
Sebelum bertemu dengan teman-temannya, Viana meminta Doni untuk berhenti di sebuah pusat perbelanjaan. Mereka masuk ke bangunan raksasa tersebut. Doni punya firasat buruk sedari awal berangkat dari rumah. Pasti Viana akan berlagak sok jadi majikannya lagi setelah ini. Dugaan Doni benar, istrinya membeli banyak barang seperti pakaian, aksesoris, dan sepatu.
"Lo bayar!" ucap Viana pada suaminya dengan penuh penekanan.
"Kok gue yang bayar? Ini semua, kan, belanjaan elo." Doni mengerutkan dahi sambil menggeleng-geleng pelan.
"Gue nggak mau tahu. Elo bayar."
"Seenaknya lo, ya. Gue ini, kan, suami elo--"
"Nah, justru itu. Karena elo itu suami gue, jadi elo bayarin gue."
"Nenek peyot! Enaknya aja lo mau. Di bagian untungnya gue, lo nggak pernah mau ngasih." Lelaki tersebut mendelik sambil berlalu ke meja kasir dan membayar barang-barang belanjaan Viana yang begitu banyak.
Tak berselang lama, Doni kembali dengan membawa puluhan kertas plastik, tentu di dalamnya berisi belanjaan Viana.
"Gue udah bayarin semua. Sekarang elo yang bawa ini semua." Doni cukup kelelahan membawa barang-barang tersebut, lalu mengangkat tangan kanan demi memberikan Viana lima kertas plastik.
"Nggak mau! Elo yang bawa."
Tentu saja, Viana tidak peduli suami tidak pentingnya itu kelelahan atau kesal, lantas perempuan tersebut menjejakkan langkahnya untuk segera keluar dari pusat perbelanjaan.
"Sialan!" umpat Doni sedikit berteriak.
Setelah dari pusat perbelanjaan, dua insan tersebut menuju sebuah kafe untuk bertemu dengan teman-teman Viana. Mereka sampai setelah dua puluh menit menyetir, ada tiga orang perempuan menunggu Viana di meja outdoor kafe.
Doni mengembuskan napas gusar, ia diam tak bergerak setelah menambatkan mobil dan melihat Viana keluar.
Viana menolah ke belakang dan tidak menemukan Doni. Akhirnya, perempuan tersebut kembali menjejak menghampiri sang suami di mobil yang tengah menikmati sebatang rokok putihnya.
"Heh! Elo santai amat di sini. Ikut gue!"
Baru saja Doni mencoba santai dan menenangkan diri, suara Viana yang membuat Doni tersentak kaget dan dengan lugas mata lelaki itu menoleh.
"Apaan, sih? Ngagetin orang terus kerjaan lo." Doni bersungut kesal. Dahinya tambah mengerut menandakan kesal sudah mencapai ubun-ubun terhadap istrinya.
"Eh, keluar lo! Ikut gue!"
Terpaksa Doni membuka pintu mobil dan keluar, mengikuti kemauan istri galaknya itu ke meja kafe yang sudah diisi oleh beberapa perempuan.
__ADS_1
Ketika satu perempuan berambut gelombang tergerai sepunggung menyadari kehadiran Viana beberapa meter dari meja tempatnya duduk, ia memberitahukan kedua temannya.
"Eh, Viana udah dateng sama suami terpaksanya, tuh."
Dua perempuan semringah, langsung memeriksa keberadaan Viana.
"Hello, Viana sayangku," sambut perempuan dengan rambut sebahu. Ia langsung cupika cupiki dengan Viana.
"Sorry, tadi gue abis ke Mal. Makanya telat, nih," ucap Viana yang kemudian duduk setelah selesai acara cupika cupiki dengan para sahabatnya.
Sementara itu, Doni mendelik dengan kesal. Ia duduk di meja lain yang tak jauh dari meja tempat Viana dan teman-temannya duduk. Begitu membosankan bagi Doni. Ia mengetuk-ngetuk meja dengan kelima jarinya hingga terdengar seperti suara sepatu kuda.
"Eh, Vi. Elo nggak ajakin suami tercinta elo gabung sama kita?" tanya perempuan dengan rambut gelombang yang diketahui namanya ialah Vika.
"Oh, iya. Gue lupa. Bentar." Viana bangkit dan menghampiri Doni yang terlihat begitu bosan.
Doni adalah pria yang tampan dan tidak memalukan jika diajak bertemu dengan siapa pun. Setiap perempuan bisa saja jatuh ke dalam pesona Doni yang luar biasa. Penampilannya yang elegan dengan mengenakan jeans mahal dan kemeja mahal juga menjadi daya tarik tersendiri dalam diri seorang Doni. Ia kadang mengenakan topi sebagau aksesoris. Juga kalung yang terbuat dari stainless kerap kali menghiasi lehernya.
"Eh, ikut gue duduk di sana," ucap Viana yang kemudian membuat Doni menolehkan pandangannya dengan malas.
"Ngapain? Gue nggak ada kepentingan sama teman-teman lo."
