
Julian sedang di landa panik. Lelaki tampan itu sudah mondar - mandir di depan meja dari ruangan kerjanya. Di sisi kiri telinganya telah menempel handphone miliknya dengan nada panggilan yang sedang memanggil.
"Halo Rafael, bagaimana keadaan di sana? Kak Alvaro dari tadi belum menjawab teleponku." Julian langsung menyerbu Rafael saat panggilannya terhubung tanpa memberikan jeda untuk bicara.
"Tua muda Alvaro masih di dalam IGD, menemani Nyonya muda Marsha. Bersyukur pendarahan yang di alami Nyonya Marsha bisa di tangani cepat oleh dokter dan perawat sehingga janin yang ada di dalam kandungannya masih bisa di selamatkan." keheningan terbentang sejenak akan Rafael menghela nafas panjang. " Tetapi Nona muda Berlin dan Nona Naura keduanya berada di rumah Gary Sanjaya sesuai dari sinyal GPS dari jam tangannya Nona Berlin yang di kenakan. Kami tak bisa menerobos di karenakan kurangnya personil pengamanan yang mengejar mereka."
Kelopak mata Julian terpejam di detik Rafael memberitahukan keadaan akan kedua perempuan kesayangannya. Tangan Julian yang terbebas mengepal kuat di selimuti oleh amarah yang menguasai.
"Aku akan pulang setelah selesai membereskan urusan yang ada di sini." ucap Julian berusaha untuk tetap tenang.
***
Kelopak mata memejam sejenak lalu terbuka kembali menatap lelaki tampan dengan tangannya yang mengusap - usap lembut pergelangan tangan. Ujung bibir Marsha tertarik bibirnya menipis mengulas senyuman ketika suami tercinta menuntun telapak tangannya berlabuh menyentuh wajah Alvaro yang terlihat murung.
"Maaf. Lain kali aku akan lebih patuh dari ini." suara lemah Marsha mengalun lembut pada Alvaro yang sejak tadi menemani.
"Kau tahu, alasan di balik semua keputusanku kan, Marsha? Hal ini yang paling aku takutkan ketika melihatmu tadi....aku....aku...."
Suara Alvaro bergetar. Kata - kata yang telah terangkai menjadi satu kalimat seketika tersekat di tenggorokan. Tak mampu keluar di karenakan diri tak sanggup lagi menahan trauma ketakutan yang meledak di dalam jiwa.
Alvaro rapuh. Aura kejam nan mematikan seketika menyingkir dari jiwa pewaris kekayaan keluarga Alvarendra itu. Jiwanya hancur. Dunianya runtuh. Nyawanya tercabut ketika perempuan kesayangan dan menjadi penyemangat hidupnya itu sedang terluka ataupun tersakiti.
__ADS_1
Kedua mata Marsha terfokus pada noda merah bercak darah di lengan kemeja putih yang sedang Alvaro kenakan. Marsha pun sangat yakin, jika noda darah itu Alvaro dapatkan saat membopong tubuhnya.
Rasa bersalah langsung menyelimuti diri.Betapa keras kepala dan egois diri langsung menghujam tanpa ampun hingga hati perempuan cantik dengan wajah pucat itu mengalihkan sejenak tatapan kedua mata dari Alvaro.
"Terima kasih.... terima kasih telah menjadi lelaki yang terbaik di dalam hidupku." ucap Marsha lembut lalu kembali menatap suami tercintanya yang berusaha menahan tangis.
Alvaro menghela nafas kasar. Telapak tangannya langsung terangkat dan menutupi kedua mata yang berkaca-kaca. Buliran air mata pun jatuh di detik kedua mata mengerjap namun tertutupi oleh telapak tangan yang menghalangi.
"Aku seperti orang gila tadi." telapak tangan Alvaro menyeka bulir air mata yang jatuh membasahi pipinya. "Kamu harus berjanji, jangan pernah membuatku gila seperti tadi lagi, hm?"
"Iya, aku sudah kapok. Sekarang akan menjadi istri yang baik budi." Marsha memohon maaf di selingi dengan gurauan. "Bagaimana dengan Berlin dan Naura?" sambung perempuan cantik itu penasaran.
"Mereka-"
Ucapan Alvaro seketika terhenti oleh suara gebrakkan pintu yang di buka dengan kasar dan tiba-tiba. Alvaro dan Marsha pun sempat tersentak. Seketika Alvaro langsung membalikkan badannya untuk melihat seseorang yang sudah dengan beraninya merusak kedamaian di ruangan kamar perawatan Marsha.
Tak usah di tanyakan lagi bagaimana ketatnya pengamanan di depan ruang rawat inap Marsha. Ingin sekali rasanya Alvaro untuk memaki dan memarahi tanpa ampun. Tapi, balik lagi. Siapa yang sudah tidak sopan dan membuat keributan seenak jidatnya itu?
Aura menggelap Alvaro meredam. Deruan langkah dan hentakan pantofel hitam yang bergemuruh memenuhi ruangan isi kamar langsung menciutkan nyali untuk melawan. Di tambah lagi ke dua mata yang melihat jelas lelaki yang menguarkan aura menggelap berkali-kali lipat dari Alvaro membuatnya bagaikan seekor anak singa yang meminta perlindungan.
"Menantu!" Teriak Elvano dengan segala kepanikannya.
__ADS_1
"Papa, please! Ini area rumah sakit bukan ring tinju! Jangan buat keributan." Kanaya memperingatkan suaminya yang sedang di landa kecemasan.
"Papa? Bunda? Kenapa kalian kesini? Alvaro kan sudah kasih tahu, kalau keadaan Marsha dan janin yang ada di kandungannya itu baik - baik saja." Alvaro agak terheran mengetahui kedatangan kedua orang tuanya.
"Dimana otakmu, Hah?!" Bentak Elvano dengan emosi yang meluap. "Orang tua mana yang tidak merasakan khawatir dan hanya berdiam diri saja di rumah ketika mendengar nyawa calon cucu dan menantunya itu hampir melayang?"
"Papa!" Kanaya membentak Elvano tegas. "Mending Papa keluar dari sini atau Papa diam! Lebih baik Papa tidak usah ikut saja tadi dan bersama Anton saja di rumah!"
"Ma-maaf. Papa tadi khilaf dan panik." dengan nada lemah Elvano menjawab ucapan dari Kanaya yang tidak bisa lagi menahan kemarahannya.
*****
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.