Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Dokter Magang


__ADS_3

"Sudah tidak marah?" Alvaro menggoda.


"Aku masih marah!" Sahut Marsha dengan memasang wajah yang masam.


"Baiklah, sekarang istriku mau di berikan apa untuk menghilangkan kemarahan dari suaminya yang tampan ini?" goda Alvaro untuk meluluhkan hati Marsha.


"Hm...." Marsha berpikir sejenak. "Bisakah, saat kau pulang nanti, kau singgah di kedai kopi? Aku sangat ingin Ice cream mochacino dengan whipped cream. Dan jangan lupa belikan juga cheesecake untukku. " pinta Marsha dengan penuh harapan agar bisa di kabulkan.


Dahi Alvaro mengerut. Kedua mata memincing tajam ke arah perempuan cantik kesayangannya itu. Di dalam benak Alvaro lagu - lagi di serang berbagai pertanyaan atas sikap Marsha yang berbeda, dan tidak seperti biasanya.


Marsha yang suka manja, Marsha yang cerewet, Marsha yang suka mengambek, tidak pernah Alvaro temui selama mengenal sosok perempuan kesayangannya itu.


"Kau yakin?" tanya Alvaro memastikan dengan mengulas senyuman yang penuh keragu-raguan.


"Kenapa? Apa aku tidak boleh meminta itu?" Marsha malah balik bertanya.


"Bukan! Bukan seperti itu! Tapi, bukankah kau itu tidak suka makanan yang terlalu manis, Baby. Dan aku tahu itu." Alvaro begitu yakin dengan ucapannya.


"Bukannya aku tidak suka manis. Hanya saja... hanya saja aku sedang mengontrol gula darahku." Marsha terpaksa mengucapkan alasan palsu. "Jadi, kau itu tidak mau membelikannya untukku? Baiklah, jika tidak bisa aku bisa membelinya sendiri."


"Akan aku belikan!" Alvaro menyela cepat. "Kau mau Ice cream dan cheesecake berapa? Satu atau dua?"


"Jika kau mau berbaik hati ingin membelikan untuk orang - orang yang berada di rumah ini, aku akan mengatakan jika suamiku ini adalah lelaki yang tampan dan sangat berbaik hati." Marsha memincing untuk menunjukkan sikap pedulinya kepada para pekerja yang bekerja di kediaman mereka.


"Baiklah! Kalau perlu tokonya juga akan aku belikan. I am rich man!" Ucap Alvaro menyombongkan diri.


Marsha tertawa. Awan mendung yang sejak kemarin menyelimuti, perlahan mulai lenyap dan hilang. Berubah menjadi pelangi dengan langit yang cerah mewarnai.


...***...


Sepasang kaki panjang Julian mengambil langkah yang panjang di karenakan diri yang datang terlambat di pagi hari ini. Salam sapa dari orang - orang yang telah berpapasan dengan dirinya pun hanya di balasnya dengan senyuman yang ramah oleh Dokter tampan itu.

__ADS_1


Kedua kaki terhenti tepat di depan ruangan dengan daun pintunya yang masih tertutup rapat. Tangannya beberapa kali mengetuk, sebagai tanda untuk meminta ijin dari sang pemilik ruangan. Dan sebuah kode yang selalu Julian berikan jika ingin masuk kedalam ruangan dari eksekutif rumah sakit tempatnya menunjukkan keahliannya.


"Welcome back, Dokter Julian." ucap Dokter Bimantara menyambut kedatangan Julian ketika daun pintunya terbuka lebar oleh dorongan tangan Dokter tampan itu.


"Maaf saya terlambat, Dokter Bimantara? Karena pagi hari ini saya ada urusan urgent dan sangat merepotkan." Julian mengungkapkan rasa bersalahnya.


Dokter tampan itu langsung membanting tubuhnya di atas sofa. Ketika uluran tangan Dokter Bimantara mempersilahkan Julian untuk merehatkan tubuhnya.


"It's Okey. Santailah! Aku tidak mau menekan kau lagi. Takut nantinya akan lari dan hilanglah partner terbaikku ini." ucap Dokter Bimantara yang terpaksa harus bermulut manis untuk melunakkan lelaki dingin yang ada di hadapannya.


"To the point saja, Karena saya sudah membaca pesan WhatsApp dari Dokter Bimantara kemarin dan jawabanku masih tetap sama. Aku repot! Aku juga sibuk dan aku juga tidak bisa menjadi dokter pembimbing dari dokter magang yang sudah Dokter Bimantara katakan kemarin." Jawab Julian begitu frontalnya menolak permintaan dari Dokter Bimantara.