Jika Viana sudah bersikeras, tak ada lagi kata penolakan yang bisa dilontarkan Doni untuk mengelak. Ia hanya bisa menuruti semua perintah Viana.
Dengan malas Doni beranjak berdiri, lalu mengikuti langkah Viana. Setelah sampai di meja, Doni duduk di sebelah Viana.
Meja di kafe ini memanjang, cukup diduduki untuk enam orang. Jadi, di sisi meja satunya, hanya diduduki oleh Viana dan Doni. Sementara sisi meja satunya ada tiga orang teman Viana.
"Ini dia s-suami gue. Vika, Nana, Lili. Kenalin, dia Doni."
Ketika melihat sang suami, Viana begitu kesal karena lelaki tersebut ternyata sama sekali tidak menatap ke depan, melainkan menumpu kepalanya di dagu dengan tangan kanan, lalu menghadap ke jalan yang cukup ramai.
"Eh! Lo ngelamun apaan, sih? Itu kenalin temen-temen gue." Viana menyipitkan matanya.
Doni langsung menoleh dan menyalami satu per satu teman Viana sambil menyebutkan namanya.
"Hai, gue Vika."
"Gue Lili."
__ADS_1
"Dan gue Na-Nana."
"Doni." Doni menatap dengan penuh pesona kepada tiga teman Viana.
Ketiganya tak mengalihkan pandangan selama beberapa menit. Apalagi pada perempuan terakhir yang Doni jabat tangannya, Nana. Perempuan tersebut terlihat sangat gugup dan belum mau melepaskan tangan Doni.
Viana yang melihat momen tersebut lantas mengerutkan dahi. Ada sebuah rasa tak suka di benaknya melihat tangan Doni berlama-lama tertaut dengan tangan Nana.
"Eh, udah, ya! Genit banget lo!" ucap Viana sambil melerai kedua tangan yang saling tertaut tersebut.
Semestinya Viana menyalahkan Nana yang memang memegang erat tangan Doni. Nyatanya tidak mungkin ia lakukan. Akan terlihat tidak elegan baginya jika membela Doni sedangkan misinya adalah untuk menghancurkan hidup Doni dalam sebuah ikatan pernikahan.
Doni melenguh panjang, lalu kembali menumpu kepalanya dengan tangan. Setelah itu, berbagai perbincangan disuarakan oleh Viana bersama teman-temannya. Cukup lama hingga beberapa jam berlalu, membuat Doni sangat bosan dan mengantuk.
Dasar cewek garang. Gue sebagai suami lo, akan mengutuk lo jadi bongkahan emas! batin Doni menggerutu.
--------
Doni tengah nongkrong di ruang tamu sambil menonton sebuah acara televisi. Tak lama kemudian, ia mencium wangi yang mengundang nafsu lelakinya. Spontan Doni menolehkan pandangan ke samping, lalu melihat Viana yang berjalan dan akan masuk ke kamar setelah selesai mandi. Ia hanya mengenakan handuk. Kulitnya yang putih bersih itu semakin membuat hasrat Doni bergejolak.
Naluri lelaki Doni memaksanya untuk mencegah Viana yang akan memasuki kamarnya. Lelaki tersebut berdiri di depan pintu sambil memandangi Viana yang terhenti seketika.
"Ngapain, sih, lo! Minggir! Gue mau masuk."
Meski telah berkata begitu, Doni tetap tidak mau menyingkir dari depan pintu. Lamat ia memandangi sang istri dari ujung kaki hingga ujung rambut. Sesekali Doni menyapukan lidahnya di bibir.
Dengan amat cepat tangan Doni meraih leher Viana. Ditariknya Viana dengan tenaga yang besar sehingga tak mampu perempuan itu menandingi. Sambil memeluk Viana, Doni melumat bibir istrinya. Namun, Viana menolak, itu terbukti saat Viana berusaha mengatup bibirnya. Doni tak mau kalah sehingga lidahnya menerobos masuk ke mulut sang istri.
Untuk menghindari perlawan Viana, Doni membelenggu tangan perempuan tersebut dengan kedua tangannya. Alhasil, Viana tidak bisa berontak.
Saking bernafsunya, Doni mendorong Viana ke tembok sehingga istrinya itu tidak bisa menghindari.
Ada satu hal yang ditakutkan oleh Viana, yaitu handuknya yang ia rasa akan terlepas sedikit lagi. Doni menyadari hal tersebut sehingga ia tak segan menarik sehelai kain bernama handuk yang menempel di tubuh istrinya dengan kasar. Dan terlihatnya liang kewanitaan Viana, terpampang di kedua mata Doni sehingga membuatnya semakin brutal melancarkan aksi.
Viana menghindari, dengan sekeras-kerasnya ia tarik tangan dari genggaman Doni yang lengah, lalu dihantamnya sang suami tepat di mata kanan.
Doni melihat Viana sambil memegang matanya yang sakit. Ya, yang dilihatnya adalah bulir-bulir air mata di manik sang istri. Kini menetes tak terhentikan.
-----------
__ADS_1