
"Kita makan dulu ya" tawar Kevin.
"Hmm" Anin menganggukkan kepalanya.
Setelah mendapatkan persetujuan, Kevin mengajak Anin ke restoran yang masih dalam area mall tersebut.
"Makanlah !" perintah Kevin saat melihat Anin diam saja dengan mode cemberut. Bagaimana tidak, Kevin memesan makanan tanpa bertanya padanya.
Anin diam saja
"Apa kamu tidak suka dengan makanannya?" tanya Kevin.
Anin menganggukkan kepalanya.
"ini demi kesehatan bayi Kita jadi makanlah !" Kevin menyodorkan sesendok makanan ke dalam mulut Anin. "Ayo makan" dengan terpaksa Anin membuka mulutnya dan mengunyah makanan itu perlahan.
"Bagaimana enak kan ?" tanya Kevin senyum karena berhasil membujuk Anin.
"Kenapa mas Kevin hari ini sangat perhatian tidak seperti biasanya" akhirnya pertanyaan yang terus mengganggu pikiran Anin berhasil keluar dari mulutnya.
"Maaf jika belakangan ini sikapku tidak baik padamu, tapi Aku berjanji mulai hari ini akan memperhatikanmu dan tidak akan membuat suasana hatimu memburuk, karena itu tidak baik bagi kandunganmu."
"Kenapa Mas Kevin tahu itu?" tanya Anin.
"Apa Kamu lupa Aku ayah dari anak yang ada dalam kandunganmu, tentu saja Aku harus memahami perubahan sikapmu agar Aku bisa menyesuaikan diri agar tidak membuat suasana hatimu memburuk.
"Bukan itu" Anin mengelengkan kepalanya
"Lalu ?" Kevin menatap dengan tatapan bingung.
"Kenapa mas Kevin sekarang banyak mengetahui tentang ibu hamil ? mulai dari perubahan hormon, rasa sakit, makanan bergizi, hingga perubahan hormon dan juga memberikan perhatian lebih jelas Anin.
"Hmm.... itu.....Aku" Kevin menundukkan kepalanya merasa malu jika menceritakan apa yang dia lakukan belakangan ini.
"Mas Kevin" Anin menyadarkan Kevin.
Kevin menghela nafas kasar dan mulai menceritakan kekonyolan nya.
"Aku menemui dokter Rangga kemarin, menanyakan hal apa saja tentang ibu hamil, Apa yang dirasakan ibu hamil, dokter Rangga menjelaskannya padaku dan memberikan buku khusus untukku. Setelah menemui dokter Rangga Aku kembali ke kantor dan menyuruh Ana mengumpulkan karyawan yang sedang hamil maupun yang mempunyai anak untuk menanyakan lebih jelas tentang ibu hamil" dengan bodohnya Kevin menceritakan kekonyolannya pada Anin.
Anin menahan tawanya, bukan karena cerita Kevin melainkan ekspresi wajah Kevin yang menurutnya sangat lucu. "Kenapa Mas Kevin tidak menanyakan langsung padaku ? Aku kan yang sedang hamil" tawa Anin meledak membuat Kevin mendengus kesal.
"Anin...." ucap Kevin geram membuat Anin tersadar dengan kelakuannya dan segera menghentikan tawanya. "Ma...maaf" Anin menundukkan kepalanya, sekarang Ia benar-benar takut menatap wajah Suaminya yang terlihat menakutkan.
Setelah makan mereka berdua memutusakan pulang kerumah, namun tidak sengaja bertemu salah satu teman Anna.
"Kevin kenapa Kamu ada di sini? di mana Anna? dan siapa wanita ini?" tanya teman Anna melirik Anin sekilas namun menusuk.
__ADS_1
"Dia...."
"Saya rekan kerjanya Tuan Kevin" ucapan Anin yang menyadari tatapan teman Anna dan juga kegugupan Kevin.
"Semuanya sudah selesai kan Tuan? kalau begitu Saya kembali ke kantor lebih dulu, nanti Saya kirimkan hasil surveynya setelah sampai di kantor" lanjut Anin.
Anin berjalan meninggalkan Kevin yang masih memandanginya dengan perasaan bersalah.
"Hah apa yang Kamu harapkan Anin ? berharap Dia mengakui mu di depan teman Anna? itu tidak akan terjadi" batin Anin.
"Apa yang membuatmu bersedih bukankah sebelumnya Dia sudah mengatakan posisimu dengan jelas" gumam Anin.
"Aku harus kemana sekarang ? tidak mungkin Jika Aku pulang ke rumah tanpa mas Kevin, bisa-bisa Oma marah padanya. Dan jika aku ke rumah Tari belum tentu Dia ada."
Anin menyusuri trotoar seorang diri, sementara di tempat lain Kevin berjalan ke sana ke mari di dalam maupun di sekitar Mall, mencari keberadaan Anin setelah Ia mengobrol sebentar dengan teman Anna.