"Ayolah, Dokter Julian. Dia adalah anak dari temanku yang ada di Kota S. Temanku sudah mempercayakan anaknya kepadaku. Maka dari itu, ia mengirimkan anak bungsunya kesini. Ada misi tertentu sebenarnya dia mengirimkan anaknya untuk datang ke rumah sakit ini." Dokter Bimantara menjelaskan sedikit kronologi untuk membujuk Dokter Julian.


"Jadi? Kenapa tidak Dokter Bimantara saja yang sangat terhormat ini untuk menjadi Dokter pembimbingnya? Bukankah tadi Dokter bilang jika Ayah dari Dokter magang itu adalah temanmu, kan?"


"Haiissshhh! Manalah mungkin. Aku itu orangnya yang lebih sibuk darimu, Julian! Ayolah! Kau bantu aku kali ini. Dan urusan rumah sakit yang lainnya, biar kau serahkan saja padaku. Karena tugasmu adalah untuk menolong pasien, menolongku dan menolong Dokter manggang itu." Dokter Bimantara tak lelah untuk membujuk Julian dengan nada yang santai.


"Aku sudah memberitahu dia untuk menemuimu langsung di ruanganmu. Terima kasih ya, Julian. Kau itu memang yang terbaik!" Ucapan Dokter Bimantara sambil mengacungkan dua jempol kepada Julian sebagai ucapan terima kasih darinya.


...***...


Hentakkan dari stiletto menggema ke seisi lorong, hingga suaranya yang begitu nyaring dan terdengar sampai kedalam ruangan. Suara hentakkannya mulai melemah ketika sepasang kaki itu tak lagi berlari dan mengambil lagi jalan normal. Langkahnya semakin melemah ketika sang pemilik sedang mencari - cari sebuah ruangan dengan papan nama yang bertuliskan Dr.Julian Mallory Pratama Alvarendra, Sp.B


"Dokter! Dokter! Ahhhh...! Ini dia ruangannya!" Ucap perempuan cantik yang sedang mengenakan kemeja putih polos yang di padukan dengan rok mini jeans tepat di depan pintu Dokter Julian.


"Oke, Naura. Tarik nafas, lalu buang!" Ucap Perempuan cantik yang bernama Alexandra Naura Morris itu yang sedang menenangkan dirinya dengan mengatur pernapasannya. "Semangat Naura! Jangan takut dan hadapi. Semuanya demi memenangkan hati Ayah dan menyingkirkan perempuan iblis itu," ucap Naura yang menyemangati dirinya sendiri.


Pintu pun di ketuk dan suara sahutan dari dalam ruangan terdengar mengijinkan Naura untuk masuk kedalam ruangannya.


Ceklek.

__ADS_1


"Selamat pagi Dokter Ju...Ju...Julian." suara ceria perlahan - lahan menjadi lemah bahkan tersendat - sendat saat kedua mata menatap sosok dokter yang ia sapa itu.


Kedua mata Naura membulat sempurna. Mulut yang tadi menyapa kini sudah tidak mampu lagi untuk tertutup hingga berakhir menganga kecil.


Aliran darah yang mengalir memacu kerja jantung hingga menjadi berkali - kali lebih cepat dari biasanya. Otak cerdas Naura pun sejenak langsung tak bekerja, bingung untuk memerintah. Lidah tak bertulang Naura pun ikut - ikutan kelu. Kedua kaki yang mengenakan stiletto hitam tidak mampu lagi untuk bergerak seolah - olah tertanam dan berakar di bawah lantai.


"Dr. Alexandra Naura Morris, Sp.B, bagaimana keadaan anda? Sudah sadar? Ah, apakah kepala anda masih pusing lagi akibat semalaman mabuk?" tanya Julian yang tanpa ragu dengan tatapan tajam dari duduknya di kursi ruangannya.


Ya! Naura adalah perempuan yang sudah dua kali tak sengaja Julian tabrak saat di bandara. Perempuan yang kemarin malam Julian tolong dari cengkraman lelaki buas yang sudah berkabut dengan nafsu. Perempuan yang kemarin malam yang juga tidur di atas ranjang milik Julian. Perempuan yang kemarin malam mandi bersama dengan Julian dengan tanpa sadarnya. Dan perempuan yang pagi tadi membuat Julian terlambat datang ke rumah sakit.


"Anda....Anda..."


"Ya, saya adalah dokter pembimbing anda, selama enam bulan anda magang di rumah sakit ini. Haruskah saya memperkenalkan diri saya secara resmi?" wajah Julian datar tanpa ekspresi seirama dengan mimik suaranya.


"Habislah aku." gumam Naura pelan, penuh dengan frustasi.


"Ya! Habislah kau di tanganku, Dr. Alexandra Naura Morris!" Geram kekesalan Julian mengingat kembali sikap angkuh dan perbuatan Naura kemarin malam di Apartemen milik Julian.


...********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.


__ADS_2