
Kevin yang baru saja sampai dirumah, mendapati Istrinya tengah mencuci piring. Kevin melangkahkan kakinya dengan sangat pelan ke arah dapur tanpa menimbulkan suara.
Kevin memeluk tubuh Istrinya dari belakang, membuat Anin tersentak kaget, saat mendapati lengan kokoh melingkar di perutnya yang buncit.
"Mas Kevin" Ya Anin tahu itu adalah Suaminya hanya dengan mencium aroma tubuhnya.
"Kenapa belum tidur? apa Kamu sedang menungguku?" Kevin mencium tengkuk Istrinya.
"......"Anin mengangukkan kepalanya dan berniat melepaskan lengan kokoh yang masih setia di perutnya.
"Biarkan seperti ini sebentar saja" ucap Kevin meletakkan dagunya di pundak Anin.
Jantung Anin serasa mau copot mendapati perlakuan Suaminya yang menurutnya begitu manja. "Mas geli tahu" protes Anin saat merasakan hidung mancung Suaminya bergerak-gerak di area lehernya.
"Hmmm" gumam Kevin masih menikmati aroma tubuh Istrinya yang menjadi candu baginya.
"Bagaimana keadaan Anna mas?" Anin menahan tangan Kevin yang mulai tak terkendali.
"Keadaannya sudah lebih baik, mungkin Dia sudah bisa pulang, dan Aku menyuruh Ans untuk menjemputnya." jawab Kevin.
"Mas ini di dapur loh" Anin lagi-lagi menghentikan tangan Kevin.
Kevin mendengus kesal mendapatkan teguran dari Istrinya, Ia segera melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuh Anin menghadapnya. "Belakangan ini Aku tidak punya banyak waktu untuk bersamamu" keluh Kevin.
"Kamu kan lagi sibuk mas, belum lagi Kamu harus merawat Anna" jelas Anin menatap netra Suaminya.
"Kalau begitu buatkan Aku makan siang besok, dan temani Aku makan di kantor, dengan begitu Kita bisa menghabiskan waktu bersama" ucap Kevin senyum.
"Mas Kevin mau makan Apa? supaya Aku bisa mempersiapkan bahan-bahannya dulu." Anin melangkahkan kakinya menuju kulkas ingin memeriksa bahan makanan yang tersedia.
Kevin segera menarik Istrinya dan mengendong tubuh Anin ala bridal style, menuju kamar mereka. "Mas"Anin yang kaget segera mengalungkan tangannya di leher Kevin.
"Menu makanan apapun Aku tidak peduli, yang terpenting itu siapa yang membuatnya, dan siapa yang menemaniku makan." Kevin menaiki anak tangga dengan pelan, takut terjatuh dan melukai Istri dan calon Anaknya.
__ADS_1
"Baiklah, Aku akan membawakannya untuk mas Kevin besok" Anin mengecup bibir Kevin sekilas yang entah mendapatkan keberanian dari mana. Setelah itu Ia menyembunyikan wajahnya di dada bidang Suaminya karena sangat malu.
Kevin menyeringai serasa mendapatkan lampu hijau, dengan segera Kevin menutup pintu dengan satu tendangan dan menghempaskan tubuh Anin dengan lembut keranjang. Menghimpit tubuh Istrinya dan memulai aksinya.
Reader bayangin sendiri-sendiri aja ya, apa yang terjadi selanjutnya😁.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dengan langkah malas Tari melangkahkan kakinya menuju ruang perawatan VIP, telinganya benar-benar belum siap mendengar ocehan dan juga cacian yang akan Ia dapatkan dari calon mertuanya.
"Jika bukan karena Ans yang menyuruhku untuk mengantarkan makan siang untuk Ayahnya, mungkin Aku tidak akan menemui calon mertuaku itu dalam waktu dekat, hingga Aku benar-benar siap" gerutu Tari.
Tari menghentikan langkahnya setelah sampai di depan pintu ruang rawat sang calon mertua. Tari menghela nafas kasar merubah ekspresinya yang tadi nya kesal, kini berubah ceria.
Wah Tari benar-benar pandai bersandiwara, Dia lebih tepatnya berprofesi sebagai aktris bukan pengacara😀.
Dengan jantung yang bedegup kencang, Tari membuka pintu ruang rawat dan mengembangkan senyumnya.
