Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Rencana Anna


__ADS_3

Dengan penuh semangat Anin mendekorasi kamar untuk baby nya, di temani oleh Oma Jelita dan bibi Ajeng, sementara sang Suami sedang sibuk bekerja.


"Hah, akhirnya selesai juga" ucap bibi Ajeng mendudukkan tubuhnya di lantai beralaskan karpet.


"Anin beli banyak sekali perlengkapan ya? maaf ya bi" Anin tidak enak pada bibinya. Bibi Ajeng terlihat sangat lelah setelah mengangkat beberapa barang di dalam kamar babynya.


"Tidak kok, itu wajar bagi ibu hamil, malahan bibi senang bisa bantu Kamu mendekorasi kamar cucu bibi" ucap Bibi Ajeng mengembangkan senyumnya.


"Jika Kamu butuh sesuatu atau ingin mengangkat yang berat-berat, Kamu panggil saja bibimu, Dia yang akan mengurusnya." ucap Oma Jelita.


"Ibu, apa Kamu memang betul ibu ku" Ajeng mengerucutkan bibirnya, lalu selanjutnya Ia tertawa. "Aku kan Wonder Woman" bibi Ajeng berdiri dan bekacak pinggang di depan Oma Jelita dan Anin, dan merekapun kembali tertawa.


"Kevin tidak ikut Kamu mendekorasi kamar baby kalian?" tanya Oma Jelita yang sedang sibuk merapikan pakaian baby. Anin memilih perlengkapan dan juga pakaian yang bisa di pakai baby laki-laki maupun perempuan, karena Ia belum tahu jenis kelamin babynya, atau lebih tepatnya tidak ingin tahu sampai lahiran nanti.


"Mas Kevin lagi sibuk di kantor Oma, tapi mas Kevin kok yang menemaniku belanja dan juga memilih kuda-kudaan kayu itu" Anin menunjuk sebuah kardus besar di sudut ruangan. "Kata mas Kevin, biar Dia sendiri yang memasangnya jika sudah tidak sibuk lagi.


"Wah belum lahir aja, sudah jadi mesin penghabis uang, bagaimana jika sudah lahir" canda bibi Ajeng.


"Belanjaanya terlalu banyak ya bi?" Anin mengulangi pertanyaannya tadi, takut Ia berlebihan mempersiapkan segala sesuatunya.


"Bibi cuma bercanda aja kok."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ans atur ulang jadwal rapat hari ini ya, dan jangan lupa cek ulang persiapan perayaan ulang tahun Direktur, dan juga pertemuan tahunan perusahaan yang akan di adakan besok. Saya harus pergi, hari ini jadwal Istri Saya untuk memeriksakan kandungannya." perintah Kevin sembari melangkahkan kakinya keluar dari gedung yang menjulang tinggi, dimana mobil mewahnya terparkir rapi di depan perusahaan.


"Baik Tuan" Ans membukakan pintu untuk Kevin.


Namun Kevin belum juga masuk kedalam mobil, Ia menerima telfon dari Anna.


"Ada apa?" tanya Kevin datar.


"Sudah waktunya makan siang, Kita makan siang bareng ya" pinta Anna yang sedang memperhatikan Kevin dari kejauhan.

__ADS_1


"Aku tidak bisa, soalnya Aku ada meeting siang ini" tolak Kevin, Ia tidak ingin melewatkan pemeriksaan Istrinya.


"Yaudah tidak apa-apa" suara Anna terdengar kecewa. Namun Kevin tidak memedulikannya, Ia bahkan memutuskan sambungan telfonnya dan masuk kedalam mobil yang sedari tadi di bukakan Ans untuknya.


"Kenapa Kevin berbohong padaku? mau kemana Dia?" gumam Anna terus memperhatikan mobil hitam yang perlahan menjauh dari pandangannya.


"Pak ikuti mobil hitam itu" perintah Anna, dan di angguki oleh sang supir.


Lama Anna mengikuti Kevin, hingga kini mereka sampai di sebuah rumah sakit yang terbilang mewah di kota itu. Anna turun dan membayar ongkos Taksinya. Lalu melangkahkan kakinya mengikuti Kevin masuk kedalam rumah sakit tersebut.


"Kenapa Kevin kerumah sakit?" Anna terus mengikuti Kevin hingga Kevin memasuki ruangan dokter Rangga.


Emosi Anna sudah di ubun-ubun melihat Kevin yang lebih memetingkan Istrinya di bandingkan dirinya yang sudah lama pacaran.


