Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Bab 144


__ADS_3

Saat itu, di rumah, Raka sekitar pukul tiga belas lewat dua puluh menit.


"Amanda, kamu kenapa kok gak seperti biasanya?" tanya Rea yang merasa Amanda tidak bersemangat seperti biasa.


"Aku gak apa-apa kok, Mbak," sahut Amanda.


Sebenarnya Amanda mulai merasa sakit di bagian perutnya, sedikitpun dia tidak berpikir kalau dirinya akan melahirkan karena menurut dokter dia akan melahirkan satu minggu lagi dari hari itu.


"Beneran? Aku lihat kamu seperti sedang kesakitan," ucap Rea lagi.


"Nggak kok, Mbak mungkin cuma perasaan Mbak Rea aja."


Rea menatap Amanda beberapa saat lalu kembali ke semula.


"Amanda, ini makan dulu buahnya."


Rea menyodorkan satu piring kecil buah yang sudah dia kupas dan dia potong ke hadapan Amanda.


Amanda menerima, buah itu dari Rea lalu meletakkannya di atas meja!


"Kok gak dimakan?" tanya Rea.


"Iya, mau dimakan kok, Mbak tapi nanti."


"Kok nanti?"


"Iya, sekarang aku masih kenyang karena baru aja makan bakso."


Rea tersenyum lebar, entah kenapa dia merasa bahagia saat tahu Amanda makan banyak.


...****************...


Lisa menangis di sebuah taman yang terdapat di perkotaan, dia tak menghiraukan orang-orang yang menatapnya dengan tatapan aneh.


Lisa terus menangis, menyesali semua yang sudah terjadi dalam kehidupannya.


"Sekarang, Jasson udah gak perduli lagi sama aku dan Raka juga ternyata hanya ingin membalas dendam padaku, sekarang aku tidak punya apa-apa dan juga tidak punya siapa-siapa," lirih Lisa disela tangisnya.


"Ular betina ada di sini, nyesel banget aku lewat ke taman ini," ucap Jhon yang tiba-tiba muncul entah dari mana.


Lisa hanya diam tanpa menatap seseorang yang sedang berdiri didepannya. Dia tahu kalau laki-laki itu adalah Jhon, karena itulah dia tidak ingin menampakkan wajahnya.


"Ular betina, kamu ngapain di sini? Mau ketemuan sama Pak Raka? Aku tegaskan ya sama kamu, Pak Raka itu tidak akan datang karena dia sedang banyak urusan."


"Pergi kamu dari sini, pergi!"


Jhon tersenyum sinis lalu segera pergi meninggalkan Lisa karena takut wanita itu akan berteriak lagi!


Lisa hanya duduk di kursi taman itu, sesekali dia menatap punggung Jhon yang mulai menjauh dari hadapannya.


...****************...


"Aaaah, sakit," lirih Amanda sembari memegangi perutnya.


Tanpa disengaja piring berisi buah yang Amanda pegang terjatuh hingga pecah karena membentur lantai.

__ADS_1


"Amanda!" seru Rea yang baru tiba di ruang keluarga.


Rea habis dari dapur untuk mengambilkan jus untuk Amanda karena Amanda memintanya setelah dia kembali, dia dikejutkan dengan suara piring yang terjatuh dan Amanda yang sedang meringis kesakitan.


Rea berlari menghampiri Amanda! Dia menaruh jus yang dia bawa di sembarang tempat.


"Amanda kamu kenapa?" tanya Rea sembari meneliti tubuh Amanda, takutnya ada luka di tubuh wanita itu.


"Mbak, perutku sakit," lirih Amanda.


"Apa, sakit? Jangan-jangan ...." Rea tak melanjutkan perkataannya.


"Mang Diman! Bik Ida!" Rea berteriak sekeras suara yang dia miliki.


Tak lama Bik Ida muncul dari dapur dan Mang Diman datang dari depan rumahnya!


"Ada apa, Non?" tanya Bik Ida dan Mang Diman secara bersamaan.


"Mang, cepat siapkan mobil," ucap Rea pada Mang Diman.


"Bik, siapkan keperluan Amanda. Sepertinya Amanda mau melahirkan," ucap Rea kepada Bik Ida.


Mang Diman berlari ke depan rumah untuk segera menyiapkan mobil sedangkan Bik Ida berlari ke dalam kamar Amanda untuk menyiapkan semua keperluan Amanda dan juga bayinya yang akan dibutuhkan di rumah sakit.


"Ardy! Allan! Cepat bawa Amanda ke mobil," ucap Rea kepada dua bodyguardnya.


