Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Calon Mertua


__ADS_3

"Sayang kenapa Aku ada disini? bukannya Kita ada di kapal pesiar?" Anna memegangi kepalanya yang sedikit pusing.


"Kamu ada di rumah sakit, dan tentang kapal pesiar itu, itu tujuh bulan yang lalu." Kevin mengerutkan keningnya, benar-benar tidak mengerti dengan pertanyaan Anna, dan kenapa Dia memanggilnya sayang? padahal Kevin sudah memberitahu semuanya.


"Aku akan memanggil dokter" Kevin memencet bel sebelah brankar untuk memanggil dokter, dan tidak butuh waktu lama dokterpun datang keruangan perawatan Anna.


Kevin mundur mempersilahkan dokter tersebut memeriksa keadaan Anna. "Tidak ada luka yang serius, hanya benturan di kepala yang mengakibatkan nona Anna melupakan kejadian beberapa bulan terakhir, mungkin dalam waktu dekat nona Anna bisa mengingatnya" jelas dokter yang menangani Anna.


"Mengingat kondisi nona Anna sekarang, saya sarankan untuk menjaga emosi dan juga pikiran nona Anna agar tida steres." lanjut dokter tersebut.


"Kalau begitu saya pamit dulu Tuan" dokter tersebut berlalu pergi setelah menjelaskan semuanya pada Kevin.


Kevin benar-benar tidak mengerti dengan keadaan yang baru saja Ia lewati. Setelah susah payah Ia menjelaskan semuanya pada Anna membuatnya lega, namun kelegaan itu hanya bertahan sebentar saja, kini wanita yang terbaring di hadapannya melupakan semua kejadian kemarin saat dirinya memutuskan hubungan.


Kevin mengusap wajahnya kasar, benar-benar frustasi untuk saat ini, Ia sangat kasihan pada Anna jika harus menjelaskannya sekarang, namun jika Ia menunda waktu lagi mungkin urusannya akan menjadi semakin rumit dan itu akan menyakiti hati Anin.


"Kamu kenapa terlihat frustasi?" tanya Anna yang sedari tadi memperhatikan Kevin.


"Belakangan ini Aku banyak masalah" ucap Kevin datar. "Istirahatlah !" perintah Kevin dan berjalan ke sofa lalu merebahkan dirinya karena sangat mengatuk, dan tidak butuh waktu lama baginya untuk terlelap.


Anna memandangi Kevin yang sedikit jauh dari jangkauannya, "Mengapa Kevin begitu dingin padaku?" batin Anna.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kevin pulang kerumah saat pagi tiba, sesampainya di rumah Ia mendapati Istrinnya tengan menyiapkan sarapan, Kevin tidak menghampiri Anin. Kevin langsung berjalan menuju kamarnya untuk membersihkan dirinya, dan kembali ke lantai bawah menemui Istrinya.


"Hem, masak apa sayang?" ucap Kevin yang memperhatikan Anin dari meja makan.


"Mas Kevin udah pulang?" Anin mengembangkan senyumnya sembari membawa menu sarapan untuk mereka berdua, karena yang lainnya sudah sibuk dengan urusan masing-masing. "Ini Aku membuat telur orak-arik mas" Anin meletakkan menu makanan tersebut dan ikut duduk di samping Suaminya.


"Bagaimana keadaan Anna mas?" tanya Anin dan sekali-kali menyuapkan makan kedalam mulutnya.


"Kepalanya terbentur saat terjadi kecelakaan, dan sekarang Ia lupa ingatan, bahkan Ia melupakan kejadian kemarin, dan masih menganggap bahwa Aku masih kekasihnya" jujur Kevin yang masih serius dengan kegiatan makannya.

__ADS_1


"Tapi Aku kasihan padanya, Dia sama sekali tidak mempunyai keluarga ataupun teman dekat, selama ini hanya Aku yang menemaninya, dan sekarang kondisinya sangat lemah, bahkan kata Dokter Kita tidak bisa membuatnya steres." keluh Kevin.


"Jadi bagaimana rencana mas Kevin?" tanya Anin.


"Aku tidak tahu, yang Aku inginkan adalah memberitahu Anna yang sebenarnya" tekad Kevin.


"Jangan mas, jika Mas Kevin memberitahunya sekarang Anna aka kembali drop" cegah Anin, yang tidak ingin Anna terluka lebih dalam.


