Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Kehancuran Kevin


__ADS_3

"Apa yang dokter katakan hah?" Kevin menarik kerah kemeja dokter tersebut. "Selamatkan mereka berdua, lakukan apapun yang dokter bisa untuk menyelamatkan Istri dan anakku" ucap Kevin dengan tubuh bergetar menahan tangisnya.


"Kami akan melakukan yang terbaik Tuan, silahkan tanda tangani ini Tuan" dokter tersebut memberikan berkas yang harus di tanda tangani Kevin untuk mengopersi Istrinya.


Dengan tangan yang bergetar Kevin menandatangani berkas tersebut, dan tubuhnya kembali merosot, tak sanggup melihat Istri yang sangat Ia cintai di ambang kematian, bahkan Ia tidak ikut mendorong brankar Istrinya ke ruang operasi.


Satu jam telah berlalu Kevin berdiri di depan ruang operasi memperhatikan lampu operasi yang tak kunjung mati, pikiran dan hati Kevin tak menentu harap-harap cemas Ia menunggu operasi selesai.


Tiga puluh menit telah berlalu akhirnya lampu ruangan operasi padam, dan itu menandakan operasi telah selesai. Kevin dengan tidak sabar menunggu dokter keluar dari ruangan operasi.


"Bagaimana keadaan Istri dan anak Saya dokter?" tanya Kevin tak sabaran setelah dokter keluar dari ruangan operasi.


"Keadaan Istri Anda baik-baik saja Tuan, tapi" dokter tersebut ragu mengatakan apa yang sedang terjadi di ruang operasi, Ia takut calon ayah yang ada di hadapannya ini akan mengamuk.


"Tapi apa dokter?" suara Kevin mulai naik satu oktaf, pikirannya sudah berkelana kemana-mana, ucapan dokter sebelum operasi terngiang-ngiang di pikirannya, pria yang dulunya sangat berani, kini merasakan sangat amat takut mendengar berita yang akan di sampaikan dokter di hadapannya.


"Maaf kan Kami Tuan, Kami tidak bisa menyelamatkan nyawa Anak Tuan, terjadi benturan keras pada perut nona Anin saat kecelakaan.


"Deg" jantung Kevin seakan berhenti berdetak, Ia sungguh tidak sanggup menghadapi semua cobaan bertubi-tubi yang berdatangan padanya. Anak yang Ia nantikan kelahirannya di dunia ini, meninggalkannya tanpa Ia harus mendegar suara tanggisnya.


"Nona Anin akan segera di pindahkan keruang perawatan Tuan." ucap dokter tersebut menyadarkan Kevin dari lamunannya.


"Tidak mungkin, ini tidak mungkin terjadi, ini semua hanya mimpi, ini semua hanya mimpi" Kevin tanpa malu kembali meneteskan Air matanya.


Ans dan Tari yang baru saja datang segera menghampiri Kevin yang masih menangis di depan ruangan operasi, sementara Ibu Sandra dan Rara menemani Anin di ruang perawatan.


"Apa yang terjadi Tuan?" Ans tidak menyangka Tuannya yang begitu arogan kini terlihat lemah di hadanpannya.

__ADS_1


Kevin bahkan tidak menghiraukan Ans yang ikut duduk di lantai bersamanya, sementara Tari meninggalkan Ans dan juga Kevin setelah mengetahui bahwa Anin telah di bawa keruang perawatan, setelah bertanya pada suster yang kebetulan lewat. Tari juga begitu kecewa pada Kevin setelah mendegar semua berita, tapi tidak dengan Ans Ia percaya Tuannya sangat mencintai Istinya, apa lagi saat melihat Kevin saat ini.


"Tuan" panggil Ans, namun tetap saja Kevin seperti patung diam saja walau air mata tak lagi mengalir di pipinya. "Apa Tuan tidak ingin melihat kondisi nona Anin?" pertanyaan Ans berhasil membuat Kevin tersadar.


Ya Kevin sampai lupa dengan ke adaan Istrinya karena terlalu sedih mendengar anaknya telah tiada.


Kevin bangkit dari duduknya dan melangkahkan kakinya menuju ruang perawatan untuk menemui Istrinya dan dengan setia Ans mengikuti di belakangnya.


Ibu Anin yang baru saja keluar dari ruangan perawatan Anin, berpapasan dengan Kevin di depan pintu. "Ada apa lagi Kamu kesini? apa belum puas Kamu menyakiti Anin hah?" tanya ibu Sandra pada menantunya dengan amarah dan tatapan yang begitu tajam, bahkan Ans saja bergidik geri melihatnya.


