
Di sebuah kafe, seorang wanita tengah menceramahi seorang Istri yang begitu bodoh dan polos.
"Ya ampun Anin, Aku tidak bisa lagi berkata apa-apa" geram Tari saat mengetahui bahwa temannya itu bertemu dengan Anna namun Ia tidak berbuat apa-apa dan malah pergi.
"Ini itu kesempatan yang sangat bagus untuk Kamu"
"Apa maksudmu?" tanya Anin.
"Kamu itu harusnya menggunakan kesempatan ini untuk menunjukkan siapa Kamu sebenarnya di depan Anna, Kamu itu Istri sah Kevin, Jadi Kamu berhak atas dirinya, kenapa Kamu harus takut dan malah mengatakan Kamu perawat yang akan merawat Anna." geram Tari menyesap minumannya sekali tegukan lansung kandas sakin kesalnya pada Anin.
"Aku kan sudah bilang, Aku takut Anna kembali drop dan sembuhnya semakin lama."
"Kamu itu ya" Tari benar-benar geram dengan sikap terlalu baik Anin.
"Sayang sudah, jangan marah-marah terus sama nona Anin, ingat Dia itu sedang hamil" Ans langsung melerai kemarahan Tari.
"Kenapa Kamu ada disini sekretaris Ans?" tanya Anin saat Ans mendudukkan tuhuhnya di samping Tari.
"Tuan Kevin menyuruhku mencari nona, Tuan Kevin takut terjadi apa-apa pada nona jadi Tuan menyuruhku menemani nona seharian ini bersama Tari." jelas Ans.
"Aku tidak apa-apa sekretaris Ans, aku mengerti kok bahwa Anna sedang sakit dan butuh perawat" jawab Anin menyesap minumannya.
"Tuan Kevin tidak mengijinkan Anda menjadi perawat Anna nona" jelas Ans menyampaikan titah sang atasana.
"Kenapa Kamu terus mundur dan membiarkan Kevin dan Anna terus bersama hah? Kamu ingat baik-baik, mereka itu pernah pacaran sebelumnya, jadi besar kemungkinan cinta yang dulunya layu akan kembali mekar jika sering di pupuk." geram Tari sudab seperti cacing kepanasan menghadapi temannya yang sedikit keras kepala itu.
"Jika Kamu terus mundur seperti ini, itu sama saja Kamu terus mendorong Kevin untuk terus bersama Anna" Tari cemberut.
"Tapi Aku......"
"Jangan menyela perkataanku, biarkan Aku bicara" ucap Tari memotong perkataan Anin, Ia tidak ingin lagi mendengar pembelaan Anin ataupun alasan-alasan lain yang akan membuatnya luluh.
"Anin jangan terlalu percaya pada Anna, bagaimana jika Dia hanya pura-pura lupa ingatan hanya untuk memanfaatkan kebaikanmu, untuk merebut Kevin kembali." kini Tari membuat pengandaian, dan Ia berharap Anin akan merubah keputusannya, toh mungkin saja yang di katakannya semuanya benar.
__ADS_1
"Benar apa yang di katakan Tari, bagaimana jika Anna hanya mengelabui Kita" Ans menimpali perkataan Tari yang masuk akal baginya.
"Anna tidak mungkin melakukan itu, Dia wanita yang sangat baik, bahwa Dia pernah menolongku saat di kapal pesiar" lagi-lagi Anin membela Anna di depan Ans dan Tari.
"Anin" bentak Tari yang sudah sanhat geram. "Jujur padaku, apa tujuanmu sebenarnya mendukung Kevin merawat Anna hah? Aku tahu Kamu juga tidak ingin melihat mereka bersama." kini Tari mulai mengintimidasi wanita hamil yang sedang berada di hadapannya itu.
"Ak...Aku takut mas Kevin tambah membenciku jika Aku melarang dan mencampuri urusan pribadinya. Aku takut mas Kevin akan meninggalkanku jika Aku mengekangnya." jebol sudah pertahanan Anin yang sedari tadi menahan Air matanya agar tidak tumpah.
Tari yang melihat temannya menangis segera berpindah tempat dan duduk di sebelah Anin, memeluk temannya untuk menenagkannya, Ia menyesal memarahi temannya itu.
