus datang?" Marsha terkekeh.
"Kau mengundang Julian juga?" tanya Alvaro ingin memastikan.
"Tentu saja aku mengundangnya. Dia teman baikku!" Kali ini Keira mengulas senyuman ramah.
"Kau benar - benar sudah move on?" ucap Alvaro yang menghentak kesadaran Keira.
"Jika aku sudah memutuskan untuk menikah, sudah pasti aku tidak akan kembali ke masa lalu. Julian adalah teman baikku dan selamanya akan menjadi teman baikku." Keira membantah tegas pertanyaan Alvaro yang menjebak.
...*********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.