Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Sebuah Motivasi


__ADS_3

Semua keluarga dan tamu - tamu penting telah berkumpul menjadi saksi hidup dari keseriusan seseorang menikahi perempuan kesayangannya. Dress code putih di pilih menjadi lambang suci cintanya dari kedua calon mempelai pengantin yang sedang mempersiapkan diri melewati detik - detik yang mendebarkan. Ijab kabul menjadi langkah awal sepasang insan menunjukkan kehidupan pernikahan. Pintu utama bagi Bara dan juga Kiran untuk resmi menjadi pasangan suami - istri.


Tangannya sudah terjabat. Genggaman tangan Bara yang penuh dengan percaya diri, menggambarkan jika mentalnya sudah siap untuk mengucapkan lafaz janji.


Bibir terbuka. Suara baritonnya merdu mengalun. Dalam satu tarikan nafas. Bara mampu membalas ucapan dari penghulu.


Kata 'Sah' dari saksi dan penghulu menyatakan resmi sudah Bara Kiran resmi menjadi pasangan suami istri yang sah. Coretan tanda tangan di buku nikah pun sudah menjadi bukti nyata, jika keduanya sudah resmi menjadi Tuan dan Nyonya muda Pratama.


Kiran Aurelia Pratama telah sah menjadi istri tercinta seorang pengusaha sekaligus pebisnis perusahaan properti di negara I dan sekaligus bos dunia hiburan di negara I, Bara Ady Pratama.


"Istriku...." lirih Bara saat keduanya di berikan kesempatan untuk saling pandang.


"Stop katakan itu, Bar! Geli tahu!" Gerutu Kiran yang masih merasa malu akan status barunya.


"Istriku...."


"Bara!" Kiran menginterupsi suami. "Suamiku..." sambung Kiran dengan malu-malu


"Arrrghhh! Aku sudah tidak sabar ingin cepat - cepat malam!" Gumam Bara yang sudah frustasi.


"Jaga ucapanmu! Masih banyak orang yang berada di sini!" Geram kesal Anton yang berdiri tidak jauh dari Bara.


Lisa yang mengetahui hanya bisa tertawa melihat Kakak dan Adik itu yang masih belum akur satu sama lain. Perempuan lembut yang langsung berdiri di sebelah Kiran langsung memeluk adik Iparnya yang sangat cantik itu dan mengucapkan selamat atas kebahagiaan Kiran dan adik Iparnya itu.


...***...


Resepsi pernikahan putra konglomerat itu berlanjut hingga sampai malam hari. Acara private dengan seluruh keluarga dan juga teman - teman terdekat. Suasana hangat penuh dengan kebahagiaan menyelimuti jiwa setiap orang yang berada di acara resepsi pernikahan itu.


"Aku mencintaimu, Kiran. Selamanya aku mencintaimu." Bibir Bara tak ragu untuk menempel sejenak dibibir Kiran.


"Aku juga mencintaimu. Sejak awal aku sudah sangat mencintaimu, Bar."


"Aku berjanji tidak akan membuatmu menangis lagi." Bara mengucapkan janji yang tulus.


"Kau memang harus buat aku selalu bahagia."


"Aku akan membuatmu terus menjerit. Sampai - sampai kau minta ampun denganku." Bara mengulas tawa yang mengejek.

__ADS_1


"Dasar!" Balas Kiran kesal.


"Kita itu harus kejar setoran, sayang. Untuk memberikan Arkana adik." bisik Bara dengan bibirnya bergesek di telinga Kiran.


"Jangan bilang, kalau kau sudah ikutan terpancing ucapan dari Kak Alvaro?" tebak Kiran memincing tajam.


"Perkataan Alvaro itu sebuah motivasi." ucap Bara tenang dengan senyuman tipis.


Kiran hanya bisa meringis senyuman, saat mendengar ucapan absurd Bara. Dari pada membalas ucapan suami tercintanya, Kiran lebih memilih untuk hanyut dalam gerakan dansa dan suasana syahdu di resepsi pernikahan mereka.


Keromantisan sepasang pengantin baru itu menjadi pusat perhatian para tamu undangan. Tak terkecuali Naura yang sudah sejak tadi memandang dengan penuh iri pada dua tokoh utama di tempat itu.