"Tuan Kevin tidak mungkin melakukan itu nona, Tuan sangat mencintai Anda, apa nona tidak menyadari selama ini perlakuan Tuan pada nona?" Ans membela Kevin untuk hal ini, karena memang betul, Kevin saat ini hanya mencintai Anin.
"Saya.........." Ans menghentikan perkataannya saat mendengar ponselnya berdering, di ambilnya ponsel tersebut di dalam saku jasnya, dan menghela nafas kasar saat melihat Id penelfon.
"Siapa sayang" Tari jadi penasaran saat melihat perubahan wajah Ans setelah melihat id penelfon.
Ans memperlihatkan penelfon tersebut" angkat dan kersakan suaranya." perintah Tari.
Ans menekan ikon hijau yang tertera di layar, dan sambunganpun tersambung. "Ans beritahukan pada perawat Anin, buatkan Aku makan malam" perintah Anna di seberang telfon. Ya Annalah yang menelfon Ans.
"Kamu serius akan melayani Anna? ingat Kamu tiu sedang hamil Anin" Tari kembali bersuara.
"Hanya memasak, itu tidak Akan menyulitkanku" jawab Anin senyum.
"Aku haru pergi" Anin bangkit dari duduknya.
"Mau kemana?" tanya Tari menyelidik.
"Sebentar malam kan Aku harus membuat makanan untuk Anna, jadi Aku harus membeli bahan-bahannya dulu.
"Aku ikut," Tari juga ikut berdiri.
Karena hari sudah sore mereka bertiga mampir ke sepermarket membeli bahan-bahan makanan yang akan di butuhkan Anin untuk makan malam nanti.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ans mengajak Anin ke apartemen Kevin, karena di sanalah Anna dan Kevin tinggal dulu sebelum kehadiran Anin di dalam hidup Kevin.
"Saya akan memberikan kartu akses untuk keluar masuk di apartemen ini nona" Ans membuka pintu apartemen yang begitu sunyi.
"Sebelum kehadiran nona di kehidupan Tuan Kevin, Tuan Kevin tinggal di sini, Dia tidak pernah pulang kerumah utama, dan seperti yang Anda lihat dan rasakan Tuan Kevin seperti apartemen ini, dingin dan arogan" jelas Ans pada Anin yang masih memperhatikan setiap sudut ruangan tersebut, ini baru pertama kalinya Ia menginjakka kakinya di apartemen Suaminya.
"Sayang sini deh" panggil Tari pada Ans saat melihat foto Anna, kini wajahnya sudah memucat dan gelisah.
Ans segera menghampiri Tari yang sedang berdiri di sebuah meja sudut ruangan dan memperhatikan sesuatu. "Ada apa sayang?" tanya Ans setelah sampai di samping Tari.
"Apa benar yang ada di foto itu adalah Anna mantan pacar Kevin?" Tari kemabali memastikan foto tersebut.
"Iya itu adalah Anna, kenapa?" tanya Ans yang melihat gelagat berbeda dari pacarnya itu. "Cantik bukan, lihatlah kakinya yang panjang sungguh menggoda" Ans sengaja mengoda Tari untuk mencairkan suasana saat melihat wajah tegang pacarnya, namun Tari bahkan menganggap perkataan Ans barusan bagai angin lalu.
"Ada apa kalian berdiri di sini? apa yang kalian lihat" Anin juga mendekat saat melihat Ans dan Tari memandangi sesuatu. "Kalian pulanglah, Aku tidak apa-apa kok di sini sendiri." ucap Anin yang tidak enak sudah merepotkan Tari dan juga Ans yang tentunya banyak pekerjaan.
"Kalau begitu Kami pamit dulu ya dah" Tari menarik Ans dan buru-buru keluar dari apartemen Kevin, dan sepanjang perjalan Tari tidak banyak bicara.
Tari hanya sesekali menjawab pertanyaan Ans itupun sangat singkat bagi Ans, karena yang Ans tahu pacarnya adalah wanita cerewet.
-
-
-
-
TBC
Maaf Author nga up kemarin so banyak pekerjaan, dan insya Allah kalau nga ada halangan, Authoor akan up 3/4 bab hari ini.
__ADS_1
Jangan lupa dukung Author dengan memberikan like, komen, dan vote.