Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Bab 141


__ADS_3

Siang itu, Lisa sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit.


"Lisa, kamu jalannya pelan-pelan saja ya," ucap Jasson sembari membantu Lisa untuk berjalan.


"Iya, ini juga pelan-pelan kok," sahut Lisa.


"Kita mau langsung pulang ke rumah atau menginap lagi di hotel?" tanya Jasson.


"Terserah kamu," sahut Lisa dengan nada lirih.


Lisa tak bisa menerima jika dirinya sudah kehilangan bayinya, dia terus saja menangis meski Jasson sudah membujuknya dengan berbagai cara agar Lisa berhenti menangis.


"Kalau gitu kita pulang nanti saja setelah kamu benar-benar pulih."


Jasson tak melepaskan pegangannya dari Lisa yang masih lemah itu.


"Sayang, kamu gak akan ninggalin aku kan meski aku tidak bisa hamil lagi?" Lisa bertanya sembari menatap wajah Jasson.


Seketika Jasson menghentikan langkahnya setelah mendengar pertanyaan dari Lisa, dia terdiam sembari menatap Lisa dengan tatapan yang sulit diartikan.


Mereka saling bertatapan dan setelah beberapa detik kemudian, Jasson membelai lembut rambut Lisa, sebuah senyuman terukir di bibirnya.


"Jangan bicara yang tidak-tidak, fokus lah pada kesehatanmu dulu," ucap Jasson.


Lisa tersenyum tipis lalu kembali melanjutkan langkahnya!


...****************...


Di salah satu restoran Jhon dan Mai sedang makan siang bersama.


"Gimana, kamu suka dengan makanan di sini?" tanya Jhon kepada Mai.


"Enak, aku suka," sahut Mai sembari mengunyah makanannya.


"Kalian di sini juga?" tanya Arya yang baru tiba di restoran itu.


Mai dan Jhon menatap ke arah suara!


"Arya, kok kamu di sini?" Bukannya menjawab pertanyaan Arya, Jhon malah bertanya balik.


Arya memutar bola matanya malas. "Kebiasaan, ditanya bukannya jawab malah bertanya balik."


Jhon tertawa kecil. "Arya, gabung saja di sini sama kita," ucap Jhon kepada Arya.


"Bolehkan Mai?" tanya Jhon kepada Yumaila.


...****************...


Di kediaman Raka.


"Mbak tolong jangan seperti ini, saya tidak nyaman," ucap Amanda kepada asisten rumah tangganya yang sedang memijat nya.


Siang itu Amanda merasakan pegal-pegal pada kakinya dan tanpa diminta, Rea menyuruh asisten rumah tangganya untuk memijat kaki Amanda.

__ADS_1


"Maaf, Bu kalau saya membuat Ibu tidak nyaman tapi ini perintah dari Ibu Rea, saya tidak bisa menolak perintahnya," ucap asisten rumah tangga itu.


"Jadi, Mbak Rea yang menyuruhmu."


"Iya."


"Bu Amanda, ini minumnya dan cemilannya juga," ucap asisten rumah tangganya yang lain.


Dia menaruh jus mangga dan beberapa camilan di atas meja.


"Tapi saya gak minta ini semua," ucap Amanda.


"Bu Rea yang menyuruh saya," sahut asisten rumah tangga itu.


"Saya bisa mengambil sendiri apapun yang saya mau. Lain kali kalau Mbak Rea meminta kalian melayani saya, jangan turuti dia ya."


"Maaf, Bu tapi Anda juga istrinya Pak Raka jadi kami harus memperlakukan Anda sama seperti kami memperlakukan Ibu Rea," ucap asisten rumah tangga itu.


"Iya, Bu Amanda. Seperti perintah, Pak Raka kalau kami juga harus menghormati Anda sama seperti kami menghormati Bu Rea dan Pak Raka," sambung asisten rumah tangga yang lainnya.


"Apa! Jadi wanita ini istrinya Raka!"


Tika yang awalnya hendak ke dapur, langsung syok mendengar pembicaraan antara Amanda dan dua asisten rumah tangga di rumah Rea dan Raka.


Amanda dan dua asisten rumah tangganya itu terkejut saat mendengar suara Tika yang menggelegar memenuhi ruangan itu.


Amanda berdiri tanpa kata, dia tidak tahu harus berkata spa untuk menjelaskan semuanya kepada Tika, dua asisten rumah tangga itu juga hanya diam dengan menundukkan kepalanya.


