Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Pembatalan Rapat


__ADS_3

"Udah punya pacar atau belum yah Dokter Julian?" Luna pun ikut merancau dengan kedua mata yang tak berkedip melihat punggung Julian di kejauhan.


"Yang ngaku - ngaku banyak. Tapi, yang di akui belum ada." jawab Naura yang masih terbuai.


Naura kembali tersadar. Kepalanya menggeleng saat Naura kembali fokus pada tujuannya pagi ini. Lelaki yang membuatnya terhipnotis dan terbuai itu adalah salah satu yang akan menjadi pengadil dalam rapat nanti.


Apa mau di kata? Naura tidak bisa munafik saat lelaki tampan itu lewat menguji iman perempuan jomblo seperti dirinya.


"Hmmm!" Naura berdehem keras. "Cepat ikut ke ruanganku, masih ada sisa waktu sebelum aku menghadiri meja perang!"Titah Naura tegas dengan mengembalikan sikap angkuh dan percaya dirinya.


"I-Iya Dokter Naura, maaf." sahut Luna tergagap.


...***...


"Kau yakin dengan keputusanmu, Julian?" tanya Bimantara ingin kembali memastikan.


"Aku tak suka berucap hingga dua kali. Yang aku ucapkan tadi sudah jelas. Aku tetap dengan keputusanku." Julian bersikeras.


"Bukannya aku budeg ataupun tak fokus mendengarkanmu. Hanya saja aku merasa kau sedikit melunak dan berbaik hati pada anak bimbingmu itu." Bimantara menahan senyuman seolah enggan untuk tertawa mengejek goyahnya seorang Julian.


"Keputusanku tak ada sangkut pautnya dengan sikapku dengan dia." Julian membantah tegas. Tak ingin Bimantara mengetahui maksud terselubung di balik keputusannya.


"Ya, ya, ya! Dokter Julian memang selalu telat dalam menangani permasalahan. Tapi Julian, apa kau yakin kita tidak usah melangsungkan rapat dengan dokter senior yang lain? Berita kemarin itu cukup menghebohkan dan viral sampai sekarang. Karena ada saksi yang...."


"Aku salah satu yang menyaksikannya sendiri!" Sela Julian cepat. "Kamera dashboard di mobil Bayu bisa menjadi bukti atas perbuatan mereka kemarin. Dari pada membicangkan hal yang tak penting sampai mengumpulkan para dokter senior di rumah sakit ini, lebih baik lakukan tugas mereka untuk menolong pasien. Dokter Bimantara bahkan tahu sendiri berapa banyak pasien yang datang lewat pintu IGD kita. Haruskah aku menjelaskannya secara detail layaknya anak TK kepada Dokter Bimantara yang terhormat?"


Bimantara langsung meringis senyuman mendengar ucapan dari Julian yang penuh dengan penekanan kata. Lelaki 45 tahun itu pastilah paham, jika Julian sudah berkata ironi seperti itu.


"Aku kalah! Aku kalah! Tapi sangat di sayangkan ada seseorang yang mengadu hingga mendatangkan orang yang kemarin mengirimkannya kesini!"


"Apa? Ada yang mengadu?"


...***...

__ADS_1


"Apa? Rapatnya di batalkan?"


Naura terkesiap mendengar kabar di batalkanya persidangan tindakan tegas perbuatannya kemarin langsung dari mulut Luna. Kacamata yang bertengger di depan mata langsung di lepaskan. Kedua mata cantiknya bahkan membelalak menatap Luna yang langsung mengulas senyuman kepada-nya.


"Harusnya Dokter Naura itu senang, itu tandanya Dokter Naura tidak akan menjadi mangsa yang melezatkan dari mata dan mulut dokter senior di sini." Luna menyambut bahagia kabar bebasnya Naura dalam rapat yang terkenal horor di rumah sakit itu.


Kedua mata Luna mengawasi keadaan sekitar. Lalu kedua kakinya melangkah maju untuk semakin dekat dengan Naura yang terduduk masih terkesiap.


"Saya dengar Dokter Julian sendiri yang membatalkan rapat itu. Sepertinya Dokter Julian tidak percaya kalau Dokter Naura sudah melakukan hal yang vulgar dengan Dokter Bayu," bisik Luna dengan berhati - hati.


"Do- Dokter Julian?" Naura semakin terkesiap.


