Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Berharap


__ADS_3

Anin sampai di apartemen suaminya tepat jam sepuluh malam, dan mendapati apartemen berantakan sama seperti saat Ia meninggalkannya. Anin melihat suaminya tidur telentang di atas tempat tidur, tanpa mengganti baju bahkan Kevin masih memakai sepatunya.


Anin menghembuskan nafas panjang dan mulai membereskan apartemennya, setelah itu Anin membantu suaminya menganti baju dan juga membersihkan tubuh suaminya dengan air hangat.


"Hah, kenapa Aku merasa mempunyai bayi?" Anin geleng-geleng kepala setelah membersihkan tubuh Kevin yang bahkan tidak terganggu dengan aktivitas Anin di tubuhnya.


Setelah di rasa cukup, Anin juga membersihkan tubuhnya dan ikut tidur di samping suaminya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Huam" Kevin mengeliat meregangkan otot-ototnya yang terasa pegal. Kevin menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang karena kepalanya terasa sangat pusing. "Ah kenapa kepalaku sakit sekali?" Kevin memiijit pelipisnya untuk meringankan sakit kepalanya.


Kevin mengedarkan pandanganya ke seluruh penjuru kamarnya, dan terakhir memperhatikan pakaiannya yang hanya memakai kaos oblong dan celana pendek. "Tidak mungkin Ans yang melakukannya." Kevin mengelengkan kepalanya menepis semua pikiran kotor yang ada di otaknya, dan jika benar Ans yang mengganti pakaiannya, maka itu menjatuhkan harga dirinya.


"Aku akan membunuh Ans" ujar Kevin berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Kevin mengerjap-ngerjapkan matanya saat melihat istrinya tengah sibuk di dapur. "Aku tidak lagi menghayalkan?" Kevin melangkah semakin dekat menghampiri istrinya dan memeluknya dari belakang.


Sakit kepala Kevin seketika hilang mendapati istrinya tengah menyipkan sarapan untuknya. "Sayang masak apa?" Kevin masih memeluk Anin dari belakang, namun Anin masih sibuk dengan pekerjaanya.


"Duduklah kamu mengangguku!" ucap Anin dingin dan melepaskan lengah kekar Kevin yang melingkar di pinggangnya.


Beberapa menit kemudian makanan sudah tersaji di atas meja, seperti biasa Anin melayani Kevin mengambilkan sarapan dan duduk berhadapan dengan Kevin dalam diam menyantap makannya.


"Sayang kamu yang ganti bajuku?" tanya Kevin setelah selesai sarapan.


"Kenapa? apa Kamu tidak suka jika wanita murahan sepertiku menyentuh tubuhmu yang suci!" ucap Anin dingin sembari membersihkan sisa-sisa sarapan mereka dan tidak memperdulikan Kevin yang terus mengekorinya kemanapun dia melangkah.

__ADS_1


"Maafkan Aku, karena menyakitimu, Kamu boleh menghukumku apapun itu asalkan Kamu bisa memaafkanku sayang" Kevin menarik Anin kedalam pelukannya yang hendak melangkah menuju kamar. "Tapi jika kamu tidak ingin memaafkanku, aku tidak akan memaksamu, tapi jangan bersikap dingin seperti ini padaku, aku tidak sanggup untuk itu." lanjut Kevin menangkup kedua pipi Anin dan menatapnya dengan tatapan memohon.


Anin membuang muka agar tidak bertatapan dengan Kevin. "Ah bodoh, kenapa aku tidak bisa marah jika melihatnya seperti ini" batin Anin.


Anin yang berencana untuk membalas Kevin dengan mendiamkannya beberapa waktu, membuatnya pusing jika melihat Kevin memohon padanya, Anin tidak sanggup melihat Kevin memohon seperti ini padanya, apa lagi jika Kevin memperlakukannya dengan manis. "Akh kenapa aku begitu lemah jika berhadapan dengannya!" batin Anin berteriak.


"Sayang tatap aku!" perintah Kevin mengelus lembut pipi istrinya.


"Sudahlah mas, Aku gerah ingin mandi!" Anin menepis tangan Kevin.


"Pukul aku sepuasmu, lampiskan semua kemarahanmu padaku, tapi berjanjilah setelah itu kamu jangan bersikap seperti ini lagi aku tidak sanggup Anin!" Kevin mengarahkan tangan Anin yang mengepal pada wajah dan juga dada bidangnya.