"Dadar pelakor, berani-beraninya kamu tinggal satu rumah dengan anak saya," ucap Tika pada Amanda.


"Kalian! Apa kalian tahu tentang semua ini, apa kalian tahu kalau wanita ini adalah istrinya Raka?" Tika bertanya kepada dua asisten rumah tangga itu dengan sedikit berteriak.


"Ada apa sih, ribut-ribut?" tanya Santi yang mendengar keributan di ruang keluarga.


"Kamu diam San! Aku mau dengar jawaban dari mereka," ucap Tika kepada Santi.


"Jawab! Atau kalian mau saya pecat dan tidak saya beri gaji selama kalian kerja di sini!" Tika mengancam mereka karena mereka tak kunjung menjawab pertanyaannya.


"Maaf, Nyonya sebenarnya kami tahu tentang ini semua tapi kami dilarang memberitahu Anda oleh Pak Raka," sahut salah satu asisten rumah tangga itu.


Plak!


Tika menampar pipi Amanda.


"Dasar wanita tidak punya malu, wanita penggoda!" Tika berucap dengan dipenuhi amarah, nafasnya terengah-engah karena menahan sesak di dadanya.


Amanda hanya diam sembari memegangi pipinya dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya.


"Kamu lihat Santi, anakmu mengkhianati anakku bahkan dia berani mengajak selingkuhannya tinggal bersama dengan Rea," ucap Tika pada Santi.


"Tika, kamu menyalahkan aku? Kamu sendiri tahu kalau aku tidak mungkin mendukung tindakan Raka yang seperti ini," ucap Santi.


Karena tak ingin ikut campur urusan pribadi, dua asisten rumah tangga itu pergi dari tempat itu.

__ADS_1


Santi menghampiri Amanda lalu mendorong Amanda hingga dia terjatuh ke lantai.


"Mama!"


Raka yang baru tiba di ruangan itu, terkejut melihat sikap Mamanya terhadap Amanda.


"Ada apa sih dari tadi ribut-ribut?" ucap Rea.


Bersamaan dengan Raka, Rea keluar dari kamarnya setelah terbangun dari tidurnya.


Raka berlari untuk membantu Amanda bangun!


"Amanda!" Rea terkejut melihat Amanda yang sedang tergeletak di lantai.


Rea berlari menghampiri Amanda!


"Amanda, kamu tidak apa-apa?" tanya Raka sembari membantu Amanda untuk berdiri.


"Amanda, kamu kenapa? Kenapa kamu bisa terjatuh?" tanya Rea.


Raut wajah kekhawatiran terlihat jelas di wajah Raka dan Rea.


"Raka, Mama gak nyangka ya kamu bisa tergoda oleh wanita seperti dia," ucap Santi.


"Berani-beraninya kamu membawa wanita ini tinggal bersama anak saya. Kalau kamu sudah tidak cinta sama Rea kenapa kamu tidak mengembalikan Rea pada saya? Jangan kamu sakiti anak saya seperti ini," ucap Tika.


Rea tak menghiraukan perdebatan diantara Mamanya dan Raka, dia lebih fokus kepada Amanda yang terus menangis.


"Amanda dimana yang sakit? Kamu gak apa-apa kan?" tanya Rea sembari meneliti badan Amanda.


Amanda hanya menggelengkan kepalanya, dia syok dengan perlakuan dua wanita paruh baya itu padanya.


"Dasar wanita tidak punya malu!" teriak Tika.


Tika ingin menyerang Amanda namun dihalangi oleh Raka dan Rea.


"Ma jangan! Jangan lakukan apapun terhadap Amanda!" tegas Raka.


"Oh jadi kamu membela wanita ini didepan saya dan juga istri kamu!" Tika berucap dengan nada tinggi.


Perdebatan antara Santi, Tika dan Raka pun tak terelakkan lagi.


Amanda masih belum bisa bicara, dia masih syok dengan kejadian hari ini yang menimpa dirinya dan keluarganya.


"Stop!" teriak Rea.


"Diam semuanya. Mama duduk! Mama Santi tolong duduk dengan tenang," ucap Rea lagi.


Mereka semua terdiam sembari menatap Rea yang menangis, wajahnya merah padam karena marah.


"Sepertinya sekarang waktunya kalian mengetahui yang sebenarnya," lirih Rea setelah mereka semua terdiam dengan posisi duduk tenang.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2