
"Aku sudah tidak tahu lagi harus mengatakan apa pada Anna, Dia selalu menayankan tentangmu" gerutu Ans, setelah sampai diperusahaan pada siang hari.
"Aku tidak ingin mendengar ceramahmu, yang Aku inginkan cepat belikan Aku makan siang, Aku sudah lapar sekali." ucap Kevin dingin.
"Bukannya Anin selalu membawakanmu makan siang?" tanya Ans.
"Aku tidak ingin menerima apapun darinya" ucap Kevin dingin dan menyandarkan punggung kokohnya kesandaran kursi.
"Aku tahu kenapa Kamu bersikap seperti ini" ucap Ans senyum.
"Apa lagi yang Kamu ketahui hah?" bentak Kevin saat melihat senyuman Ans.
"Aku mengerti perasaanmu bro, sebagai pengusaha yang sangat sukses rasa ingin memiliki mu juga tinggi, Kamu menghindari Anin karena Kamu takut jatuh cinta padanya namun tidak ingin meninggalkannya, dan Kamu juga tidak ingin mengatakan semua ini pada Anna karena Kamu tidak ingin cinta pertamamu hilang."
"Dan itu pasti membuatmu sangat stress" ucap Ans sok mengerti.
"Ya Aku sangat stres karena memiliki sekretaris cerewet sepertimu dan rasa Aku ingin memecatnya sekarang juga" ucap Kevin dingin.
"Bro, bukan begitu maksudku, ayolah jangan seserius ini, Aku hanya mengutarakan pendapat ku dan berkata jujur padamu" bujuk Ans, Ia benar-benar takut jika dipecat oleh atasnnya.
Karena tidak mungkin jika Dia pulang kerumahnya, dengan kepulangannya kerumah, itu sama saja mengantarkan dirinya masuk kedalam sangkar dan harus mematuhi semua perintah ayahnya termasuk menikah.
"Aku rasa Kamu sudah mulai jatuh cinta pada Anin, makanya Kamu bersikap seperti ini" goda Ans.
Kevin megeram melihat tingkah temannya yang tidak bisa di ajak serius "Ans balik badan" perintah Kevin bangkit dari duduknya dan menghampiri Ans yang masih setia berdiri di seberang meja.
"Kenapa?" tanya Ans yang tiba-tiba perasaanya tidak enak
"Balik badan" ulang Kevin dan memutar tubuh Ans membelakangi nya, lalu menendangnya keluar ruangannya.
Ans mendegus kesal mendapatkan perlakuan kasar sang atasan, namu Ia harus apa?, atas tidak pernah salah.
Sementara Kevin mengusap wajahnya dengan kasar, Ia benar-benar bingung dengan perasaanya sendiri.
Jam kerja telah selesai, tiba waktunya untuk mengistirahatkan tubuh bagi semua pekerja namun tidak dengan Ans, karena suasana hati tuannya sedang tidak baik Ia juga mendapatkan imbasnya.
Kevin mengajak Ans ke tempat bermain bola booling untuk melepas penatnya, Ans sudah sangat lelah, namun Kevin terus memaksanya bermain hingga jam sepuluh malam.
"Giliranmu" Kevin menyerahkan bola booling ketangan Ans, dengan malas Ans mengambil bola tersebut dan bersiap melemparkannya, namun lemparannya nelesat karena sudah terlalu lelah.
"Aku menyerah" Ans mendudukkan tubuhnya dilantai, untung saja ruangan itu telah di booking oleh atasannya.
__ADS_1
Setelah puas bermain atau lebih tepatnya menyiksa Ans, Kevin pulang kerumah, dan sudah mendapati rumah yang begitu senyi begitu juga dengan kamarnya.
Wanita yang telah membuatnya bingung belakangan ini sudah tertidur pulas di tempat tidur, dipandanginya wajah bulat itu sebentar, setelah itu beralih membersihkan dirinya, setelah itu Ia juga ikut berbaring seperti biasa di sofa bed.
******
Anin bangung lebih awal dari Suaminya, menyiapkan pakain kerja Kevin dan juga sarapan, setelah itu membersihkan dirinya dan melangkahkan kakinya memasuki ruangan melukis untuk menghindari Kevin.
Setelah dirasa sudah siap Kevin berjalan menuruni anak tangga, dan mendapati Bibi Ajeng didapur.
"Kevin" panggil bibi Ajeng menyerahkan kotak makan yang telah disiapakan Anin, Kevin mengambil kotak makan tersebut.