"Oh jadi Dia menolak makan siang denganku hanya karena menemani Anin memeriksakan kandunganya" Anna senyum sinis. "Tarnyata pura-pura lupa ingatan tidak bisa mengembalikan posisiku" Anna melangkahkan kakinya keluar dari rumah sakit, dengan perasaan kecewa dan juga sakit hati karena tidak bisa mendapatkan cinta Kevin kembali.


Anna kembali ke apartemennya dan menghancurkan apa yang bisa Ia hancurkan, hatinya benar-benar sakit melihat Kevin hanya mementingkan Anin bukan dirinya, Ia pura-pura lupa ingatan agar Kevin merawatnya dan kembali padanya, namun itu tidak berhasil sama sekali.


"Masih ada waktu sebelum perayaan ulang tahun Oma besok" Anna senyum sinis dan merencanakan apa yang harus Ia lakukan malam ini.


"Aku lah yang pantas menjadi nyonya Adhitama bukan wanita jalang itu, beraninya Dia merebut kebahagian dan juga Kevin dariku, Aku tidak jahat, Aku hanya mempertahankan apa yang harus menjadi milikku." Anna mengepalkan tangannya karena sangat emosi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Mas Kevin mau kembali lagi ke kantor?" tanya Anin setelah selesai memeriksakan kandungannya, dan kini mereka berjalan di lorong rumah sakit dengan Kevin merangkul pingga istrinya, seakan-akan Istirnya akan pergi jika Ia melepaskan rangkulannya.


"Kenapa apa Kamu masih kagen sama mas mu yang tampan ini?", goda Kevin menyentil hidung mancung Anin.


"Ais, Aku hanya bertanya saja mas, akhir-akhir ini mas Kevin itu sibuk terus, dan Kita jarang bersama lagi" ucap Anin, ya Anin mulai berani menunjukkan cintanya pada Kevin setelah melihat dan merasakan perhatian dan juga cinta Suaminya.


"Maaf ya sayang, kalau mas tidak punya waktu belakangan ini untukmu, tapi mas berjanji setelah perayaan besok mas janji tidak akan sibuk lagi, dan akan meluangkan banyak waktu untukmu dan juga baby kita" Kevin mengelus perut Anin yang semakin membesar di usianya jalan tujuh bulan itu.


"Mas Kevin janji?" Anin menghentikan langkahnya dan menatap manik coklat milik suaminya dengan senyuman yang mampu mengetarkan hati sang Suami.

__ADS_1


"Iya sayang" Kevin mencium kening Istrinya. "Tapi untuk liburannya, nanti setelah anak kita lahir" ucap Kevin kembali melangkahkan kakinya.


"Ais mas, malu tahu ini rumah sakit" keluh Anin menundukkan kepalanya.


"Tidak ada orang yang lihat yang" Kevin senyum melihat tingkah malu-malu Istrinya.


"Tetap saja mas" ucap Anin memanyungkan bibirnya. "Mas Kevin balik ke kantor lagi?" Anin mengulang pertanyaanya.


"Kerena Istriku sedang rindu, Aku tidak akan kembali ke kantor, takut Istriku tersiksa menahan rindu" goda Kevin, ya Kevin akhir-akhir ini sering mengoda Anin, karena Ia paling suka jika pipi istrinya merona merah karena malu.


"Gombal tau nga" Anin mencubit perut Suaminya, membuat Kevin mengadu kesakitan.


"Sakit yang" Kevin mengelus perutnya, setelah itu Ia membukakan pintu mobil untuk Istrinya.


"Sekarang Kamu mau jelan-jalan kemana?" tanya Kevin setelah mereka sudah berada di dalam mobil.


"Aku mau ketemu Tari dulu, katanya Dia ingin mengatakan sesuatu padaku" Anin memasang seatbelet mobil demi keamanan.


"Baiklah, Aku akan mengantarmu, tapi jangan sia-siakan kesempatan ini ya" ucap Kevin tanpa mengalihkan perhatiannya pada jalan di depannya.


"Kesempatan apa mas?" tanya Anin kebingungan


"Ya kesempatan untuk memandang wajah tampan Suamimu ini" ucap Kevin dengan pedenya, ya walaupun Ia memang tampan sih


"Ge'er baget sih mas"


-


-


-


-

__ADS_1


TBC


Jangan lupa dukung Author dengan memberikan Like, komen, Vote, dan jangan lupa menambahkan sebagai cerita favorit kalian, agar mendapatkan notifikasi setiap up.


__ADS_2