Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Informasi Tentang Dokter Julian


__ADS_3

Bibir Luna merekah senyuman. Tapi bukan senyuman biasa. Melainkan sebuah senyuman penuh dengan perasaan seperti seorang yang jatuh cinta. Kedua tangan perawat bertubuh tinggi itu menangkup wajahnya yang mulai di rayapi oleh rona merah.


Tingkah aneh Luna yang membuat gurat kerut di dahi Naura terukir sampai - sampai perempuan cantik itu menegakkan tubuh dari posisi duduknya.


"Kau kenapa menjadi terlihat genit seperti itu?" tanya Naura terheran.


"Bagaimana aku tidak betah, jika penyemangat hidupku ada di rumah sakit ini, Dokter Naura?" jawab Luna yang mengulas senyuman malu - malu yang membuat dirinya terlihat semakin konyol di mata Naura.


"Apa pacarmu bekerja di rumah sakit ini juga?" tanya Naura mencoba menebak.


"Bukan pacar Dokter Naura." Luna mengibaskan tangannya sambil meringis senyuman. "Melainkan pujaan hati, yang tak tahu kapankah cintaku akan berbalas," sambungnya berpuitis hingga membuat Naura terperangah.


"Kau mengagumi seseorang?" lagi - lagi Naura mencoba menebak.


Kepala Luna mengarah ke kanan dan ke kiri, seolah mengawasi keamanan ruang Naura yang jauh dari orang - orang pengusik. Luna yang duduk di hadapan Naura memajukkan tubuhnya dengan hati ingin berbisik kepada Naura.


"Jadi, Dokter Naura tidak tahu apapun tentang rumor di rumah sakit ini? Sebelum Dokter Naura menginjakkan kaki di rumah sakit ini, tak mencari informasi apapun mengenai rumah sakit ini?" kesalahan terbesar Naura yang memang tidak menggali informasi apapun mengenai rumah sakit swasta itu. Naura hanya datang dengan kepasrahan dan optimis yang menggebu demi rencana pribadinya.


"Apakah rumah sakit ini berhantu?" sahut Naura cepat.


"Haiissshhh!" Luna berdesis kesal lalu menarik diri kembali. "Dimana hubungan antara pujaan hati saya dengan hantu Dokter Naura?" sambung Luna masih di selimuti oleh rasa kesal.


"Jadi, kau mau memberitahuku mengenai rumah sakit ini? Jujur saja, aku tidak kenal orang - orang yang berada di rumah sakit ini, kecuali Dokter Bimantara. Itu pun hanya sebatas aku mengenali." jawab Naura mengakui kejujuran.


"Baiklah! Karena saya itu baik hati dan merasa kasihan dengan Dokter Naura, jadi saya akan memberitahu." Luna agak sedikit berdrama layaknya seorang aktris yang memerankan orang bijak nan baik hati.


"Rumah sakit ini, terkenal dengan dokter tampan yang di kagumi hampir seluruh para pegawainya. Ketampanan dokter itu pun semakin sempurna dengan latar belakangnya yang berasal dari kalangan konglomerat."


Tap!


Kata konglomerat keluar dari mulut Luna yang begitu lancar memberitahu langsung mencuri perhatian Naura. Tubuh perempuan cantik yang memiliki gigi kelinci itu menegang sampai - sampai begitu fokus menatap partner perawatnya.

__ADS_1


"K- konglomerat?" tanya Naura memastikan.


"Yes!" Sahut Luna cepat. "Sudah tampan, masih muda, kaya raya, ahh.. pujaan hati yang hanya bisa saya kagumi dan selalu mengisi dunia khayal saya."


"Masih muda?" Naura kembali mengulang.


"Yes, yes, yes, Dokter Naura!" Ucap Naura penuh dengan keyakinan. "Masa Dokter masih belum tahu?"


"Kan sudah aku bilang, aku itu memang nggak tahu?"


"Baiklah! Saya akan lanjut memberitahu. Rumah sakit ini sebelumnya milik Dokter Bimantara dan seorang temannya. Saat krisis keuangan rumah sakit ini menimpa, datanglah seorang kesatria tampan yang menyelematkan para pegawai di rumah sakit ini dari PHK saat masa itu. Kesatria tampan itu membeli rumah sakit ini dan mengelolanya hingga menjadi rumah sakit swasta yang sebesar saat ini dengan andil Dokter Bimantara juga di dalamnya," ujar Luna dengan senyuman manis di wajahnya.