"Mana Anin?" tanya Kevin namun bibi Ajeng menjawab dengan menaikkan kedua bahunya tanda tidak tahu dan berlalu pergi.
Kevin melangkahkan kakinya, masuk kedalam mobil dan menyunggikan bibirnya, "Perhatian namun tidak ingin terlihat" batin Kevin.
Sementara Anin yang sedang berdiri di balkon kamarnya, memandangi mobil yang semakin jauh dari pekarangan rumah "Rindu namun enggang untuk menyapa" batin Anin.
Selama beberapa hari Kevin dan Anin benar-benar perang dingin, ketika bertemu diluar maupun didalam rumah, mereka enggang untuk bertegur sapa, layaknya orang asing yang tidak pernah bertemu
******
"Mungkin bersikap seperti ini akan lebih baik bagi Kita berdua, membiasakan diri agar tidak saling tergantung satu sama lain, dengan begitu saat waktunya Kita berpisah tidak ada yang tersakiti di antara Kita" batin Anin memandangi wajah tampan dan damai Suaminya yang masih tertidur pulas walau matahari mulai menyapa.
****
"Tunggu" pinta Tari dan membalikkan tubunya menghadap pada pria berbadan tinggi dan tampan dibelakangnya.
"Aku tidak ada waktu berdebat dengamu, jadi pergilah" perintah Ans ketus.
"Aku tidak bicara denganmu" ucap Tari ketus dan mengeser posisinya hingga berhadapan dengan Kevin.
"Kevindra" panggil Tari "Mungkin setelah mengatakan ini padamu dan sudah lancang bersikap tidak sopan, Saya akan dipecat tapi itu tidak masalah bagiku" ucap Tari dinggin.
"Apa yang Kamu lakukan dengan temanku hah? apa begini caramu meperlakukan Istrimu? tidak bisakah Kamu bersikap baik padanya? jika Kau memang tidak mencintainya, setidaknya sayangi Dia sebagai keluargamu, bagaimanapun Dia sedang mengandung anakmu" Tari mengelurkan semua unek-unek yang telah di pendamnya selama ini, setelah mendengar kabar bahwa temanya sedang peran dinggin denga Kevin membuatnya tidak bisa mengendalikan emosinya.
Kevin diam saja dan menatap Tari dengan tatapan berbinar seperti mendapatkan sebuah jawaban yang telah Ia cari selama ini.
"Coba ulangi perkataanmu !" pinta Kevin.
"Anin itu Istrimu" ucap Tari mengerutkan keningnya hingga kedua alisnya saling bertautan, begitupun dengan Ans menatap heran pada atasannya yang tiba-tiba terlihat bahagia.
__ADS_1
"Sebelum itu"
"Perlakukan dengan baik" jawab Tari.
"Bukan, setelah itu"
"Kamu itu bicara apa? sebelumnya-sebelumnya tidak jelas tahu" ketus Tari.
"keluarga" ucap Kevin seperti sedang memenangkan lotre dan berjalan keluar perusahaan, meninggalkan sepasang manusia yang sedang kebingungan melihat tingkah Tuannya yang terlihat dingin dan arogan, namun tidak untuk saat ini yang terlihat seperti orang gila.
"Kenapa dengan atasanmu?" tanya Tari masih memandangi pintu keluar yang dilewati Kevin.
"Aku juga tidak tahu" jawab Ans memutar lehernya menghadap Tari dan sektika mata mereka bertemu.
"Ais...." ucap keduanya bersamaan dan melangkahkan kakinya berlawanan arah.
*****
Dengan penuh semangat Kevin menyelesaikan semua pekerjaannya dan berniat pulang lebih awal hanya untuk makan malam dirumah.
"Bagaimana? lebih menyenangkan tinggal dirumah kan?" tanya Ajeng antusias disela-sela makan malam mereka.
"Bilang saja Kamu suka Anin tinggal dirumah, dengan begitu pekerjaan mu jadi semakin ringan karena Anin." jelas Oma Jelita.
"Ibu" Ajeng mencebikkan bibirnya.
Oma, Anin dan Elvan hanya tertawa melihat tingkah bibi Ajeng.
"Anin suka kok tinggal dirumah, bisa membantu bibi mengurus rumah dan juga mengurus keperluan Mas Kevin." Jelas Anin membuat Ajeng menerbitkan senyumnya.
"Tuhkan Anin saja tidak keberatan" ucap Ajeng.
Lagi-lagi mereka tertawa karena berhasil mengoda Ajeng.
"Aku pulang..........
-
-
-
__ADS_1
TBC