"Sakit, Mbak sakit banget," ucap Amanda.


Ardy dan Allan segera membantu Amanda untuk masuk ke dalam mobil untuk selanjutnya dibawa ke rumah sakit.


Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Rea sangat panik karena Amanda terus merasa kesakitan.


"Sakit banget, Mbak."


"Iya, kamu sabar ya."


"Mang, cepat ya," ucap Rea kepada Mang Diman.


Setelah melewati perjalanan yang begitu menegangkan, akhirnya mereka tiba di rumah sakit.


Dua orang petugas rumah sakit menyambut kedatangan pasien dengan sudah membawa tandu berjalan, mereka segera membawa Amanda ke ruang persalinan seperti yang sudah diarahkan oleh dokter Sonya sebelum mereka tiba.


Rea memang sudah menelpon dokter Sonya sebelum dia berangkat ke rumah sakit agar petugas di rumah sakit itu segera bersiap siaga.


"Rea, kamu tunggu di luar saja ya," ucap Dokter Sonya kepada Rea.


Rea menghentikan langkahnya didepan pintu ruangan itu.


"Tolong, Amanda ya, Dok," ucap Rea kepada Dokter Sonya.


"Kami akan melakukan yang terbaik," sahut Dokter Sonya.


Dokter Sonya segera masuk ke ruangan persalinan tersebut!


Tak lama setelah, Dokter Sonya masuk ke ruangan itu, Raka datang ke rumah sakit itu.

__ADS_1


Raka berlari menghampiri Rea yang masih berdiri di depan pintu ruang persalinan itu.


"Sayang, gimana dengan Amanda. Dimana dia?" tanya Raka pada Rea.


"Amanda masih di dalam, Dokter Sonya juga ada di dalam sana," jelas Rea.


"Kita tunggu disini ya."


Raka menuntun Rea untuk duduk di kursi yang ada di depan ruangan itu!


Setelah sepuluh menit, belum ada kabar dari Dokter, Rea sudah berjalan mondar-mandir di tempat itu, dia tidak tenang sebelum tahu Amanda dan Bayinya selamat.


"Re, kamu duduk dong, jangan gelisah gitu," ucap Raka.


Dari tadi Raka hanya diam sembari menatap sang istri, namun karena Rea terus berjalan mondar-mandir, akhirnya dia merasa kalau Rea bersikap berlebihan.


"Kak, gak tahu kenapa aku sangat khawatir, perasaanku gak enak," sahut Rea.


"Itu hanya perasaan kamu saja, udah kamu duduk dengan tenang ya. Amanda dan bayinya pasti selamat."


Baru Rea akan duduk, Dokter Sonya keluar dari ruangan itu dan memanggil Raka!


"Raka!" seru Dokter Sonya.


Rea berbalik badan dan Raka juga menatap Dokter Sonya yang berdiri di depan pintu ruangan itu.


"Kenapa, Soy? Apa bayinya sudah lahir?" tanya Raka.


"Iya, Dokter apa Amanda sudah melahirkan bayinya?" sambung Rea.


Dokter Sonya tak langsung menjawab pertanyaan mereka, dia menarik nafasnya panjang lalu membuangnya perlahan.


"Raka, Amanda tidak bisa melahirkan dengan sempurna, kami hanya bisa menyelamatkan salah satu dari mereka. Siapa yang harus kami selamatkan? Amanda atau bayinya?" ucap Dokter Sonya.


"Apa?" Rea berjalan mundur lalu duduk di kursi yang ada di belakangnya, dia menangis deras kala itu.


"Tapi, Soy apa yang terjadi?" tanya Raka kebingungan.


"Amanda mengidap penyakit keras yang tidak memungkinkan dirinya untuk hamil dan melahirkan," ucap Dokter Sonya.


"Kenapa kamu baru bilang sekarang?"


"Aku tidak bisa menjelaskan semuanya sekarang karena kita harus cepat sebelum semuanya terlambat."


Raka memejamkan matanya lalu mulai menggerakkan bibirnya.


"Selamatkan bayinya," ucap Raka dengan nada lirih.


"Baik, sekarang tanda tangani surat pernyataan ini," ucap Dokter Sonya.


Raka meraih berkas itu dari Dokter Sonya lalu mulai menggerakkan tangannya menandatangani surat pernyataan itu.


Dokter Sonya pun segera masuk lagi ke dalam ruangan persalinan itu.


"Dokter Sonya," ucap Rea.

__ADS_1


Dokter Sonya menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah Rea.


Bersambung


__ADS_2