"Memangnya siapa kesatria tampan itu?" Naura begitu penasaran.


"Dr. Julian Mallory Pratama Alvarendra, Sp.B yang merupakan dokter pembimbing Dokter Naura saat ini?"


Kedua mata Naura langsung membulat sempurna saat mendengar pengakuan dari Luna. Naura terkesiap hingga tidak berkomentar apapun selama beberapa saat.


"Dok - Dokter Julian?" ucap Naura yang terbata.


"Ssssst!" Luna berdesis dengan menempelkan jari telunjuknya di bibirnya sendiri. "Jangan keras - kerasnya bicaranya Dokter Naura. Nanti di dengar orangnya dan pastinya kita akan kena marah." Luna memperingatkan yang langsung di turuti oleh Naura.


"Kau serius kalau Dokter Julian itu anak konglomerat?" bisik Naura yang semakin ingin tahu.


"Ya, karena Dokter Julian itu keturunan dari kedua keluarga yang sangat di terkenal di Indonesia yaitu keluarga Pratama dan Alvarendra!" Ucap Luna dengan penekanan. "Dokter Julian itu anak konglomerat dari pasangan Anton Pratama dan Adisya Lalisa Alvarenda. Dan keluarga Pratama juga masuk kedalam lima orang terkaya yang ada Indonesia Sedangkan keluarga Alvarendra berada di urutan kedua orang terkaya di Indonesia. Dokter Naura masa nggak tahu?"


Naura meringis senyuman. "Ahhhh! Aku banyak membuang waktuku di dunia medis. Jadi, jarang melihat berita."


"Oh ya, kamu bilang Dokter Julian masih muda kan? Berarti beliau belum menikah?" lanjut Naura yang masih penasaran.


"Belum Dokter Naura. Tapi saya pernah mendengar kalau Dokter Julian pernah menjalin hubungan dengan seorang Dokter juga dari kerabat keluarganya dan sempat dikabarkan akan menikah, tapi hubungan mereka kandas. Sekarang mantan Dokter Julian akan menikah dan desas - desusnya Dokter Julian masih belum bisa move on dari mantannya." begitu lancarnya Luna menyampaikan kabar yang belum tepat kebenarannya. "Seharusnya Dokter Julian bisa melihatku dan pasti akan aku balas cintanya." sambung Luna meracau.

__ADS_1


Tubuh Naura yang menegang kembali mengendur dan berakhir bersandar pada sandaran kursi. Semangat Naura kembali menyala setelah mendengar segelintir informasi dari Luna yang memberinya secercah harapan untuk dirinya.


Dalam benak Naura sudah tersusun rencana yang rapi untuk mau merendah dan mendekatkan diri kepada Julian yang bisa di jadikan sosok pendukung yang terkuat dari kepahitan hidupnya saat ini. Sosok pendukung terkuat yang nantinya akan membantu Naura untuk membuktikan diri di mata Ayahnya kandungannya.


"Luna, bisakah kau beritahu mengenai Dokter Julian yang lainnya?" Naura dengan pintar menggali informasi lebih dari Luna yang naif.


...***...


"Kalian lagi?" ucap Dokter Keira dengan nada yang ketus.


"Terpaksa! Jika bukan karena keinginan dari istriku tercinta, aku juga ogah datang ke rumah sakit ini apalagi harus bertatap muka denganmu," balas Alvaro dengan arogansi yang ada di dalam diri.


"Kau tahu pintu keluarnya, kan?" Keira mengusir Alvaro secara frontal.


"Kau berani mengusirku? Aku bisa membeli rumah sakit ini jika aku mau!" Lagi - lagi Alvaro berucap angkuh.


"Aku pastikan rumah sakit ku aman dan tidak akan kubiarkan keluargaku menjualnya kepadamu! Bisa aku bayangkan bagaimana nasibku jika menjadi budakmu!" Balas Keira yang tidak mau kalah dari keangkuhan Alvaro


...*********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.


__ADS_2