Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Kecelakaan


__ADS_3

"Kebetulan Aku sore ini tidak ada pekerjaan, jadi Aku bisa menemani kalian" kilah Kevin yang nyatanya pekerjaannya sangatlah banyak, bahkan posisinya sebagai COE sudah di ujung tanduk. Karena tidak ada lagi pemegang saham yang berpihak padanya.


"Kalau begitu ayo" ucap Rara berjalan duluan dan di ikuti sepasang Suami Istri dibelakangnya.


Dua puluh menit telah berlalu kini mereka bertiga sudah berada di sebuah mall, dengan Penuh semangat Rara memilih dan membeli barang-barang yang Ia suka. Lain halnya dengan sepasang Suami Istri yang menemaninya, mereka berdua hanya melihat-lihat saja tanpa berniat membeli apapun.


"Eum...Terimakasih karena sudah membelaku kemarin malam" ucap Anin menatap wajah tampan Suaminya sekilas.


"Tidak perlu berterima kasih, Aku melakukan itu semua karena memang Aku ingin melakukannya" ucap Kevin dingin.


"......"Anin hanya mengangguk.


"Maaf soal perkataan ku dirumah sakit." ucap Kevin


"Tidak perlu meminta maaf, Aku juga yang salah karena terlalu perasa" ucap Anin


"Tapi tetap saja Aku menyinggung perasaanmu"


"Tidak, Aku tahu Kamu sangat menyayanggi bayi kita" ucap Anin senyum dan tidak ingin membahas masalah itu lagi.


Setelah Rara puas berbelanja, Kevin mengajak Mereka makan di restoran.


"Sebelum Kita pulang Kita makan malam dulu ya" ucap Kevin.


".......Anin hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju.


"Oke tidak masalah, tapi bisakah Kita turunnya lewat tangga saja?" ucap Rara entah mengapa Ia sangat ingin menuruni tangga.


"Tidak-tidak, kakak sedang hamil besar, itu akan berbahaya." ucap Anin tidak setuju.


"Betul apa yang dikatakan Anin, Kita turun pakai lift saja" ucap Kevin.


"Kalau begitu kalian saja yang naik lif, Aku akan tetap memakai tangga" ucap Rara dan berjalan mendahului mereka berdua. Mau tidak mau Anin dan Kevin mengikuti Rara.


Anin berlari-lari kecil kearah Rara yang sudah menuruni anak tangga, Anin pun ikut menuruni tangga.


Saat Anin akan menarik tangan Rara tidak sengaja seseorang menjenggol tubuh Anin dan membuat keduanya hilang keseimbangan. Kevin yang melihat itu segera berlari dan menarik Anin kedalam pelukannya agar tidak terjatuh, namun Ia lupa dengan keberadaan Rara.


Rara terjatuh dengan tubuh terguling menuruni anak tangga, tubuh Rara mendarat dilantai dengan darah yang bercucuran di sekitar lantai.


Anin melepaskan pelukan Kevin dan berlari menghampiri Rara yang sudah tergeletak tak berdaya.


"Kak Aku mohon banggunlah, Aku sudah bilang padamu naik tangga itu berbahaya" ucap Anin menangis.

__ADS_1


Kevin dengan segra menelfon ambulans dan menghampiri Anin untuk menenangkan Istrinya.


"Kak Rara akan baik-baik saja, ambulan sudah menuju kemari" ucap Kevin mendekap tubuh Anin kedalam pelukannya.


*****


Anin menunggu di depan ruangan ICU dengan perasaan gelisah dan juga sedih, ditemani Kevin disampinya. Dengan gelisah Anin sesekali duduk, sesekali berdiri, berjalan mondar mandir. Namun perasaannya masih juga sama, gelisah itulah yang Ia rasakan.


Kevin yang sudah lelah melihat tingkah Istrinya segera menarik tangan Anin untuk duduk disampingnya.


"Tanangkan dirimu, kak Rara pasti baik-baik saja, ingat Kamu juga punya bayi yang haru Kamu jaga" ucap Kevin.


"Ta...tapi Aku takut hiks...hiks...hiks" ucap Anin kembali menangis.


"Sudah- sudah jangan menangis kasihan bayi Kita jika kamu menangis" ucap Kevin memeluk dan mengelus-elus lengan Anin untuk menenangkannya.


Setelah menunggu cukup lama akhirnya dokter keluar dari ruangan ICU.


Anin yang melihat kedatangan dokter tersebut segera menghampirinya "Bagaimana keadaan kakak Saya dokter?" tanya Anin.


"Kakak Anda baik- baik saja, tidak ada luka yang serius, hanya saja anaknya lahir prematur, dan perawat telah menepatkannya di ruangan khusuus bayi. Sedangkan ibunya akan di pindahkan keruang perawatan dan akan segera sadar sebentar lagi" jelas dokter.


