
"Mas Kamu kan tahu sendiri, orang mens itu 3-7 hari jadi bersabarlah! Aku lapar." Anin mendorong tubuh kekar Kevin.
Anin mengambil piring dan menyiapkan makanan untuk suaminya, setelah itu Ia sibuk dengan makannya. "Mas kok nga di makan makanannya?" tanya Anin saat melihat makanan di piring Kevin tidak tersentuh sedikitpun dan Kevin malah senyum-senyum menatapnya.
Bukannya menjawab, Kevin malah membuka mulutnya. "Kek beby saja deh, pake di suapin segala" Anin menyuapi suaminya dengan telaten hingga mereka selesai makan.
"Mas nga kerja?" Anin membelai lembut rambut suaminya yang sedang tidur di pangkuannya
"Kerjanya nanti saja, Aku masih rindu" Kevin sekali-sekali menciumi perut rata Anin.
"Sayang kamu sudah minum obat?" Kevin
"Iya sudah mas, aku tidak akan lupa meminum obatnya, karena Aku tidak ingin suatu saat nanti anak kita malu mempunyai ibu yang mempunyai ganggu mental sepertiku" Anin menundukkan kepalanya dan mengecup bibir Kevin, namun Kevin tidak bereaksi sama sekali, bahkan wajahnya terlihat dingin.
"Kenapa mas Kevin selalu terlihat dingin saat Aku membahas anak? apa mas Kevin mempunyai wanita lain di belakangku? itu sebabnya Dia tidak ingin mempunyai anak dariku? agar Dia bisa meninggalakku kapan saja?" batin Anin menerka-nerka.
"Sayang Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu, tapi Kamu harus janji tidak akan marah apa lagi membenciku" pinta Kevin. Ya Kevin bertekad memberitahu Anin semuanya sebelum terlambat.
"Aku tidak berjanji untuk itu." ucap Anin yang kini dadanya semakin sesak.
"Sayang berjanjilah dulu padaku" pinta Kevin yang tak ingin jika Istrinya marah atau sampai meninggalkannya.
"Katakanlah!" perintah Anin terlihat dingin, bahkan Anin menggeser tubuhnya membiarkan kepala Kevin tergelak begitu saja di sofa.
"Kenapa perasaanku jadi tidak enak begini? apa yang ingin di katakan mas Kevin?." batin Anin.
Kevin bangun dari tidurnya dan mendekat pada Anin, Kevin meraih tangan Anin dan mengengamnya begitu erat. Kevin menarik nafas begitu panjang sebelum mengatakannya. "Sayang bisakah Kamu meminum pil untuk menunda kehamilanmu untuk beberapa waktu!" Kevin menundukkan kepalanya tak mampu menatap mata Anin, Ia tahu perkatannya pasti menyakiti hati Anin, tapi Kevin harus melakukan itu agar tidak kehilangan Anin.
__ADS_1
"Kenapa mas? apa mas Kevin tidak menginginkan anak dariku? apa mas Kevin mempunyai wanita lain di belakangku?" lirih Anin dalam isakannya.
"Sayang percayalah Aku hanya mencintaimu dan Aku tidak akan pernah menghianatimu" jelas Kevin meyakinkan Anin.
"Lalu kenapa mas Kevin menyuruhku menunda kehamilan? berikan Aku alasan yang tepat agar tidak salah paham mas" Anin mencoba bicara baik-baik pada suaminya agar tidak terjadi kesalahpahaman di antara mereka berdua.
"Sayang Aku tidak ingin Kamu terluka" ucap Kevin.
Anin tertawa namun itu telihat menyeramkan di mata Kevin. "Hanya itu alasanmu?" Anin senyum sinis dan menghempaskan tangan Kevin. "Mungkin keraguanku selama ini benar, Kamu tidak pernah mencitaiku, Kamu memintaku kembali padamu hanya karena rasa penasaranmu selama tiga tahun ini" bentak Anin dan bangkit dari duduknya hendak pergi, namun langkahnya kalah cepat dari tangan Kevin.
Tubuh Anin terjatuh di atas pangkuan Kevin, Anin terus meronta minta di lepaskan namun Kevin semakin mempererat pelukannya. "Sayang tenaglah! Aku akan menjelaskan semuanya, tapi berjanjilah padaku untuk tidak melakukan hal-hal aneh dan hanya menuruti perintahku" Kevin membenamkan wajahnya di punggung Anin, dan tak terasa Air mata Kevin menetes membasahi dress Anin. Anin yang merasakan punggungnya basah berhenti meronta dalam pelukan Kevin. Anin tahu Kevin sekarang sedang menagis dan Anin tidak tega untuk itu.