Tangis yang sedari tadi Anin tahan akhirnya meledak juga, Ia mengikuti saran Kevin untuk melampiaskan amarahnya, Anin memukul-mukul dada bidang Kevin sekuat tenaga dan Kevin menerimanya dengan pasrah.


Kevin bernafas lega melihat Anin mengeluarkan air matanya, itu artinya istrinya tidak lagi memendam sakit hatinya.


"Aku benci dan kesal sama mas Kevin, Aku tidak suka sifat mas Kevin yang terlalu posesif dan terlalu mengaturku, aku merasa mas Kevin tidak pernah mempercayaiku. Aku juga tidak suka dengan sifat cemburuan mas Kevin yang terlalu berlebihan, apa lagi menyimpulkan sendiri yang mas Kevin lihat tanpa mendengar penjelasanku. Aku tidak suka sikap mas Kevin yang selalu emosional dan tidak bisa di ajak bicara baik-baik!" bentak Anin mengeluarkan semua unek-unek yang di tahannya selama ini. Pukulan Anin semakin melemah dan bersandar di dada bidang suaminya.


"Tapi aku tidak berjanji dengan sikap posesifku, karena aku tidak suka jika seseorang menyentuhmu. Ingat walau Dilan sekarang adalah saudara kandungmu, tetaplah jaga jarak dengannya bagaimanapun dia tetaplah laki-laki normal!" Kevin menyeringai dan mengecup lembut bibir istrinya.


"Ais mas Kevin mulai lagi deh" Anin mendengus kesal dengan mengerucutkan bibirnya namun masih dalam dekapan Kevin.


"Sayang!" Anin memainkan jari telunjuknya di dada bidang Kevin.


"Kamu sedang mengodaku hem?" Kevin kembali mendaratkan ciumannya namun sedikit lebih lama dari sebelumnya. "Panggilah aku seperti itu mulai sekarang!" Kevin melepaskan pungutan bibirnya saat hampir kehabisan nafas.


"Ais dengarkan aku dulu. Mas Kevin tadi bilangkan apapun akan mas Kevin lakukan agar aku bisa memaafkan mas Kevin?" Anin menagih janji Kevin.

__ADS_1


"Apapun sayang, asal jangan minta aku untuk meninggalkanmu." ucap Kevin menyanggupi apapun keinginan istrinya.


"Mas aku ingin program hamil." lirih Anin takut menatap suaminya.


"Anin aku kan...." rahang Kevin kembali mengeras mendengar permintaan Anin yang tidak mungkin Ia sanggupi untuk sementara waktu.


"Sayang kamu sudah janji akan membicarakan baik-baik apapun itu masalahnya." Anin mengingatkan Kevin agar emosi Kevin tidak meledak. "Aku juga peduli kesehatanku, makanya aku memberitahumu ini agar kita berkonsultasi ke dokter Rian hari ini, mungkin saja ada perkembangan tentang penyakitku dan bisa mengurangi penggunaan obat sedikit demi sedikit." jelas Anin membuat Kevin bernafas lega, Kevin mengira Anin akan memaksakan diri untuk hamil.


"Tapi kamu janji tidak boleh bersedih apapun hasilnya nanti! karena aku akan tetap bersamamu mau kamu punya anak ataupun tidak, cintaku tidak akan berkurang untukmu." Kevin menyentil hidung mancung Anin. "Sana bersiap-siaplah, aku akan menghubungi dokter Rian!" lanjut Kevin.


"Mas aku mencintaimu!" Anin mengecup pipi Kevin dan berlari masuk kedalam kamar mandi.


"Kau sudah membuatku betekuk lutut Anin." gumam Kevin. Hati Kevin berbunga-bunga melihat perubahan Anin yang semakin manja padanya dan juga tidak sengang-segang memperlihatkan cintanya.


"Melihat perubahanmu setelah menjalani terapi dan mengonsumsi obat membuatku berharap banyak kali ini, semoga hasilnya tidak mengecewakan agar kau bisa memberikan keluarga yang lengkap untukku sayang." batin Kevin.


Kevin melangkahkan kakinya menuju balkon dan menghubungi dokter Rian, untuk membuat janji temu hari ini.


-


-


-


-


-

__ADS_1


TBC


Jangan lupa dukung Author dengan memberikan Like, komen, Vote, dan jangan lupa menambahkan sebagai cerita favorit kalian, agar mendapatkan notifikasi setiap up


__ADS_2