Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Lukisan


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan selama dua belas jam, akhirnya Kevin sampai di bandara Bandar Udara Internasional Beijing jam dua siang. Kevin di jemput salah satu sopir pribadi Tuan Fang, untuk mengantarnya ke hotel Grand Millennium Beijing.


Setelah sampai di hotel, Kevin disambut dengan ramah oleh salah satu staf hotel dan membantunya membawa koper Kevin ke kamarnya yang berada di lantai 10 kamar 321.


"Semoga Anda betah di sini Tuan, jika ada yang Anda perlukan silahkan hubungan Kami" ucap staf hotel sopan tentunya berbahasa inggris.


"Bisa beri tahu Saya, galeri seni terbaik di kota ini, Saya ingin membeli lukisan sebagai oleh-oleh" tanya Kevin, yang ingin memberikan hadia untuk oma Jelita.


"Ah iya ada Tuan, di kota Beijing Galeri Seni yang sangat populer adalah Art Galeri" jawab staf.


"Tolong bawakan koper Saya masuk, Saya ada urusan sebentar" tanpa Istirahat Kevin langsung mengunjung Art Galeri untuk membelikan lukisan untuk Oma Jelita. Kevin ingin menghibur Omanya yang selalu bersedih jika mengingat Anin.


Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit, akhirnya Kevin tiba di Art Galeri yang katanya tempat terpopuler karena memiliki karya-karya seni yang sangat terkenal.


Kevin berkeliling memperhatikan setiap lukisan yang di pameran di dalam ruangan tersebut, mata Kevin tertuju pada sebuah lukisan yang menurut nya sangat indah dan juga unik.


"Tuan apa Anda menginginkan sesuatu?" tanya Qian manajer Art Galeri.


Kevin mengalihkan pandangannya dari lukisan yang berhasil menarik perhatiannya, dan menatap wanita cantik dan seksi yang sedang berdiri di sampingnya.


"Tolong bungkuskan Saya lukisan ini." ucap Kevin yang kembali memperhatikan lukisan di hadapannya.


"Apa kesan Anda sehingga ingin membeli lukisan ini Tuan?" tanya Qian.


"Saya hanya merasa lukisan ini memiliki arti yang begitu dalam." jawab Kevin, pasalnya lukisan itu mengigatkannya pada Anin, seseorang yang di rindukannya selama ini.


"Tapi Tuan, Kami belum bisa menjual lukisan ini, Kami belum menerima sertifikat kepemilikan dari pemiliknya, karena lukisan ini baru beberapa hari di pamaerkan." jelas Qian.


"Tidak apa-apa jika tidak ada sertifikat kepemilikannya, lagi pula Saya hanya ingin menyimpannya dan tidak untuk di jual kembali." Kevin tetap kekeh ingin membeli lukisan itu.


"Kalau begitu, tunggu sebentar Tuan, Saya ingin mengabari nona Elice dulu untuk meminta persetujuannya." Qian berjalan menjauhi Kevin dan segera menelfon Elice.


"Halo nona Elice" ucap Qian setelah sambungan telfon terhubung.


"Iya ada apa Qian" jawab Anin melirik Dilan yang duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Ada seseorang Pria kelahiran Indonesia ingin membeli lukisan Anda nona, tapi sertifikat kepemilikannya belum Anda serahkan pada admin Art Galeri." jelas Qian.


"Qian Kamu sedang tidak kerja sama dengan bosmu kan untuk membeli lukisan itu hanya untuk menyenangkanku?" Anin kembali melirik Pria di sampingnya, sementara yang dilirik hanya mengedikkan bahunya tanda tidak tahu.


"Tidan nona Elice, bahkan Saya tidak mengenal Pria tersebut, tapi kelihatannya Dia Pria mapan dan sangat berwibawa" Qian terkekeh mendegar penuturan Anin, pasalanya Qian tahu bahwa bosnya itu menyukai Elice dan pasti mereka sedang bersama. "Apa Anda ingin cerita dengan Tuan itu?" tanya Qian yang tidak tahu nama Kevin.


"Tidak perlu Qian, berikan saja padanya lukisan itu, dan minta alamatnya, nanti Saya sendiri yang akan mengantarkan sertifikat kepemilikannya."


"Baiklah nona" Qian memutuskan sambungan telfonnya dan kembali menemui Kevin.


"Maaf Tuan sudah membuat Anda menunggu, kata nona Elice Dia sendiri yang akan mengantarkan sertifikat kepemilikannya dan sekalian berterima kasih pada Anda, jadi tolong tulis alamat Anda Tuan." Qian memberikan kertas pada Kevin.