"Aku berjanji tidak akan marah dan menuruti semua perintahmu, jadi katakanlah!" perintah Anin namun masih terdengar dingin.
"Ak....Aku ti...tidak ingin Kamu hamil karena" lidah Kevin begitu kelu saat akan menjelaskan semuanya, Kevin takut Anin nekad dan tidak menuruti perintahnya.
"Karena?"
"Kenapa Kamu begitu khawatir hanya karena itu mas? Aku akan menghentikan meminum obat dari dokter Rian, dan itu tidak akan masalah dengan janin yang ada di dalam kandunganku" Anin membalikkan tubuhnya dan menangkup wajah Suaminya yang masih terlihat sendu.
"Inilah yang Aku takutkan jika mengatakannya padamu, Kamu selalu mengap remeh kesehatanmu" ucap Kevin dengan nada kesal mendegar jawaban Anin, apa lagi saat melihat Anin tersenyum padanya padahal Ia sedang khawatir dengan keadaannya.
"Mas tidak ada yang perlu di khawatirkan okey." Anin mengecup bibir Kevin berniat untuk mengalihkan pembicaraan karena jujur saja Ia juga takut dengan keadaanya tapi Ia tidak ingin menambah ke khawatiran suaminya.
Kevin seketika melepaskan pelukannya dari pinggang istrinya dan menatapnya dengan tahapan yang begitu tajam. "Tidak ada yang perlu di khawatikan Kamu bilang? apa Kamu tahu dengan Kamu menghentikan meminum obat dari dokter Rian, dan memutuskan untuk hamil? itu sama saja Kamu ingin membunuh dirimu secara perlahan-lahan. apa kamu tahu wanita hamil dengan kondisi mengidap penyakit Bipolar sangat berisiko tinggi dan sangat buruk bagi kesehatanmu, dan bisa saja merengut nyawamu dan juga bayimu karena terlalu stress. Dan Aku tidak ingin itu terjadi, apa lagi jika harus kehilangan dirimu, jadi berjanjilah padaku, untuk menunda kehamilanmu hingga Kamu benar-benar sembuh sepenuhnya." nada bicara Kevin naik satu oktaf
"Tapi Aku takut Kamu akan berpaling dariku jika Aku tidak bisa memberikan penerus untuk Adhitama Grub." lirih Anin menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Aku tidak akan meninggalkanmu apapun yang terjadi percayalah sayang." Kevin melingkarkan tangannya di pinggang Anin dan mencium mata Anin yang terlihat sembab karena habis menagis.
"Maafkan Aku mas karena membentakmu dan menuduhmu?" Anin masih belum berani menatap mata elang Kevin, Anin merasa sangat bersalah karena menuduh suaminya begitu saja tanpa ada bukti.
"Kamu tidak salah sayang, Aku yang salah karena tidak menjelaskannya dari awal dan membuatmu salahpaham seperti ini" Kevin membenamkan wajahnya di antara belahan dada Anin dan itu membuatnya sangat nyaman.
"Aku mencitaimu mas Kevin." Anin memeluk Kevin begitu erat membuat wajah Kevin semakin dalam terbenam di tempat favoritnya.
"Aku mencitaimu melebihi Kamu mencintaiku percayalah Anindira maheswari" balas Kevin masih dengan posisi yang sama, bahkan Kevin mulai nakal mengesek-gesekkan hidungnya mancungnya di sana.
"Lain kali jika mas Kevin punya masalah apapun itu, mas Kevin harus memberitahuku agar mas Kevin tidak terbebani seperti ini" Anin mengelus punggung Kevin dengan lembut.
"Mas geli ih" Anin melapaskan pelukannya dan hendak turun dari pangkuan Kevin, karena tangan suaminya mulai nakal menjelajahi tubuhnya.
"Kamu sedang mengodaku sayang?" ucap Kevin menatap Anin dengan tatapan sayunya.
Anin segera mejauhkan tangannya saat Ia menyadari sedari tadi tangannya menyentuh milik suaminya. "Mas Kevin mesum ih"
-
-
-
-
-
__ADS_1
TBC
Jangan lupa dukung Author dengan memberikan Like, komen, Vote, dan jangan lupa menambahkan sebagai cerita favorit kalian, agar mendapatkan notifikasi setiap up