
"Tapi, Kak...."
"Orang tua kami akan lebih marah. Jika kami para anak-anaknya tidak jujur pada mereka, Naura." Alvaro menyela cepat ucapan Naura "Dan kau sudah menjadi bagian dari kami. Jadi, sudah menjadi tanggung jawabku juga untuk melindungimu karena kau bagian dari adik sepupuku."
Alvaro membuang tatapannya setelah berucap tulus pada Naura. Lelaki bertubuh tinggi yang mengenakan stelan casual itu menutupi sisi lembut yang tidak sengaja terpamerkan.
Marsha, perempuan kesayangan Alvaro itu tahu betul perangai suami tercintanya. Di bibirnya kini terulas senyuman yang tipis reaksi dari sikap Alvaro yang malu - malu menutupi sisi lembutnya.
"Ayo kita pulang, Marsha." ucap Alvaro yang mengajak istri tercintanya di karenakan diri yang sudah tidak nyaman.
"Kak Alvaro." Naura memanggil lembut Alvaro. "Terima kasih! Terima kasih karena sudah peduli padaku, Kak." ucap Naura tulus dengan mengulas senyuman yang manis.
Sedangkan Alvaro berdehem. Dia berusaha untuk mengontrol sisi tegasnya di hadapan para saudaranya. "It's oke."
Berlin yang berada di dekat Naura pun semakin mendekatkan diri pada Naura lalu tangannya pun terangkat untuk menutupi bibirnya yang hendak berkata-kata.
"Kak Alvaro memang seperti itu. Wajahnya sangar tapi hatinya dangdut." bisik Berlin langsung mengundang tawa bagi Naura.
***
Handphone yang ada di dalam laci kini sudah tergenggam oleh tangan Julian yang baru saja di sterilkan ole hand sanitizer yang berada di atas meja. Rasa lelah yang menggerogoti tubuh seketika di lepaskan dengan merilekskan tubuh di atas sofa yang empuk.
"Naura sedang apa, ya?" ucap Julian. Ya, beberapa hari ini Julian sedang sibuk hingga tidak sempat untuk menghubunginya." gumam Julian pada dirinya sendiri.
Potret dari Naura yang sedang tersenyum manja menyambut kedua mata dari layar handphone miliknya yang menyala. Potret diri dari Naura yang Julian jepret secara diam-diam menjadi wallpaper utama handphone miliknya.
"Cantik!" Pujinya melirih sambil mengulas senyuman.
__ADS_1
Dan baru saja jemari ingin lincah menari di atas touchscreen, Julian langsung terusik oleh suara ketukan pintu meminta ijin masuk kepada dirinya.
"Dokter, maaf menggangu. Tanda vital beliau menurun, Dokter!" Ucap Perawat lelaki memberitahu dengan panik. Dan segera mungkin Julian langsung bangkit dari sofa empuk yang baru beberapa menit merengkuh kenyamanannya. Handphone yang di genggam di tangannya pun di biarkan menganggur dan di taruh di dalam laci oleh pemiliknya yang bergegas pergi untuk menolong nyawa seseorang.
Niatan hati ingin melepas rindu dengan mengisi kedua telinga akan cerianya suara Naura pun pupus, tak di kabulkan akan situasi mendesak yang tidak bisa di ajak untuk berkompromi.
***
Kaos putih polos yang di padukan dengan celana jeans berwarna light blue telah Naura kenakan. Setelan santai nan sederhana di pilih oleh Naura yang sedang menatap handphone di genggaman tangannya.
Perempuan cantik yang beberapa hari dalam perawatan rumah sakit itu telah di perbolehkan untuk pulang atas ijin dari dokter yang menangani.
Harusnya Naura senang dan seharusnya Naura bahagia. Bukan wajahnya yang terlihat murung penuh dengan kesedihan yang menyelimuti wajah cantiknya. Dan harusnya Naura menyambut kabar terbebasnya dia dari dalam kamar perawatannya yang terjaga ketatnya.
