
Pria itu menghapiri Kevin, menarik kerah kemeja Kevin dan melayangkan tangannya.
Bukh, "Itu pukulan karena kau telah membentak Anin di tempat umum." ucap Dilan penuh emosi. Ya pria itu adalah Dilan, Dilan datang ke Club itu atas undangan dari Ans.
Bukh, "Ini untuk pukulan karena kau telah membuatnya menangis dan meghinanya di hadapanku, tanpa kau mendegarkan penjelasannya." sekali lagi Dilan mendaratkan pukulanya ke wajah Kevin. Namun itu tak membuat Kevin terjatuh karena Dilan masih menarik kerah bajunya, dan Kevin tidak melawan sama sekali, karena itu memang kesalahannya.
Bukh, "Dan ini pukulan dariku sebagai kakak iparmu." Dilan melepaskan cengkramannya di kerah kemeja Kevin setelah melampiaskan kemarannya yang tidak bisa ia lampiaskan di depan Anin.
Kevin jatuh tersungkur di hadapan Dilan bukan karena dorongan Dilan, melainkan karena kaki Kevin lemas dan tidak sanggup menopang tubuhnya yang kekar ketika mendegar pernyataan Dilan.
Ans baru saja datang dan melihat Kevin bersujud di lantai sementara Dilan duduk di sofa memainkan ponselnya. "Kevin kau kenapa hah?" Ans menyadarkan Kevin yang diam membisu.
Kevin yang tersadar segera berdiri dan kembali duduk di sofa berhadapan dengan Dilan. "Maaf aku terlambat, aku hanya ingin memastikan sesuatu sebelum kesini" Ans memecah keheningan.
Ya Ans terlambat datang karena mendapatkan kabar dari Tari bahwa Anin bertengkar dengan Kevin karena kesalapahamannya dengan Dilan, dan Tari jug mengatakan pada Ans bahwa Dilan dan Anin saudara kandung. Jadi Ans mencari bukti-bukti sebelum menemui Kevin, karena Ia tahu Kevin tidak akan percaya begitu saja tanpa ada bukti yang kuat, apa lagi Kevin tidak suka dengan Dilan.
"Kenapa kau tidak memberitahuku masalah sepenting ini Ans!" ucap Kevin dingin memecah keheningan.
"Aku juga baru mengetahuinya sekarang" jawab Ans menyerahkan amplop coklat yang berisi tes DNA dan juga beberapa foto keluarga Dilan dengan keluarganya, dan foto keluarga Anin berama orang tua angkatnya.
Kevin meraih omplop coklat tersebut dan memeriksa isinya satu per satu. Kevin meremas hasil tes DNA Anin dengan Dilan, penyesalan menyelimuti hatinya.
"Kenapa Aku begitu bodoh? aku yang berjanji untuk membahagiankanmu dan tidak akan menyakitimu, tapi aku sendiri yang melanggar janji itu. Aku menyakitimu untuk kedua kalinya Anin. Bahkan aku dengan tega menuduhmu yang macam-macam." batin Kevin. Dada Kevin terasa sesak saat ini Ia tidak mempunyai keberanian menemui istrinya.
"Kenapa kau memanggilku kesini?" tanya Dilan pada Ans.
"Aku hanya ingin meluruskann kesalapahaman ini, dan sepertinya itu sudah selesai tinggal menunggu mereka berbaikan, apa kau bisa membantunya!" pinta Ans.
__ADS_1
"Aku tidak bisa menjamin itu, itu adalah keputusan Anin dan aku tidak akan masuk-masuk kedalam urusan rumah tangganya, mereka sudah dewasa dan bisa menyelesaikannya sendiri." ucap Dilan dingin dan melirik Kevin yang sibuk memyesap wine yang di pesannya.
"Bagaimana dia bisa menyelesaikannya sendiri? lihatlah sekarang bukannya menyelasaikan masalah, dia bahkan melampiaskannya pada minuman." batin Ans.
"Kalau sudah tidak ada yang perlu di bahas aku pergi saja" Dilan bangkit dari duduknya namun suara Kevin menghentikan langkahnya.
"Hei kau, namamu Dilan kan? aku merasa lega karena kau adalah saudara kandung istriku, tapi aku tidak akan lupa bahwa kau pernah mencintai istriku jadi jangan pernah dekat-dekat dengannya." rancau Kevin menunjuk Dilan.
