Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Cemburu


__ADS_3

"Kamu sudah berani ya memerintahku?" goda Kevin.


"Aku tidak memerintahmu, Aku hanya menginginkan makanmu, dan Kamu sendiri yang nenyuapiku" protes Anin.


"Ini Aku kembalikan" Anin menyendokkan makannya dan menyodorkannya kedalam mulut Kevin, Kevin membuka mulutnya dengan senang hati.


"Kamu harus makan-makan yang begizi, agar anak kita tumbuh sehat" nasehat Kevin.


"Eum..." Anin hanya mengangukkan kepalanya karena terlalu fokus makan, Kevin hanya geleng-geleng kepala melihat perubahan sifat Anin akhir-akhir ini begitu mengemaskan.


Setelah keduanya selesai makan siang, mereka kembali pada kesibukan masing-masing, hingga jam pulang kerja tiba.


Mereka pulang bersama, sesampainya dirumah Anin segera membersihkan dirinya, lalu menyiapkan segala kebutuhan Suaminya, mulai dari menyiapkan air hangat, menyiapkan pakaian ganti, hingga menyiapkan makan malam.


Mereka makan malam berdua saja, karena memang penghuni rumah jarang makan malam bersama jika bukan acara-acara tertentu.


Setelah makan malam Kevin kembali kekamarnya, sementara Anin membereskan sisa makanan dan juga piring kotor lalu membersihkannya. Setelah semua dirasa telah rapi, Anin menghampiri Omanya didalam kamar untuk melaporkan dan meminta persetujuan apa-apa saja yang akan Kevin dan Anin lakukan.


Dengan teliti Oma memeriksa semua laporan yang diberika Anin padanya.


"Kamu sungguh hebat sayang, baru beberapa hari bekerja, Kamu sudah banyak memahami tantang perusahaan, bahkan Kamu mengubah pandangan Kevin yang hanya memetingkan keuntugan tanpa memikirkan kenyamaman karyawan." puji Oma Jelita.


"Oma ngomong apasih, semua ini karena bantuan mas Kevin, jika bukan kerena mas Kevin yang membantu Anin, Anin tidak mungkin sejauh ini." ucap Anin.


Oma menatap tajam pada Anin setelah membaca dokumen terakhir yang menurutnya tidak masuk akal.


"Apa Kamu tidak apa-apa jika Kevin meninggalkanmu keluar negeri? jika Kevin pergi itu akan memakan waktu setengah bulan" tanya Oma Jelita masih dengan tatapan tajamnya, karen Anin mengajukan permintaanan itu dengan alasan ingin mengotrol cabang baru yang ada di Eropa.


"Aku tidak apa-apa Oma, lagian kan masih ada sekretaris Ans yang membantuku, anak cabang yang berada di Eropa membutuhkan mas Kevin untuk lebih berkembang." jelas Anin


"Bukan itu maksudku sayang, Apa Kamu tidak merasa kesepian jika Suamimu pergi? dan siapa yang akan menemanimu memeriksakan kandungan dan menghadiri kelas ibu hamil jika Kevin pergi?" tanya Oma Jelita mengelus-elus puncuk kepala Anin dengan lembut.


"Anin bisa sendiri Oma, lagi pula masih ada Elvan yang akan menjagaku" Anin terus membujuk Omanya agar menyetujui keberangkatan Kevin ke Eropa.


"Baiklah jika itu maumu" Oma Jelita menandatangani dokumen tersebut tanda persetujuan untuk keberangkatan Kevin ke Eropa.


Setelah Anin mendapatkan persetujuan dari Omanya, Ia melangkahkan kakinya menuju kamarnya dengan wajah yang bahagai dan senyum yang menghiasi wajahnya.


Sementara dikamar Kevin sudah tidak sabar ingin mengetahui keputusan Omanya, saat Kevin melihat Anin membuka pintu, dengan segera Kevin menarik tangan Anin dan mendudukkannya di pinggir ranjang.


Anin memberikan semua dokumen yang telah Ia bawa dari ruangan Oma Jelita dengan wajah nya terlihat cemberut.


Kevin mengambil dokumen itu dan meletakkannya diatas meja kerjanya "Bagaimana?" tanya Kevin.

__ADS_1


"Eum, soal dokumen itu.......Aku minta maaf" ucao Anin sendu.


"Tidak apa-apa, kamu tidak usah bersedih ini bukan kesalahanmu" ucap Kevin mengenggam tangan Anin.


Anin mengembangkan senyumnya melihat gurat kekecewaan diwajah Suaminya "Kenapa Kamu senyum seperti itu?" tanya Kevin mengerutkan keningnya.


"Maafkan Aku karena membohonggimu,"


"Maksudnya?" Kevin belum mengerti juga.


