
Marsha tercengang melihat sesuatu hal yang ada di tangannya. Perempuan cantik itu bingung dan tak mampu berpikir untuk mengekspresikan diri.
Seketika kedua mata terasa panas. Lalu tak lama berkaca-kaca di banjiri oleh air mata yang sudah menggenangi.
Sepasang kaki jenjang seketika melemah tak mampu untuk menopang bobot tubuhnya. Kedua tangan sigap mencengkram tepian meja wastafel agar tubuhnya tidak jatuh ke atas lantai.
Helaan nafas keluar dari mulut Marsha yang menganga kecil. Napas Marsha mulai tersengal. Dadanya di remas paksa hingga terasa sesak. Debaran jantungnya juga kini tidak normal. Aliran darah kini sedang memompa jantung lebih cepat tidak seperti biasanya.
"Baby......?" Alvaro menghentak jantung Marsha hingga serasa ingin copot.
"Ahh.... Alvaro? Kau sudah pulang?" tanya Marsha lembut sembari menenangkan jantungnya dengan mengelus lembut.
"Kerjaan di kantor tidak banyak. Jadi aku cepat pulang hari ini," jawab Alvaro sambil mengawasi sikap Marsha.
"Oooohhh.... begitu." Marsha menyahut singkat.
Benda yang tadi membuatnya tercengang dengan hati - hati Marsha sembunyikan di saku pakaian yang dia kenakan.
"Kau sedang apa, Sayang?" tanya Alvaro yang begitu penasaran hinggap membuat kedua mata awasnya masih terus memperhatikan istri tercintanya.
"Tidak apa - apa." jawab Marsha dengan menggelengkan kepalanya. "Oh ya, tadi aku belajar membuat resep pudding mocha dari Bunda. Apa kau mau coba mencicipinya?" sambung Marsha mengalihkan.
"Bunda tadi kesini?" Alvaro malah balik bertanya.
"Iya, dia rindu pada Miracle. Jadi sekalian saja aku belajar resep puding kesukaan suamiku tercinta dari Mama mertuaku yang sangat baik hati. Kau mau mencoba mencicipinya?" ucap Marsha sambil mengulas senyuman, Marsha menantikan jawaban dari Alvaro.
"Apakah rasanya enak?" tanya Alvaro yang tak yakin dan sedikit meragu akan hasil masakan istri tercintanya.
"Haiissshhh!" Marsha berdesis dengan memasang muka yang masam. "Makanya di cicipi dulu baru di kritik! Ayo coba di cicipi, Al! Aku rasa pudingnya juga sudah dingin dan bisa di santap oleh juri yang super cerewet ini!" Marsha berakhir mengajak Alvaro keluar dari dalam kamar mandi dengan cara mendorong tubuh gagah suami tercintanya.
...***...
"Bagaimana? Enak?" tanya Marsha yang penasaran dengan mata yang sedikit membulat.
"Hmm, sedikit kemanisan. Taste dari Mochanya jadi hilang." jawab Alvaro yang memberikan penilaian dari puding mocha yang sudah di buat oleh Marsha.
"Benarkah? Tapi Bunda yang bilang sendiri kepadaku, bahwa rasanya telah sesuai." balas Marsha sambil memiringkan kepalanya dan langsung merampas sendok yang sedang genggam oleh Alvaro. "Aku juga sudah mencicipi. Tapi, rasanya tidak kemanisan seperti yang kau ucapkan, Al.!" Sambungnya tak percaya pada kata - kata Alvaro.
"Sejak kapan kau suka rasa mocha?" tanya Alvaro mengoreksi, tatapannya memincing sambil mengawasi.
__ADS_1
"Dan sejak kapan aku bilang tidak suka rasa mocha?" Marsha malah balik bertanya
"Bukan seperti itu, karena rasanya agak aneh saja. Aku tidak pernah mendapatimu menyicipi sebuah makanan dengan taste mocha." Alvaro menaruh rasa curiga.
Marsha langsung melahap potongan puding menggunakan sendok yang di rampas dari Alvaro. Kepalanya sempat memiring saat lidah Marsha meresapi benar - benar rasa puding yang lumer di sana.
"Hmmm.... rasanya memang sudah pas dan tak kemanisan, Al. Sepertinya lidahmu yang sedang bermasalah." Marsha menyalahkan Alvaro, akan hasil penilaian rasanya yang salah.
"Tetapi menurutku, puding itu memang terlalu kemanisan, Sayang." Alvaro tidak terima jika di salahkan.
"Yang namanya puding, sudah pasti manis, Alvaro. Kalau kau mau rasa asin, kau bisa langsung bisa memakan garam saja! Dan kalau kamu mau rasa yang pahit kau bisa langsung makan bubuk kopi hitam!" Ucap Marsha yang bersungut kesal. Sisi keras kepalanya mulai menyala saat sedang berdebat dengan suaminya.
"Dan jika kau tidak mau makan puding ini, aku bisa langsung menghabiskannya sendiri!" Lanjut Marsha yang kesal lalu beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Alvaro.