"Kevin sudah minumnya! kau sudah sangat mabuk ayo kita pulang ini tidak akan menyelesaikan masalahmu" sergah Ans. Ans tidak ingin Dilan terpancing dan menyebabkan kekacauan di Club.
"Aku tidak mabuk Ans, aku hanya kesal dan marah pada diriku sendiri" jawab Kevin ala orang mabuk.
"Kamu mau kemana kakak ipar? disinilah dulu temani aku minum, aku ingin bercerita banyak hal denganmu kakak ipar." rancau Kevin. Dilan yang melihat Ans kewalahan memutuskan untuk tinggal dan mendegarkan rancauan tidak jelas dari adik iparnya itu.
"Apa kau tahu kakak ipar? aku bersikap seperti itu pada istriku karena aku sangat mencintainya. Aku tidak ingin kehilangannya untuk kedua kalinya, Aku tidak suka jika seseorang menyentuhnya mau itu kakaknya sekalipun. Dan sekarang aku tidak mempunyai keberanian untuk menemuinya, aku merasa diriku tidak pantas untuknya. Aku mengira cintaku yang begitu besar padanya bisa membuatnya bahagia tapi aku salah, cintaku malah membuatnya tersakiti. Apa yang harus aku lakukan kakak ipar? agar istriku mau memaafkanku? apapun akan aku lakukan asal dia tidak pergi dariku aku tidak sanggup untuk itu." rancau Kevin.
"Kau tidak perlu bicara banyak jika menemani Kevin minum, kau hanya perlu mendegarkan keluhannya. Lihatlah Dia tidak mendegarkanmu sama sekali dan malah tertidur, itulah kebiasannya saat minum tertidur jika sudah mabuk" tawa Ans lepas melihat Dilan yang susah-susah payah menasehati Kevin sementara Kevin tertidur.
"Aku tidak menyangka Kevin bisa menjadi pengusaha sukses dengan sikapnya yang kekananak-kanakan seperti ini" Dilan ikut tertawa, menertawakan Kevin yang berbanding terbalik dengan sikapnya jika berhadapan dengan lawan bisnisnya. "Ternyata sikap aslinya dia lembak" Dilan kembali tergelak.
"Itu karena Anin menghancurkan gunung es di tubuh Kevin dengan kehangatannya." ucap Ans.
"Kenapa kau tidak langsung bilang saja bahwa dia sedang bucin" timpal Dilan, dan keduanyapun kembali tertawa.
"Kau mau mengantar Kevin kemana?" tanya Dilan saat Ans memapah Kevin.
"Mungkin ke apartemennya" jawab Ans.
__ADS_1
"Baiklah aku pulang dulu, ada urusan" Dilan meninggalkan Ans dan juga Kevin di dalam Club.
Sebelum benar-benar pulang, Dilan menyempatkan diri menghubungi Anin.
"Halo kakak ada apa?" tanya Anin di seberang telfon.
"Pulanglah ke apartemen suamimu! selesaikan masalahmu dengan baik-baik, Aku bertemu dengannya di Club dan dia sangat kacau." Dilan membujuk Anin.
"Tapi kak, Aku masih kecewa dengan perkatannya, dia seakan-akan menganggapku wanita murahan." keluh Anin pada Dilan.
"Aku tahu persaanmu, aku kecewa juga tentang itu, tapi percayalah dia tidak benar-benar ingin mengatakan itu padamu, dia hanya terbakar api cemburu saat melihatmu di peluk olehku, bagaiamanapun dia belum tahu aku itu saudaramu. Sekarang dia menyesali perbuatnnya setelah mengetahui semuanya. Tentang kamu memafkannya atau tidak itu urusanmu, mau kau apakan dia terserah itu maumu. Tapi pulanglah! jangan biarkan orang luar mengetahui keretakan rumah tangga kalian, jagalah aib rumah tangga kalian." nasihat Dilan.
"Apa yang di katakan kak Dilan ada benarnya, baiklah Aku akan pulang, terimakasih kak atas nasehatnya" Anin memutuskan sambungan telfonnya.
-
-
-
-
-
TBC
Jangan lupa dukung Author dengan memberikan Like, komen, Vote, dan jangan lupa menambahkan sebagai cerita favorit kalian, agar mendapatkan notifikasi setiap up
__ADS_1