"Terimakasih dokter." ucap Anin dengan senyum bahagia menatap Kevin. Kevin juga ikut senyum melihat senyuman Istrinya.


Anin dan Kevin menuju ruang rawat VIP yang telah Kevin sediakan untuk kakaknya Anin. Setelah beberapa lama menunggu akhirnya Rara sadar juga.


"Anin anak Aku mana?" tanya Rara yang menyadari perutnya telah rata.


"Kak Rara tidak perlu khawatir, Anak kakak baik-baik saja, sebentar lagi perawat akan membawanya kesini."ucap Anin senyum.


Beberapa saat kemudian akhirnya perawat datang juga membawa bayi Rara.


Dengan penuh semangat Anin mengendong bayi mungil tersebut dan membawanya pada ibunya.


Rara senyum bahagia melihat Anaknya yang terlihat mengemaskan dan sangat mirip dengannya "Kenapa Kamu lahir disaat Ayahmu tidak ada disini hah?" ucap Rara mencubit lembut pipi Anaknya "Ayahmu kan jadi tidak tahu bagaiman sakitnya Aku melarikanmu" lanjut Rara.


"Kak itu tidak benar, kak Jefri itu udah nangis-nangis saat mendengar kakak kecelakaan, dan sekarang kak Jefri dalam perjalanan kemari." ucap Anin.


Anin berjalan kearah Kevin dan memberikan baby munggil tersebut pada Kavin, dengan senang hati Kevin mengendong baby mungil tersebut, walaupun sedikit kaku karena belum pernah mengendong baby.


"Tenang saja, Aku akan menemanimu melewati masa masa sulit dan menyakitkan saat akan melahirkan Anak Kita" ucap Kevin dan itu berhasil membuat Anin mengembangkan senyumnya.


Kevin menatap intens baby yang berada dalam dekapannya. "Lihatlah, Dia sangat mirip dengan Ibunya, jika nanti babyku lahir pasti Dia akan mewarisi ketampanan ku, namun bibir nya akan mewarisi bibir ibunya ,dan sifatnya Dia akan mewarisi ku. Tidak-tidak, jika Dia mewarisi sifatku maka Dia akan menjadi arogan dan juga keras kepala, baiklah Dia bisa mewarisi sifat Ibunya, namun tidak dengan kebodohan ibunya yang sering ditindas" batin Kevin.

__ADS_1


Kevin terus memandangi baby mungil sambil senyum-senyum sendiri membayangkan bagaimana Anaknya nanti.


Setelah cukup lama menemani Rara, akhirnya Jefri juga datang. Setelah berbincang cukup lama dengan Jefri dan yang lainnya, Anin dan Kevin segera pamit pulang, karena sudah tengah malam.


******


Pagi ini Anin dan Tari bertemu di kantor hukum, hanya untuk melepas rindu


"Hari ini kan kamu ada kelas ibu hamil, apa Tuan arogan itu akan menemanimu?" tanya Tari.


"Mungkin tidak karena Ia sedang sibuk" ucap Anin


"Ia sih, belakangan ini sekretarisnya juga sibuk, Dia juga mengatakan padaku, bahwa perusahaan dan juga pabrik itu adalah separuh hidup Tuan Kevin, dan sekarang Tuan Kevin sedang mati-matian mencari jalan keluar agar bisa menyelamatkan perusahaannya, dan satu-satunya cara sih hanya Dokter Rangga" jelas Tari.


"Ternyata pabrik itu sangat penting bagi Kevin, namun kenapa Dia menutup Pabrik itu hanya karena ku?" batin Anin


"Hei nyonya kenapa Kamu diam saja" Tanya Tari.


"Ah tidak apa-apa" ucap Anin


"Oh iya dari mana kamu kenal dengan sekretaris Ans?" tanya Anin.


"Pria yang tinggal bersamaku itu ternyata sekretaris Tuan Kevin," jelas Tari.


"Benarkah?" tanya Anin tak percaya.


"Iya nyonya Kevin, apa Kamu tahu ini pertama kalinya Aku bertemu dengan pria yang sangat cerewet, dan juga menyebalkan sepertinya" curhat Tari.


"Walaupun Dia cerewet dan menyebalkan tapi Dia tampan dan mapan kan" goda Anin.


"Anin Kamu sudah berani ya mengodaku" ucap Tari geram.


"Tunggu, Kamu tadi mengodaku?" tanya Tari "Oh ya Allah terimakasih" lanjut tari.


"Hey kenapa kamu berterimakasih?" tanya Anin mengernyitkan keningnya.


"Ia Aku berterima kasih, karena Kamu sudah ada perkembangan semenjak menikah dengan Tuan Kevin, Anin ini pertama kalinya Kamu berani menggodaku" ucap Tari senyum.


"Baiklah Anin, Aku pergi dulu karena pengacara Tari ini sedang sibuk" ucap Tari tertawa dan berlalu pergi.


-


-

__ADS_1


-


TBC


__ADS_2