Kevin mengambil kertas tersebut dan segera menuliskan alamatnya, setelah itu Kevin memberikan kertas tersebut pada Qian. "Saya permisi dulu Nona." Kevin meninggalkan Art Galeri tersebut dan berniat menunggu pemilik lukisan itu di kamar hotelnya sekalian istirahat.


Langkah Kevin terhenti saat ponselnya berdering, dengan segera Kevin menjawab panggilan tersebut setelah mengetahui Id penelfon. "Ada apa?" tanya Kevin datar dan melanjutkan langkah kakinya menuju parkiran.


"Asisten Tuan Fang mengabari Saya bahwa meetingnya di majukan jam empat sore Tuan" ucap Ans langsung pada intinya karena waktunya sudah sangat mepet.


Kevin melirik jam tangannya dan jam menujukkan pukul 15 : 30 yang artinya setengah jam lagi meeting di mulai. "Baiklah Saya akan segera kesana" Kevin membatalkan niatnya untuk menunggui nona Elice di hotel, toh meeting lebih penting.


"Benar bukan Kamu kan?" Anin menatap Dilan dengan penuh selidik.


"Sumpah bukan Aku Elice." Dilan mengangkat jari tengah dan telunjuknya membentuk huruf V. "Aku tidak akan melakukan hal itu Elice, Aku ingin seseorang membeli lukisanmu karena memang Ia tertarik dan mengerti arti dari lukisanmu itu, bukan karena paksaan." jelas Dilan. Sebenarnya memang Dilan punya rencana seperti itu, namun segera di urungkan karena itu sama saja Ia menenggelamkan karya-karya Anin tanpa di ketahui banyak orang.


"Kalau begitu Aku pergi dulu oke, Aku ingin menemui pria yang benar-benar mengerti lukisanku" goda Anin, membuat Dilan mengembangkan senyumnya.


"Butuh sopir nga?" teriak Dilan.


"Nga usah" balas Anin yang sudah menghilang di balik pintu.


____


Akhirnya Anin sampai juga di hotel Grand Millenium Beijing, Anin segera menuju resepsionis untuk menayankan keberadaan pembeli lukisannya.


"Permisi, Saya ingin bertemu dengan oenghuni kamar no 321 lantai 10." ucao Anin pada resepsionis.

__ADS_1


"Tunggu sebentar nona" resepsionis tersebut segera menghubungi telepon kamar 321 namun tak kunjung di jawab oleh pemilik kamar. "Sepertinya pemiliknya tidak ada di ruangannya nona, silahkan Anda menunggunya di sana" resepsionis tersebut menunjuk sebuah sofa yang tak jauh dari tempat Anin berdiri.


"Baiklah Saya akan menunggunya, terimakasih" Anin melangkahkan kakinya dan mendaratkan tubuhnya di sofa.


Tiga puluh menit telah berlalu namun orang yang di tunggu belum datang juga, Anin mengambil ponselnya dan menghubungi Qian untuk menanyakan pria tersebut.


"Halo Qian, apa Kamu punya no ponsel Pria tersebut?" tanya Anin setelah sambungan telfon terhubung.


"Maaf nona Elice, Saya tidak sempat bertukar nomor padanya." Qian benar-benar lupa meminta no ponsel Kevin.


"Baiklah" Anin menutup sambungan telfonnya.


Anin memutuskan untuk menitipkan sertifikat dan juga ucapan terimakasih pada resepsionis, karena malam ini Ia ada janji dengan Dilan untuk menghadiri pesta topeng.


"Tolong berikan ini pada pemilik kamar 321 nona" ucap Anin sopan dan berlalu pergi.


Anin sebenarnya masih penasaran dengan pria yang katanya kelahiran Indonesia itu, dan waktunya kurang pas untuk bertemu, Anin segera menyetop taksi dan meninggalkan kawasan hotel tersebut.


Baru saja taksi yang naiki Anin pergi, mobil yang di tumpangi Kevin berhenti di depan hotel.


Ah gagal deh ketemunya😔,jika saja Anin mau menunggu sedikit lebih lama lagi mungkin mereka sudah bertemu." ucap Author☺.


-


-


-


-


-


TBC


Jangan lupa dukung Author dengan memberikan Like, komen, Vote, dan jangan lupa menambahkan sebagai cerita favorit kalian, agar mendapatkan notifikasi setiap up.

__ADS_1


__ADS_2