
"Selamatkan Amanda," ucap Rea.
"Apa! Rea kamu sudah lama menunggu kelahiran bayi itu," ucap Raka.
"Aku tidak bisa mengorbankan nyawa orang lain demi keinginan aku," ucap Rea pada Raka.
Rea menatap Dokter Sonya yang masih berdiri didepan pintu ruangan itu.
"Dokter, selamatkan, Amanda cepatlah Dokter sebelum semuanya terlambat," ucap Rea pada Dokter Sonya.
Dokter Sonya mengangguk pelan. "Kami akan berusaha semaksimal mungkin," ucap Dokter Sonya lalu bergegas masuk ke dalam ruangan itu.
Rea menangis deras sampai bahunya terguncang-guncang berapa dia sangat menginginkan bayi itu tapi ternyata takdir berkata lain.
Raka merangkul Rea dari belakang lalu mengajaknya duduk di kursi ruang tunggu!
"Sabar ya, sayang. Jangan menangis yakinlah kalau kita akan menemukan kebahagiaan dilain waktu," ucap Raka.
Rea duduk di kursi itu dengan menyandarkan kepalanya di bahu Raka, air matanya tak bisa berhenti mengalir meski dirinya sudah mencoba untuk menghentikannya.
"Tolong jangan menangis, Rea jangan menangis," ucap Raka dengan nada lirih.
Semakin Raka meminta, Rea untuk berhenti menangis semakin deras air mata yang keluar dari pelupuk Rea.
__ADS_1
Bagaimana tidak, sekian lama Rea menantikan kehadiran sosok seorang bayi di dalam rumah tangga mereka, akhirnya dia memiliki harapan lewat Amanda namun ternyata harapannya hilang begitu saja saat bayi itu akan lahir ke dunia.
Santi berjalan dengan tergesa-gesa menghampiri Rea dan Raka yang sedang duduk di depan sebuah ruangan!
"Raka, apa persalinan nya sudah selesai?" tanya Santi.
Sebelumnya Raka memang menelpon Mamanya, dia mengabarkan kalau Amanda akan melahirkan dan sudah berada di rumah sakit.
Raka menatap Santi dengan matanya yang masih mengeluarkan air mata.
"Belum, Ma. Amanda masih ditangani oleh Dokter," sahut Raka.
"Raka, kamu ..." Santi menatap Raka lalu menatap Rea.
"Tidak, Ma ternyata Amanda menderita penyakit keras yang membuat Dokter hanya bisa menyelamatkan salah satu dari mereka dan Rea memilih Amanda, itu artinya bayinya tidak bisa selamat," jelas Raka.
"Astaghfirullah, kalian jangan sedih ya lebih baik sekarang kita berdoa agar Tuhan menyelamatkan Amanda dan juga bayinya," ucap Santi.
Santi terkejut dan ingin menangis mendengar perkataan Raka, namun dirinya harus terlihat kuat didepan Rea dan Raka, saat itu hanya ada dirinya yang harus berusaha menenangkan Rea tentunya juga Raka.
Dalam pikiran Santi saat itu, Raka lah yang paling tersakiti selain bayi itu anak kandungnya bayi itu juga anak pertamanya dengan istri keduanya itu.
Rea tak dapat mengucapkan apa pun, dia terus menangis didalam hatinya dia terus berdoa agar Amanda dan bayinya bisa diselamatkan.
__ADS_1
...****************...
Di kantor.
"Pak Raka kemana ya, kok gak ada di ruangannya?" tanya Jhon yang baru tiba di kantor.
"Pak Raka pulang, Jhon," sahut Arya.
"Pulang?" Jhon menatap Arya dengan tatapan penuh pertanyaan.
"Iya. Sebelum pulang dia mengatakan padaku, katanya kamu simpan sendiri saja dulu berkas mu."
"Kenapa pulang padahal tadi sebelum aku berangkat dia sangat menantikan ini," ucap Jhon sembari mengangkat berkas yang ia pegang setinggi dadanya.
"Entahlah, tadi dia pulang dengan berlari-lari."
"Ya sudahlah mungkin Pak Raka rindu pada Bu Rea."
"Mungkin. Aku balik kerja lagi ya ,Jhon."
Arya melempar senyuman ke arah Jhon lalu berjalan meninggalkan Jhon di tempat itu!
Bersambung
__ADS_1