Hening dan murungnya Naura mendapatkan perhatian dari kedua mata Berlin yang mengawasi sejak tadi. Putri bungsu keluarga Alvarendra yang berparas cantik itu melangkahkan kedua kaki untuk menghampiri Naura yang berdiri di dekat jendela.
"Apa Kak Julian belum menelepon juga, Kak?" tanya Berlin membuyarkan lamunan Naura tiba - tiba.
"Aku punya tiga Kakak dengan karakter yang berbeda-beda." Berlin mulai bercerita akan ketiga Kakaknya. "Kak Alvaro dan Kak Clara itu wataknya hampir sama dengan Papa, keras dan mulutnya tajam kaya silet. Tapi, bertanggung jawab dan lembut pada orang-orang yang di sayangi. Kalau Kak Bastian itu wataknya hampir 100 persen menuruni Bundaku," jelas Berlin menjelaskan watak Kakaknya.
"Lalu bagaimana dengan karakter sepupumu Julian dan Saga?" tanya Naura ingin tahu pendapat dari Berlin.
"Hmmm. Kalau Kak Julian itu orangnya cenderung pendiam. Tapi, banyak action. Apapun yang hatinya inginkan wajib terpenuhi. Orangnya gigih dan setia pada satu hal. Kalau untuk Kak Saga bisa di bilang sebagai Kakak terbijak yang selalu berada di tengah-tengah kami. Seumur hidup aku belum pernah di semprot oleh kemarahannya Kak Saga."
"Lembutnya Dokter Saga memang sudah bisa terbaca dengan mudah." Naura pun hanyut dalam cerita Berlin.
"Benar Kak! Dan yang selalu memarahiku itu Kak Alvaro dan Kak Julian. Terkadang Kak Saga dan Kak Clara juga ikut memarahiku! Alasannya karena aku masih kecillah! Kan, aku jadi bete, Kak!" Berlin berakhir bersungut kesal.
__ADS_1
Naura pun akhirnya tertawa. Kemurungannya berganti ceria akan hati yang terhibur oleh tingkah Berlin.
"Itu karena mereka semua menyayangimu, Berlin. Mereka pasti tidak ingin sesuatu hal yang buruk terjadi padamu." ucap Naura.
"Entahlah! Tapi aku bete selalu di perlakukan protektif seperti itu. Cuma Kak Bastian yang selalu mengerti aku." Berlin mengulas senyum akan benak terbayang sosok humble saudara kembarnya sekaligus Kakaknya itu, "Cuma sayang, Kak Bastian selalu berpergian keluar kota."
"Keluarga kalian sangat hebat!" Naura memuji kagum.
"Itu karena support dari Bunda dan Papa, Kak. Diantara kami berempat hanya Kak Alvaro yang mendapatkan didikan keras dari Papa. Itu karena Kak Clara dan Kak Bastian menolak untuk menjadi penerus Papa. Mereka bilang dunia Papa itu enggak asyik!"
"Mungkin passion mereka berbeda? Seperti Kakak Sepupumu Julian dan Saga. Aku dengar mereka juga tidak mau mengelola perusahaan dan lebih memilih profesi menjadi dokter. Pada akhirnya urusan perusahaan sudah di serahkan pada Kakak pertamanya Kaylan." Naura menyambar cepat.
"Maybe, tapi seperti itulah kami." jawab Berlin. "Walaupun memiliki karakter yang berbeda-beda tapi saling melindungi dan saling menyayangi satu sama lain. Dan duniaku semakin luas karena kehadiran dari para Kakak Ipar yang baik hati. Termasuk Kak Naura juga!" lanjut Berlin yang semakin larut dalam cerita bahagianya.
"Seketika aku jadi iri padamu, Berlin. Karena sedari aku kecil, aku tidak pernah sekalipun mendapatkan kasih sayang dari keluargaku yang utuh." ucap Naura kembali yang di selimuti oleh kesedihan.
"Tapi, sekarang Kak Naura harus merasa bahagia juga. Karena kami juga adalah keluarga Kak Naura." Berlin membantah dengan mengakui status Naura. "Jadi, tak usah sungkan lagi kepada kami, Kak."
*****
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
__ADS_1
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.