"Iya, Dokter! Ini adalah fenomena yang langka dan sangat mengejutkan. Ah...! Belum dua Minggu Dokter Naura di sini, tapi Dokter mampu mencuri perhatian orang-orang famous di rumah sakit ini."


"Ada apa dengan lelaki itu? Bukankah kemarin dia menatapku dengan penuh kebencian? Lalu? Apa ini? Mungkinkah...."


Tok...Tok... Tok..


Suara hati Naura terhenti oleh suara ketukan pintu dari arah luar. Tanpa ingin membuang waktu sampai hati semakin di serbu rasa penasaran, Luna langsung berjalan menuju pintu lalu membukanya lebar-lebar.


Kedua mata Naura terbelalak, membulat sempurna. Sekujur tubuhnya langsung menegang. Jantungnya pun tersentak di serang rasa takut pada sosok lelaki yang berucap dingin dengan menuduh.


Naura masih mematung di tempat duduknya hingga dadanya sesak akan remasan kasar yang memaksa tanpa meminta ijin.


"A-Ayah...." lirih Naura lemah.


Luna mengambil langkah seribu, setelah mendengar lirihan lemah penuh dengan kesedihan dari Naura sampai ke telinga. Perawat itu pun langsung meninggalkan Ayah dan anak itu dalam suasana canggung yang menyelimuti.


Sempat ingin menguping, di karenakan jiwa kepo dari Luna mulai meronta - ronta. Namun, Luna mengurungkan niatnya di karenakan hati yang tidak ingin mengecewakan Naura yang sudah begitu baik pada dirinya.


Galang Daehan Moriss, pemilik Daehan Hospital yang berada di kota S, memasuki ruangan Naura. Kedua mata mengawasi ruangan yang tidak terlalu besar itu. Ada keangkuhan yang tampak jelas terbaca saat dagu lelaki 58 tahun itu terangkat.


"Kau memang tidak bisa di percaya Naura! Di sini atau pun di sana, tingkahmu sama saja!" Galang langsung menyerang Naura dengan kekecewaannya.

__ADS_1


"A-Ayah sudah tahu?" tanya Naura dengan suara yang parau.


Tatapan Galang langsung terlalihkan pada Naura yang menatap tajam. Terfokuskan pada kedua mata Naura yang memerah dan berkaca-kaca di penuhi oleh genangan air mata.


"Apapun yang kau lakukan di sini, Ayah itu tahu semuanya! Kau memang tidak pernah berniat untuk mengambil kesempatan yang telah Ayah beri? Atau kau memang mau membuktikan jika omongan negatif dari orang - orang tentangmu itu benar? Kau memilih profesi ini hanya karena cemburu dan berambisi untuk mendapatkan saham kepemilikanmu?" serang Galang menuduh tanpa ampun.


"Ayah...! Kenapa Ayah tega berkata seperti itu?" Naura terperangah mendapatkan serangan tuduhan dari orang tua satu - satunya yang ia miliki.


"Apa Ayah salah? Bukannya fokus membuktikan diri, tapi kau malah fokus main - main dan melakukan hal yang tak bermoral dan menjijikkan!" Ada nada menggeram yang menekan, saat Galang kembali menyerang Naura tanpa ingin mengetahui kebenarannya. "Dan sikap angkuhmu ini semakin menjadi - jadi! Mobil yang Ayah berikan kepadamu kau kembalikan melalui Ibumu!"


"Dia bukan Ibuku!" Sahut Naura cepat dengan nada yang lantang.


"Tapi dia itu istri Ayah, dan otomatis dia itu ibumu!" Galang tidak mau kalah berucap dari Naura.


"Ibuku hanya satu yaitu Bunda!" Bantah Naura tegas. "Dan mengenai mobil itu, Ayah masih percaya saja dengan ucapan Nenek sihir itu?"


"Dia ibumu Naura! Jaga bicaramu!" Galang memaksa.


"Aku cuma Bunda! Dan Bunda telah dia kirim ke surga!" Air mata Naura jatuh membasahi pipinya ketika hati tak bisa lagi menahan rasa sakit yang terus menyerang tanpa ampun. Hati Naura tak lagi memiliki ruang untuk menampung segala tuduhan Galang yang begitu kejam. Sayatan luka lama yang telah mengering kembali menganga. Namun, tak mengeluarkan darah.


...*******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.


__ADS_2