Laki - laki tampan yang masih mengenakan stelan resmi kantoran itu terperangah mendapati sikap Marsha yang berbeda tidak seperti biasanya. Dan Alvaro hanya menggelengkan kepalanya dan tak mau mengejar Marsha.
Meladeni sikap Marsha yang labil seperti saat ini hanya akan memperkeruh suasana hati perempuan cantik itu. Bukannya mereda, Marsha justru akan semakin keras kepala dan tidak mau berhenti, jika sudah berdebat dengan Alvaro yang juga memiliki sikap keras kepala yang sama.
"Ada apa dengan Marsha? Apa dia sedang datang bulan, jadinya lebih sensitif seperti itu?" gumam Alvaro di dalam hati.
...******...
Kehidupan menjadi lebih indah ketika cinta menyambangi. Kehidupan menjadi lebih tenang ketika rasa nyaman di rengkuh. Kehidupan menjadi lebih sempurna ketika pasangan hidup tersenyum tulus dan di saksikan langsung oleh kedua mata.
Bibir Bara menipis, lesung pipinya di pamerkan jelas. Ketampanannya begitu nyata ketika hot Daddy itu sedang asyik bercengkrama dengan bayi tampannya, Arkana.
Visual sempurna yang membuat dua pegawai perempuan di butik Dior itu terkagum - kagum memandangi Ayah dan juga anak itu.
"Ganteng banget! Jadi pengin di culik nih Bapak sama Anaknya itu!" Ucap salah satu pegawai perempuan dengan nada yang manja.
"Sayang banget ya? Udah punya anak pasti udah punya istri juga dong?" sambung temannya dengan nada sedih.
"Tapi bisa saja kan, dia belum punya istri." pegawai perempuan yang pertama menyahuti dengan optimis.
"Aduh, aduh...! Jangan ngawur, deh kamu!" Temannya langsung menyentil dahi pegawai perempuan itu. "Sudah bisa di pastikan kalau perempuan cantik yang datang bersama dengan Lelaki tampan itu pastilah istrinya!"
"Mungkin saja. Jadi hatiku patah nih? Kesempatanku untuk mendekatinya tidak ada dong! Calon jodohku terbang lagi. Good bye, Tuan Tampan." perempuan pegawai itu malah berpuitis meratapi nasibnya yang tidak sesuai dengan harapan.
Tangan pegawai perempuan itu terkembang lalu terulur seolah-olah ingin menggapai Bara dari kejauhan. Lalu kembali tertarik dengan meremas seragam di kenakan. Di wajah pegawai itu terulas raut wajah yang meringis seolah-olah sedang menangis.
__ADS_1
Sedangkan Kiran hanya bisa tersenyum, mendengar sederet kicauan dari kedua pegawai perempuan itu bersedih karena mengagumi Bara yang tidak bisa mereka sentuh. Ingin rasanya Kiran memergoki pegawai itu. Tapi di urungkan niatnya itu. Takutnya kedua pegawai itu malah malu dan salah tingkah.
Kiran kemudian berjalan menghampiri Bara yang sedang berada di ruang tunggu dengan menenteng beberapa paper bag hasil belanjaannya.
Sontak saja kedua pasang mata pegawai tersebut membulat sempurna ketika melihat Kiran menghampiri lelaki yang sejak tadi mereka intip dan mereka kagumi dari jauh.
"Sudah selesai?" tanya Bara saat di hampiri oleh Kiran.
"Sudah!" Jawab Kiran dengan mengangkat paper bag belanjaannya.
"Kenapa hanya sedikit? Bukankah tadi kau bersemangat untuk pergi shopping?" kedua mata Bara mengawasi.
"Ini sudah cukup. Aku hanya membeli edisi terbatas keluaran terbaru, Ayo kita pulang, Bar."
"Kau yakin, sayang?" tanya Bara memastikan .
"Yakin! Sangat yakin! Lebih baik kita cepat pergi dari sini, sebelum kedua pegawai wanita yang ada di sana semakin memandangimu karena mereka sepertinya sudah mulai jatuh cinta padamu." Kiran kembali mengajak sambil melemparkan tatapan ke arah dua pegawai wanita yang masih memandangi Bara.
"Kenapa?" Bara mengulas senyuman.
"Apa kau tidak tahu, sejak tadi mereka itu terus melihatmu? Mereka juga sempat bilang kalau aku ini bukan istrimu?." jawab Kiran yah bersungut kesal.
"Jadi kau sudah mengakui, jika kau itu adalah istriku?" hati Bara tergelitik untuk semakin menggoda Kiran.
"Sudahlah! Terserah kau mau pulang atau tidak!" Bentak Kiran yang mulai salah tingkah.
Kiran yang mulai di selimuti rasa kesal, langsung mendorong stroller milik Arkana Dan langsung pergi meninggalkan Bara yang sedang tertawa puas akan sikap Kiran yang salah tingkah.
"Istriku....! Tunggu suamimu. Istriku sayang," teriak Bara dengan berlari menghampiri Kiran.
...*******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
__ADS_1
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.