"Aku harus bagaimana? jika Aku tidak memberitahunya, Dia akan selalu menganggapku kekasihnya, dan Aku tidak mau itu terjadi karena itu akan menyakitimu" jujur Kevin.


"Mas Kevin percaya padaku, Aku tidak akan tersakiti, rawatlah Anna sampai Ia sembuh, setelah itu Kamu bisa mengatakannya, Aku akan membantumu merawatnya, bagaimanapun Anna sakit karena Kita."


"Aku memang tidak salah memilihmu, dan Aku bangga memiliki Istri yang sangat baik dan pengertian padamu"puji Kevin.


"Aku kerja dulu ya" pamit Kevin setelah selesai sarapan.


Anin mengantar Kevin sampai teras depan, dan menyalami tangan suaminya dan mencium punggung tangan Kevin. "Aku pergi dulu ya" Kevin mengacak-acak rambut Anin, dan mengecup kening dan bibir Anin, lalu masuk kedalam mobil melajukannya meninggalkan kediaman Adhitama.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dengan penuh semangat Tari membuatkan sarapan untuk calon mertuanya yang sedang di rawat di rumah sakit, karena kecelakaan kemarin.


Walau Ia tidak yakin dengan masakan yang Ia buat, karena ini baru pertama kalinya Ia memasak makanan selain yang di ajarkan Anin saat tinggal bersama dulu.


Setelah semuanya selesai Tari dan Ans bergegas kerumah sakit. Jantung Tari serasa ingin copot saat langkahnya semakin dekat pada pintu ruang rawat VIP. Ans menggenggam tangan Tari memasuki ruang rawat ayahnya.


"Sayang, kenapa Kamu repot-repot datang kesini, padahal Kamu pasti sangat sibuk" Ibu Ans menyambut Tari dengan wajah berbinar.


"Aku tidak sibuk kok bu, Ini Aku membuatkan sarapan untuk paman" Tari memberikan rantang kecil pada ibu Ans.


"Tarima kasih sayang" Ibu Ans mengambil rantang tersebut, dan segera menyajikannya untuk Suaminya.


"Lihatlah, calon menatu Kita bela-belain datang kesini hanya untuk membawakanmu sarapan."

__ADS_1


"Apa ini? sop ayam nya tidak enak, rasanya hambar" protes Ayah Ans yang sedikit tidak menyukai keberasaan Tari.


Tari mencubit paha Ans untuk melampiaskan kekesalannya, Ans hanya meringis kesakitan menikmati cubitan wanita kesayangannya.


"Apa Ayah bilang tidak usah mencari pacar yang mempunyai pekerjaan, jadi nya begini kan, Dia hanya sibuk bekerja bahkan memasak saja tidak bisa" ucap Ayah Ans terang-terangan di depan Tari.


Ya mulut cerewet Ans di turunkan oleh Ayahnya sendiri.


"Ayah, apa yang Ayah katakan" tegur Ans.


"Tari itu cantik, baik, dan juga sopan" puji Ibu Ans "Kalau hanya soal memasak Dia bisa belajar, kenapa harus di permasalahkan" ucap Ibu Ans yang tidak setuju dengan pendapat Suaminya.


"Sayang jangan dengarkan pamanmu ya, Dia memang selalu berbicara kasar, namun hatinya baik dan lembut kok" Ibu Ans merasa tidak enak pada Tari, apa lagi jika melihat Tari yang terlihat sedih.


"Tidak apa-apa bu, Aku mengerti kok, kalau begitu Aku pamit dulu paman, bu" Tari menayalami Ibu Ans dan dengan ragu Ia juga mengulurkan tangannya untuk menyalami Ayah Ans, namun Ayah Ans tak kunjung menyambut uluran tangan Tari, membuat Tari menarik kembali tangannya, memperlihatkan senyumnya san keluar dari ruangan tersebut dengan perasaan kesal dalam hatinya.


"Sayang jangan cemberut gitu dong, Ayah Aku itu memang begitu, makanya Aku tidak betah tinggal di rumah" Ans merangkul tubuh Tari dan membujuknya.


Namun dengan segera Tari melepaskan tangan Ans dari tubuhnya. "Bagaimana Aku tidak marah coba, Dia mencela Sop ayam yang Aku buat di depanku sendiri, padahal Aku bela-balain izin setengah hari hanya untuk membuatnya" gerutu Tari.


"Sayang......


-


-


-


-


TBC


Jangan lupa dukung Author dengan memberika Like, Komen, dan juga Vote.

__ADS_1


__ADS_2