"Aku berhasil membujuk Oma" ucap Anin kembali senyum.


"Benarkah?" tanya Kevin dengan binar bahagia.


"Eum.." Anin mengangukkan kepalanya.


Kevin mengangkat tubuh Anin dan berputar-putar sambil mengendong tubuh Istrinya sakin bahagianya. Setelah puas Kevin menurunkan tubuh mungil Anin, "Maaf, apa Kamu baik-baik saja"


"Aku baik-baik saja" ucap Anin


"Istirahatlah sudah malam !"


Anin menuruti perkataan Kevin, Ia membaringkan tubuhnya membelakangi Kevin. Tak terasa air matanya mengalir begitu saja, dadanya terasa sesak mengetahui Kevin akan pergi bersama kekasihnya.


******


"Kenapa Kamu ada disini? bukannya Kamu sekarang ada meeting diluar dengan klien?" tanya Anin pada pria tersebut.


"Aku menyuruh Ans mengundurkan jadwalnya karena Kita akan makan siang dirumah hari ini" ucap Kevin.


"Kenapa harus dirumah?" tanya Anin.


"Aku juga tidak tahu, tapi Oma menyuruh Kita makan siang dirumah, karena ada tamu yang akan datang." jelas Kevin.


Anin segera memasukkan keperluannya kedalam tasnya dan bangkit dari duduknya diikuti Kevin, keduanya berjalan beriringan dengan Kevin mengengam tangan Anin keluar dari gedung yang menulang tinggi tersebut.


Dua puluh menit telah berlalu akhirnya mereka sampai juga dirumah, dan disambut hangat oleh Oma Jelita yang menunggunya di ruang keluarga.


"Akhirnya kalian berdua datang juga" ucap Oma Jelita menarik tangan Anin agar duduk disampingnya, sementara Kevin duduk dihadapan Omanya.


"Apa tamu itu begitu penting sehingga Oma menyuruhku pulang hanya untuk makan siang?" tanya Kevin ketus.


"Tentu saja tamu ini penting, Dia baru saja pulang dari Eropa dan Oma langsung mengundangnya makan siang" ucap Oma senyum.

__ADS_1


Tiing


"Itu pasti Dia, Kevin ayo bukakan pintu untuknya" perintah Oma Jelita.


Dengan perasaan kesal Kevin membuka pintu rumah dan terhenyak melihat siapa yang datang.


"Jadi tamu yang penting itu Dia" tanya Kevin menatap tajam pada Dilan.


Dilan mengembangkan senyumnya melangkahkan kakinya melewati Kevin dan menghampiri Anin dan juga Oma Jelita di ruang tamu.


"Aku membawakan oleh-oleh buat Direktur" Dilan memberikan paperbeg pada Oma Jelita.


"Kenapa Kau memanggilku Direktur? Oma kan sudah bilang panggil Aku Oma" perintah Oma Jelita.


"Baiklah Oma" ucap Dilan senyum.


Setelah semuanya siap, mereka makan siang bersama di selingi dengan obrolan-obrolan ringan.


"Ajeng ingat baik-baik wajah Dilan, Dia adalah teman Anin dan juga orang kepercayaanku," ucap Oma Jelita yang mengingatkan Ajeng pada kejadian saat Ia menuduh Anin selingkuh.


"Iya Ibu" ucap Ajeng mengerucutkan bibirnya.


"Anin bagaimana perkembangan baby mu?" tanya Dilan.


"Baik, bahkan belakangan ini semua bajuku terasa kecil," keluh Anin.


Sementara Kevin sudah kebakaran jenggot melihat keakraban mereka berdua.


"Oh iya karena Kevin akan keluar negeri, bagaimana kalau selama Kevin tidak ada Kamu yang mengantikannya untuk menjaga Anin" pinta Oma Jelita pada Dilan


"Oma kak Dilan kan sibuk" ucap Anin.


"Aku tidak sibuk, Aku akan menemanimu selama Suamimu tidak ada, Kevin jangan Khawatir pergilah dengan tenang" ucap Dilan, tanpa Dia tahu bahwa kata-katanya membuat Kevin kebakaran Jengot.


Setelah makan siang, Oma benar-benar tidak mebiarkan Kevin pergi dari tempatnya, sementara Kevin sudah tidak tahan lagi dengan keakraban Anin dan juga Dilan.


sementara Anin dan Dilan sedang asyik bercerita baik itu bisnis maupun kehidupan sehari-hari, membuat Kevin kebakaran jenggot, namun Ia terus manahan emosinya agar tidak meledak.


"Kenapa Anin begitu akrab dengan Dilan? bahkan apapun yang mereka bahas pasti nyambung, ah sial" batin Kevin.


-


-

__ADS_1


-


TBC


__ADS_2