"Siang bu, paman" sapa Tari menunduk sopan.
"Tidak bu, kak Ans lagi sibuk" jawab Tari. "Ini Aku bawakan makan siang untuk paman dan ibu" Tari menyodorkan makan siang yang Ia bawa.
"Lihatlah calon mantu Kita itu sangat pengertian" Ibu Ans melirik Suaminya yang masih diam menatap Tari entah tatapan apa.
"Sungguh ini adalah suasan tercanggung yang pernah Aku alami" batin Tari.
"Bagaimana enak kan yah?" tanya Ibu Ans setelah Ayah Ans memakan makanan yang di bawa Tari.
Ayah Ans melirik Tari sebentar. "Enak, rasanya nikmat" puji Ayah Ans mengembangkan senyumnya.
"Tuh kan apa Ibu bilang, Tari itu pinta masak" Ibu Ans senyum.
Tari yang mendapatkan pujian tersebut, menelan salivanya dengan kasar, Ia benar-benar tidak tahu harus menjelaskan dari mana, pasalnya makanan itu Ia beli dari restoran favoritnya bersama Ans.
__ADS_1
"Ibu, bukan Aku yang memasak makanan itu, Aku membelinya" jujur Tari yang takut kebohongannya akan berlarut-larut dan mengakibatkan dirinya repot jika harus bersandiwara.
Tari menundukkan kepalanya saat mendapatkan tatapan dari Ayahnya Ans. "Aku takut jika memasak untuk paman dan ibu, masakan itu akan sia-sia karena harus di buang, jadinya Aku membelinya." Tari mengehela nafas. "Yang paman katakan benar, Aku hanya sibuk bekerja dan tidak pernah memasak, karena bagiku memasak hanya membuang waktu saja karena Aku hidup sendiri, jadi memesan makanan adalah solusi yang terbaik." Tari berkata sejujur-jujurnya.
"Kenapa Kamu bersedih sayang, Ibu tidak marah, malahan Ibu bangga padamu, wanita muda sepertimu yang mampu bertahan hidup di kota sebesar ini dan hidup mandiri, mejadi poin tersendiri dalam dirimu." Ibu Ans mengusap punggung Tari, Ia benar-benar salut pada Tari selain Ia mandiri, Ia juga bisa meluluhkan Hati Ans yang tidak percaya apa itu cinta.
"Bu Aku pamit dulu ya, jam Istirahan hampir habis" Tari mencium punggung tangan Ibu Ans dengan khusuk, dan melangkahkan kakinya keluar ruangan.
"Apa Kamu tidak ingin salim sama Ayah" ucap Ayah Ans yang berhasil menghentikan langkah Tari.
Tari membalikkan tubuhnya dan memandangi tubuh kekar yang masih terbaring di brankar dengan kaki dan tangan kirinya di perban.
Ayah Ans yang melihat keraguan Tari segera melambaikan tangannya, menyuruh Tari untuk mendekat. Tapi memandangi Ibu Ans untuk meminta penjelasan.
Ibu Ans hanya mengangukkan kepalanya dan tersnyum. Dengan ragu Tari melangkahkan kakinya mendekati calon mertuanya dan mencium punggung tangan Ayah Ans dengan khusuk.
Ayah Ans mengelus puncuk kepala Tari, Ayah Ans menerima Tari atas ancaman Ans dan juga wanita yang kini berstatus sebagai Istrinya. Tapi itu kemarin, namun saat ini Ia menerima Tari bukan karena paksaan dari keduanya, melainkan karena kejujuran Tari yang membuatnya luluh.
Ayah Ans benar-banar tidak menyangka bahwa Tari adalah wanita baik-baik, jika dilihat dari cara berpakaian Tari yang menurutnya terlalu terbuka. Dan Ia mendapat pelajaran dari itu semua, bahwa sampul tak selamanya mengambarkan isi nya. Begitupun dengan orang lain yang tidak boleh menilai seseorang dari luarnya saja, sebelum orang itu benar-benar mengenalnya.
"Maafkan kata-kata Ayah kemarin ya, masakan Kamu enak kok, buktinya Ayah memakannya sampai habis setelah Kamu pergi"
"Tidak apa-apa paman"
-
-
-
-
TBC.
__ADS_1
Jangan lupa dukung Author dengan memberikan Like, Komen, dan Vote.