Kevin menghiraukan perkataan mertuanya dan menganggapnya angin lalu, dan melanjutkan langkahnya memasuki ruangan perawatan Istrinya, Tari dan Rara yang melihat kedatangan Kevin segera keluar untuk memberikan waktu untuk Kevin bersama Anin, bagaimanapun Anin tetaplah Istri Kevin.


Kevin mendudukkan tubuhnya di kursi samping brankar Anin, mengengam tangan Anin yang begitu dingin. "Sayang maafkan mas ya, maafkan mas yang tidak bisa melindunginmu dan juga Anak Kita, ini semua salah mas, jika saja mas tidak mengubah surat perjanjian itu, mungkin Kamu tidak akan marah dan berakhir seperti ini" Kevin mengecup punggung tangan Istrinya.


"Sayang cepatlah sadar, mas tidak sanggup jika harus melihatmu terbaring lemah seperti ini, lebih baik Kamu memukul mas, tapi jangan menghukum dengan terbaring seperti ini, apa lagi jika harus meninggalkan mas seorang diri, sudah cukup mas kehilangan anak Kita, dan jangan tambah luka dengan Kamu juga akan meninggalkanku." Kevin mencurahkan seluruh isi hatinya, Ia benar-benar tidak sanggup melihat Istrinya seperti ini, apa lagi jika sampai meninggalkannya.


"Ada apa?" tanya Kevin yang kini mulai terasa tenang walau perasaanya masih amburadul seperti penampilannya.


"Mungkin bukan saatnya Saya mengatakan ini, tapi ini sangat penting Tuan." Ans menghela nafas sebelum mengatakan masalah baru untuk Kevin. "Gudang pabrik yang ada di pulau bali kebakaran Tuan, dan menghanguskan semua barang yang akan di kirimkan ke Eropa besok, dan ini harus di tangani secepatnya." ucap Ans hati-hati.


"Bagaimana dengan Direktur" Kevin enggan untuk mengurus perusahaan dan berniat menyerahkannya pada Oma Jelita untuk sementara waktu.


"Direktur pingsan setelah mendengar kabar kecelakaan nona Anin, walau direktur sempat sadar, namun ketika Direktur mendegar kabar dari perusahaan Direktur kembali drop" jelas Ans.


Kevin menghela nafas kasar. "Cobaan apa lagi ini ya Allah" batin Kevin mengusap wajahnya dengan kasar.


"Karena ke adaan nona Anin sudah stabil, sebaiknya Anda membersihkan diri Anda agar kembali segar Tuan, setelah itu Kita ke Bali untuk mengurus masalah ini" Ans sebenarnya kasihan dengan Kevin, namun apa daya dirinya, Ia hanya sekretaris, dan yang dibutuhkan saat ini pemimpin lerusahaan.

__ADS_1


"Baiklah" Kevin bangkit dari duduknya dan tanpa malu mengecup kening Istrinya di depan sekretarinya, Ans hanya senyum melihat perubahan sikap Tuannya.


"Tuan" panggil Ans lagi.


"Ada apa lagi?"


"Anna juga di rawat di rumah sakit, karena tidak sadarkan diri tadi" ucap Ans, ya Kevin hampir saja melupakan keberadaan Anna, yang sempat Ia dorong saat mengejar Anin.


"Cari orang untuk merawatnya, Dia tidak punya keluarga di kota ini" ucap Kevin acuh, Ia benar-benar tidak peduli lagi dengan Anna.


Bagaimana jika Ia tahu kalau Anna adalah penyebab semua ini terjadi? apa Kevin akan memaafkannya? 🤔


"Baik Tuan" Ans segera meninggalkan Kevin dan melaksanakan perintah Kevin, untuk mencarikan seseorang untuk merawat Anna. Sebenarnya Ans malas mengurusi Anna, apa lagi saat Ia tahu bahwa Anna hanya pura-pura lupa ingatan, ya Ans mengetahui kebenaran Itu dari Tari.


-


-


-


-


-


TBC


Maaf ya para readers, kalau Author membuat kalian emosi dan juga sedih di beberapa part sebelumnya dan akan datang. Jangan bosan ya terus ngikutin cerita pasangan Anin dan juga Kevin.

__ADS_1


Terimakasih😊


__ADS_2