
"Kenapa Kamu membencinya? Kamu kan belum pernah bertemu dengannya" jawab Ans.
"Tentu saja Aku membencinya Dia Itu ingin merebut Kevin dari Anin." Tari kini menyimpan pisau yang Ia pakai untuk memotong-motong sayuran, dan menatap Ans dengan tatapan tajam.
"Bagaimana kalau Kita balik posisinya?" Ans menyeringai.
"Posisi apa?" tanya Tari mengerutkan keningnya.
"Bayangkan jika Kamu yang menjadi Anna, Kamu keluar negeri untuk mendapatkan yang Kamu inginkan, dan pacarmu malah menikah dengan wanita lain? dan akan menjadi seorang Ayah, apa Kamu tidak akan merasakan sakit?"
"Tentu saja Aku akan sangat sakit" Tari mengerucutkan bibirnya.
"Tuh Kamu tahu" Ans senyum.
"Tapi tetap saja, Anin tidak bersalah dalam hal ini, Tuanmu itu sangat egois untuk menjadi seorang Pria, tidak ingin memutuskan hubungan dari salah satu wanita, dengan alasan tidak ingin menyakitinya, hah omong kosong" maki Tari.
"Kenapa Kamu malah mengurusi urusan rumah tangga mereka? dan kenapa Kamu akhir-akhir ini mencari tahu tentang Dilan?" Ans penuh selidik.
"Apa Kamu tidak bisa menebak jalan pikiranku bodoh? Aku mencari tahu tentang Dilan untuk berjaga-jaga jika Anin nantinya di sakiti oleh Tuanmu, Aku akan menyuruh Dilan untuk kencan dengan Anin. Lagian Dilan juga Pria yang lumayan sukses" Tari mengembangkan senyumnya saat membayangkan wajah Dilan yang sedang tersenyum.
"Dan yang Aku lihat, Dilan juga ada rasa dengan Anin" Tari memanas-manasi Ans.
"Sudahlah, cepatlah memasak ! Aku sangat lapar" pinta Ans.
"Tunggu kenapa Kamu bisa pulang cepat? tidak biasanya" Tari dengan tatapan meneyelidik. "Bukankah Tuanmu itu sangat gila kerja?" Tari tertawa seperti orang gila, saat mengingat Ans beberapa kali memakan omongannya sendiri, Dia yang mengatakan rumah adalah tempat istirahat bukan untuk bekerja. Namun Dia sendiri yang melakukannya.
"Aku memberitahunya bahwa Kita akan pergi kencan, dan mengatakan bahwa Kita itu pacaran" jawab Ans datar.
Seketika Tari berhenti tertawa "Apa? apa Kamu sudah gila? buat apa Kamu memberitahukan ini pada Tuanmu, Kita kan hanya pura-pura." Tari lagi-lagi menghentikan pekerjannya.
"Bagaimana lagi, Kamu kan yang mengatakan jika Tuan Kevin itu gila kerja?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari ini adalah hari dimana Anin akan menemui pemilik jam tangan antik tersebut, dan Ia sekarang sedang menunggu Dilan untuk menjemputnya setelah membuatkan sarapan untuk Kevin.
__ADS_1
"Aku jadi gugup" Anin meremas jari tangannya sendiri saat berada di dalam lift menuju apartemen Pak Abian.
"Tenangkan dirimu dan jangan gugup Aku akan membantumu bicara jika itu perlu" ucap Dilan
Ting
Pintu lift terbuka membuat Anin semakin gugup, apa lagi saat langkahnya semakin dekat pada unit apartemen 209.
Lama Dilan memencet bel, hingga seseorang membuka pintu. Dilan dan Anin mengembangkan senyumnya saat sang empunya membuka pintu.
"Apa Kamu yang bernama Dilan?" tanya pak Abian dengan wajah datarnya.
"Iya pak" Dilan mengangukkan kepalanya.
"Masuklah, tapi buka sepatumu !" perintah pak Abian dan segera di laksanakan oleh keduanya.
"Saya sudah tahu maksud kedatangan Kamu kesini, jadi langsung saja pada intinya" masih dengan wajah datar nya.
Anin dan Dilan lagi-lagi hanya mengangukkan kepalanya, mereka tidak ingin memperburuk keadaan dengan membuka suara.
