
Perhatian orang-orang terfokuskan pada sepasang visual sempurna yang saling bergandengan tangan. Lebih tepatnya sang kekasih menggeret paksa perempuan cantik yang ada di belakangnya.
Seakan tidak ada habisnya para pegawai perempuan di rumah sakit itu di buat terkejut oleh Naura. Dokter magang yang belum genap dua Minggu berada di rumah sakit swasta terbesar di kota B itu membuat bibir pegawai perempuan tak berhenti membicarakannya. Tidak hanya itu, para pegawai lelaki itu pun ikut - ikutan membicarakan sosok dokter yang cantik dan memiliki senyuman manis nan maut. Hati mereka tersakiti. Kesempatan untuk mendekat tidak ada lagi.
Jika para pegawai perempuan bergunjing akan sosok Naura yang di tuding telah merebut Julian dari genggaman mereka. Para pegawai lelaki meringis dalam kemalangan nasib yang tak bisa memiliki kesempatan untuk mendekati Naura. Apalah daya nasib yang tak sehebat sosok luar biasa yang menarik lengan Naura.
"Jodoh kita telah di ambil orang," kicauan para pegawai yang hatinya tersakiti dengan harapan sirna yang ada di depan matanya.
Pegawai perempuan dan laki-laki yang ada di rumah sakit hanya bisa menjadi pemuja pada sosok sepasang insan yang sudah terikat kontrak kekasih tanpa di ketahui oleh orang - orang.
"Dimana mobil Dokter Julian?" tanya Naura dengan tatapan celingak-celinguk mengawasi parkiran.
"Pakai ini!" Julian melemparkan jaket kulit miliknya pada Naura.
Sempat terkejut, akhirnya Naura bisa menangkap jaket kulit yang Julian berikan dengan sedikit kasar. Naura memasang wajah yang kesal. Wajahnya tertekuk dengan bibir komat - kamit mencibir Julian.
Ujung bibir Julian tertarik. Bibir merah muda alami yang tak pernah tersentuh gulungan tembakau kering itu menipis, terulas senyuman manis saat hati tergelitik melihat tingkah dari Naura yang menggemaskan.
"Ki- kita... kita naik ini?" Naura terperangah melihat Julian menaiki kuda besi tipe sport yang ada di depan matanya.
"Kenapa?" Julian menyeringai, kedua tangannya sibuk mengenakkan helm di kepala.
"Mana mungkin aku menaiki motor dokter?" keluh Naura.
"Kenapa tidak mungkin?" tanya Dokter Julian ingin tahu.
"Apa Dokter Julian tidak melihat, aku mengenakan rok?" Naura berdiri tegak, sementara kedua tangannya berkacak pinggang.
"Aku sudah pernah bilang, kan? Jangan pernah kenakan rok mini seperti itu lagi!" Julian tidak peduli, bibirnya malah mengulas senyuman yang mengejek dan menjengkelkan.
"Kalau begitu, aku tidak akan ikut!" Naura menolak dengan tegas.
"Itu terserah kamu! Jadi aku tidak perlu membantumu lagi untuk mendapatkan saham 30 persen itu dari tangan Ayahmu." ucap Julian mengancam.
__ADS_1
"Untung saja kau itu sangat tampan! Kalau tidak, sudah aku pastikan aku akan menghajarmu!" Gumam kesal Naura samar - samar.
"Apa kau bilang?" Julian terpancing akan gumaman dari Naura yang tak terdengar oleh kedua telinganya.
"Hah?" Naura tersentak, jiwanya tersadar. "Ini naiknya gimana?" ucap Naura mengalihkan.
"Haruskah aku ajarkan lagi?"
Naura terdiam, Mau tidak mau Naura naik motor milik Julian. Jaket Julian berikan, Naura jadikan sebagai penutup bagi kedua pahanya.
"Pegangan yang erat. Takutnya nanti kamu akan jatuh."
Julian menyeringai, saat gerakan tangan mulai melingkar untuk memeluk tubuhnya. Daripada jatuh dan membuatnya tak nyaman selama menaiki motor, Naura dengan terpaksa memeluk tubuh Dokter Julian yang memiliki harum tubuh yang menenangkan.
...***...
Kediaman hangat dari keluarga Alvarendra itu sedang di sibukkan dengan persiapan pernikahan Kiran. Sang calon perempuan sedang berbincang - bincang hangat dengan para menantu dan putri bungsu keluarga konglomerat itu.