Naura tampil menawan dan sempurna. Gaun putih tembus pandang membaluti tubuhnya menampakkan inner dari gaun tersebut. Anting - anting mutiara besar menambah sentuhan vintage pada gaun yang di kenakan semakin menambah pesona seorang Alexandra Naura Morris.


Namun sayang. Perempuan cantik itu sudah di tinggalkan sendiri oleh Julian yang sedang sibuk menerima panggilan masuk. Rasa bosan datang menyapa jiwa Naura. Hatinya tidak ingin mengganggu kesenangan dari orang - orang terdekat Julian yang mengulas tawa bahagia sejak tadi.


Berada di keramaian seperti saat ini, bukanlah hal yang terlalu Naura sukai. Naura menggerakkan kedua kaki berbalik badan ingin segera mencari tempat yang sunyi penuh ketenangan. Namun, tubuh yang yang baru saja berbalik itu tersentak oleh tubuh Julian yang menghadang.


"Kau mau kemana?" tanya Julian dengan tatapan yang mengawasi.


"Saya..."


Julian mengecup puncak kepala Naura dengan lembut. "Bicaralah yang santai, kita sedang berada di dekat keluargaku."


"Dokter Lian..."


"Ssssst!" Julian berdesis di telinga Naura. "Ingat. Kau harus cantik memainkan peranmu, Naura."


Jiwa yang menengadah di tambah dengan kelembutan sikap dari Julian yang kembali membuat fokusnya pecah dan membuat Naura lupa sandiwara di antara mereka.


Apalagi pertanyaan dari Julian yang kemarin malam menjebak semakin sulit mengalihkan sosok Julian di hati Naura.


Julian memang sengaja menanyakan reaksi dari Naura. Jika lelaki itu memang menaruh rasa cemburu kepada dirinya. Hati yang sempat baper akhirnya tersadar menyanggah perasaan Julian yang tidak mungkin akan cemburu melihatnya dekat - dekat dengan lelaki lain.


"Mau berdansa?" ajak Julian berbisik.


Tangan lelaki yang mengenakan setelan tuksedo itu menyentuh punggung Naura dan jemarinya menuntun tangan Naura untuk mencengkram lembut bahu tangan Naura yang satunya Julian genggam lalu di angkat mengudara. Kedua kaki Julian mendorong tubuh Naura untuk bergerak mundur hingga tersampai ke lantai dansa. Bergabung dengan pasangan yang lainnya yang lebih dulu sudah menginjak lantai dansa.

__ADS_1


"Tapi aku tidak bisa berdansa." bisik Naura dengan tatapan yang lurus menghadap dada Julian.


"Ikuti saja, kau pasti akan terbiasa." jawab Julian tak mau melepaskan Naura.


"Anda pastinya sengaja membuat saya seperti ini, kan?" Naura memberanikan diri mengeluarkan tanya yang sudah sejak kemarin menganggu.


"Aku tidak mengerti, apa yang sedang kau katakan?" jawab Julian yang berpura-pura.


"Sejak kemarin, anda itu sudah mempermainkan perasaan saya? Anda pasti sengaja, kan?" Naura mendesak. Jemarinya meremas kuat jas hitam yang Julian kenakan.


"Apakah kau suka padaku, Naura?" tanya Julian kemudian terhenti dari gerakan dansanya.


"Dokter Julian!"


"Apakah kau suka padaku, Naura?" tanya Julian mengulangi pertanyaannya.


"Iya. Saya menyukai anda. Puas."


"Kalau begitu, bagaimana kalau kita melupakan sejenak perjanjian di antara kita."


Bibir Julian langsung menempel di bibir Naura. Mengecup bibir perempuan cantik itu dengan lembut. Kedua mata Naura membulat sempurna, ketika bibirnya merasakan kehangatan di bibir Julian. Begitu nyata sampai-sampai terhantar baik ke hati dan jiwanya.


Julian sama sekali tidak ragu untuk mengecup bibir Naura di hadapan para tamu dan keluarga besarnya. Perhatian orang-orang kini pun teralihkan pada sosok dokter yang semakin menekan mencumbui bibir Naura.


"Wow! Tak aku sangka, ternyata Kak Julian diam - diam menghanyutkan." celoteh Berlin yang kagum akan sikap Kakak sepupunya.


...*****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.


__ADS_2