"Jam tangan ini adalah jam tangan yang sangat langkah, dan mungkin ini hanya tersisa satu, jam tangan yang di desain sebaik mungkin oleh seorang seniman, dengan ukiran yang penuh dengan makna kehidupan" Pak Abin menjelaskan sembari memperlihatkan jam tangan tersebut.
"Saya sudah memperlihatkannya pada kalian, jadi silahkan pergi" Pak Abin menyimpan jam tangan tersebut lalu berdiri menyuruh Dilan dan Anin pergi.
Namun keduanya bahkan tidak bergeming di temptanya. "Apa bapak bisa menjualnya pada Saya" Anin akhirnya angkat bicara setelah mengumpulkan keberaniannya.
"Berapa Kamu ingin membelinya" Pak Abian kembali duduk di hadapan Anin dan juga Dilan.
"Berapa yang bapak inginkan, tapi untuk saat ini Saya hanya membawa uang cas sebesar tiga puluh juta." jawab Anin gugup.
Pak Abian tertawa "Saya tidak menjualnya pada orang yang menilai barang antik dengan uang"
"Saya benar-benar kecewa pada Anda pak Dilan, orang yang terkenal dimana-mana sebagai peneliti barang antik, dan menjadi manajer perajin seni terkenal. Namun menghargai sebuah benda dengan uang" Pak Abian senyum kecut.
Dilan diam saja, dan memberikan kesempatan untuk Anin bernegosiasi.
__ADS_1
"Apa yang harus Saya lakukan agar bapak memberikan jam tangan itu?"
"Syaratnya sangat gampang, ceritakan kisahmu padaku dan jika Saya tersentuh, Aku akan memberikannya dengan suka rela, karena Aku ingin mendapatkan inspirasi baru."
Anin diam saja membuat Pak Abian kembali bersuara "Jika tidak ada lagi yang perlu Anda sampaikan silahkan pergi, Saya sedang sibuk" pak Abian berjalan kearah pintu, membuka pintu dan mempersilahkan Dilan dan juga Anin keluar.
Dengan terpaksa Anin keluar dari apartemen tersebut, sementara Dilan ikut saja dibelakang. Dilan juga tidak bisa melakukan apa-apa, pak Abian bukanlah orang yang mudah dibujuk, apa lagi Ia meminta Anin menceritakan kisah hidupnya, dan itu tentu saja, Dilan tidak bisa melakukannya.
"Maaf, Aku tidak bisa membantumu untuk yang satu ini" ucap Dilan setelah mereka keluar dari apartemen Pak Abin.
"Tidak apa-apa, ini urusanku dan Aku yang harus menyelesaikannya" jawab Anin senyum.
"Dan maaf juga, sepertinya Aku tidak bisa mengantarmu pulang, Aku harus kebandara sebentar lagi pesawat yang Akan aku naiki akan berangkat" ucap Dilan.
"Kamu mau kemana?" tanya Anin.
"Eropa, Aku mendapat kabar dari anak buahku, bahwa ada seseorang yang kemungkinan adalah Adikku, jadi Aku harus berangkat untuk memeriksa hasil tes DNA secara langsung, setelah itu Aku akan kembali sebelum ulang tahunmu tiba."
"Ulang tahunku kan tiga hari lagi? apa Kamu tidak capek jika bolak-balik Eropa - indonesia?" protes Anin.
"Tentu saja tidak jika itu untukmu" Dilan senyum.
"Semangat, dan semoga kali ini Kamu tidak kecewa dengan hasilnya."
Dilan meninggalkan Anin di lantai 5 dimana Apartemen pak Abian berada. Anin membulatkan tekadnya, akan kembali ke apartemen itu untuk membujuk pak Abian, bagaimana pun waktunya tinggal 3 hari lagi.
Anin menunggu pak Abian di depan apartemennya, saat pak Abian keluar Anin mulai membujuk pak Abin dengan berbagai cara. bahkan Anin ngintilin kemanapun pak Abian pergi, hingga malam tiba Anin belum juga dapat membujuk Pak Abin, dan Anin memutuskan bermalam di depan apartemen pak Abian.
"Mas Aku malam ini tidak pulang kerumah, malam ini Aku bermalam di rumah Tari." isi pesan Anin.
TBC
Jangan lupa dukung Author dengan memberika Like, komen, dan vote.
Terimakasih.
__ADS_1