Tiga bayi yang menggemaskan Miracle, Alister dan Arkana sedang bermain-main dengan Kakek - nenek melepas rindu pada generasi penerus yang memiliki paras rupawan dari orang tuanya masing-masing.
"Rileks! Itu wajar terjadi menjelang hari pernikahan." Viona berusaha menenangkannya.
"Ya, kalian melewati masa dimana aku tidak bisa merasakan hal seperti itu." Marsha menyahuti dengan nada iri.
Senyum kecut terulas di wajah Viona dan juga Kiran. Karena mereka sangat tahu, bagaimana jalan cerita kisah asmara Marsha dan Kakak sulung kesayangan mereka.
"Jangan pikirkan masa lalu, Kak. Lihat sekarang! Kak Marsha telah sukses menjadikan laki - laki sombong itu sebagai budak cintanya Kak Marsha." penghibur dari Viona yang membuat hati Marsha tergelitik hingga mengulas senyuman.
"Benar! Sekarang saja lelaki sombong itu merasakan akibatnya, kan? Morning sicknees yang dialami oleh lelaki itu secuil dari karma yang langsung di bayar tunai!" Kiran menimpali.
Marsha tertawa lepas. Sampai - sampai wajahnya di rayapi oleh rona merah akan sesuatu yang begitu menggelitik jiwa dari sekedar komentar kedua saudari Iparnya. Kedua telapak tangannya bahkan menangkup wajahnya sendiri saat dia berusaha untuk menahan tawa.
"Kenapa Kak Marsha tertawa? Yang kami katakan itu benar! Aku juga masih ingat, bagaimana sombongnya laki - laki itu yang mengaku tak cinta pada Kak Marsha. Tapi lihatlah sekarang, tidak bertemu dengan Kak Marsha saja rasanya mau mati. Lagaknya saja bilang padaku dan Saga tak akan mau main hati. Kenyataannya, dari awal pertemuannya sudah jatuh cinta."
__ADS_1
Marsha kini tak mampu menahan tawa di tenggorokan. Begitu lancarnya dan sadarnya Viona mengomentari sikap dari Alvaro yang dulu jual mahal terhadap Marsha.
"Benar! Laki - laki seperti itu, harusnya Kak Marsha berikan pelajaran. Itu baru namanya seru!" Lagi - lagi Kiran menimpali. "Aku masih ingat, bagaimana jaimnya seorang Kak Alvaro saat di ulang tahun Agatha. Dengan sok - Sokan membuat Kak Marsha cemburu, alhasil malah kemakan cemburu sendiri, kan? Aku sudah pernah melihat sendiri bagaimana cemburunya Tuan Muda sombong itu pada Bara!" Sambung Kiran yang begitu menggebu-gebu.
Marsha masih tertawa. "Sudah! Cukup! Cukup..."
"Hah....!" Viona menghela nafas lega. "Beruntung, pangeran hatiku tidak memiliki keangkuhan, kesombongan dan jual mahal seperti Kak Alvaro." ungkap Viona yang merasa puas pada kemanisan kisah cintanya.
"Ekhm! Sudah puas kalian bicaranya?" ucap Alvaro datar dari arah belakang Viona dan Kiran.
Deg.
"Astaga!" Viona terkejut, tubuhnya tersentak dengan mata yang langsung terpejam.
"Habislah aku...." Kiran juga tersentak di detik yang sama. Kedua tangan Kiran langsung menenangkan gemuruh jantung yang tidak berirama.
Marsha langsung menenggelamkan bibirnya dengan kedua telapak tangan. Perempuan cantik itu tak mampu lagi mengeluarkan tawa saat melihat suami tercintanya sedang di selimuti oleh awan yang gelap yang siap mendatangkan badai.
Bahkan Saga yang sedang berdiri di samping Alvaro hanya meringis senyuman santai dengan sepatah kata yang tak keluar. Lelaki tampan bertubuh tinggi itu tak mau membela sikap sang istri dan saudarinya yang sudah menggunjingkan kelakuan Kakak sepupunya.
"Aku enggak ikut - ikutan, Kak. Aku hanya diam saja dari tadi. Dan hanya menjadi pendengar budiman yang baik." ucap Berlin langsung mencari aman dengan membela diri sendiri. " Tanya saja pada Kak Marsha kalau Kak Alvaro masih tidak percaya?" Berlin menunjuk Marsha untuk meyakinkan Kakak sulungnya yang terlihat menakutkan itu.
...********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.