Kevin berkali-kali menghubungi Anin namun tak kunjung diangkat malah panggilannya ditolak.
"Sit.." umpat Kevin
"Tanyakan pada teman Anin di mana Anin sekarang dan beri tahu secepatnya padaku !" perintah Kevin pada seseorang di seberang telepon.
"Kenapa Tuan tidak langsung menghubunginya dan bukankah anda sedang bersamanya ?" ucap Ans.
"Jika Dia sedang bersamaku dan aku bisa menghubunginya buat apa Aku menyuruhmu bodoh" Kevin semakin kesal pada sekretarisnya tersebut dan langsung memutuskan sambungan teleponnya.
Ans segera menghubungi Tari untuk menanyakan keberadaan Istri tuannya, namun tak kunjung dijawab oleh sang pemilik nomor. Ans memutuskan menemui Tari di perusahaan tempatnya bekerja.
"Tari yang mengenali suara tersebut langsung menoleh dan mendapatkan Ans dibelakangnya.
Tari segera menarik Ans keluar dari ruangan tempatnya bekerja saat melihat tatapan rekan kerjanya, ada yang sedang bisik-bisik menatap Tari dengan tatapan penasaran, bagaimana tidak, itu adalah tangan kanan Tuan Kevin yang tak kalah tampan dari tuannya.
"Kenapa Kamu menemuiku di jam kerja seperti ini?" tanya Tari memukul pundak Ans.
"Aku menemuimu bukan karena keinginanku, tapi atas permintaan Tuan Kevin" jelas Ans kesal.
"Katakan ada apa waktuku tidak banyak" perintah Tari datar.
"Apa Kamu tahu di mana Nona Anin sekarang?"
"Aku tidak tahu dimana Dia, bahkan Dia tidak menghubungiku hari ini." ucap Tari Ketus "dan jika pun Aku tahu, Aku tidak akan mengatakannya padamu" Tari senyum sinis. "Apa yang dilakukan Tuanmu sehingga temanku pergi menghilang hah" bentak Tari
"Aku tidak tahu itu, Aku hanya disuruh oleh Tuan Kevin" Ans diam. "Baiklah jika itu keputusanmu" Ans memperbaiki jasnya yang sedikit berantakan akibat ulah Tari.
"Apa Kamu belum puas Aku mencium......" Tari membekap mulut ember Ans, seketika rekan kerja yang melewati mereka berdua berbisik-bisik lagi, entah apa yang mereka bicarakan tentangnya.
"Aku benar-benar tidak tahu dimana Anin" ucap Tari
__ADS_1
Der....der....der...
Tari melepaskan tangan yang masih setia menempel di mulut Ans, dan segera menjawab panggilan masuk pada ponselnya.
"Apa Kamu tahu dimana Anin sekarang?"
"Aku tidak tahu dimana Dia" jawab Tari acuh.
"Jika Kamu memberitahu Saya, Saya akan mempromosikan mu di perusahaan pak Charles."
"Biasanya sih Anin pergi ke dermaga XX jika tidak menemuiku" jelas Tari.
Tut...
Seseorang diseberang telepon memutuskan sambunganya.
"giliran Tuan Kevin Kamu memberitahunya ucap Ana kesal. "Apa jangan-jangan Kamu di janjikan sesuatu" Ans menyelidik.
"Tentu saja." jawab Tari senyum penuh kemenangan.
"Hah ternyata Kamu tidak setia kawan" ejek Ans.
"Itu bukan urusanmu" Tari meninggalkan Ans.
...****************...
Sementara di tempat lain seorang wanita duduk di sebuah dermaga, mengayun- ayunkan kakinya ke dalam air, menikmati senja yang begitu indah namun keindahannya hanya sekejap.
Seperti dengan kebahagiaan wanita yang telah menyaksikan menghilangnya senja dan digantikan dengan bulan yang bersinar terang.
Anin kaget saat sebuah jas terpasang di pundaknya dan mendapati seorang pria tersenyum kepadanya dan duduk disampingnya.
"Kenapa Kamu menemuiku?" tanya Anin.
"Aku hanya khawatir saat mendengar suaramu yang terdengar sedih makanya Aku menemuimu, apa salah ?" tanya seorang pria yang kini duduk di samping Anin dengan senyuman yang begitu indah.
"Kenapa Kamu ada di sini sendirian lagi" lanjut pria tersebut.
"Aku hanya ingin menenangkan pikiranku" jawab Anin mengalihkan pandangannya kearah lautan luas.
"Kenapa ? apa Kamu punya masalah? apa Kamu menceritakannya padaku?" pinta Dilan, ya pria yang baru saja datang menemui Anin adalah Dilan
"Aku hanya...........
-
-
__ADS_1
-
TBC