Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Anna dan Anin


__ADS_3

Hari ini Anin kembali belajar menari, namun bukan dengan Dilan melainkan dengan Elvan. Elvan mengajari Anin beberapa geraka yang sudah Anin kuasai selama belajar bersama Dilan, sehingga Elvan tidak terlalu lama mengajari Anin.


Sementara bibi Ajeng sibuk memotret dan juga mengambil video belajar dansa Anin dan Elvan.


Sedangkan Oma Jelita menikmatinya tanpa berkomentar apapun.


"Bukannya banyak sekali kerjaan di pabrik? kenapa Kamu malah tinggal di rumah" tanya Oma Jelita setelah Elvan selesai mengajari Anin.


"Iya Oma, beberapa hari ini banyak sekali pekerjaan di pabrik, tapi kak Kevin menyuruhku mengajari kak Anin dan memberikanku cuti beberapa hari" jelas Elvan, yang merasa sikap kakaknya itu sangatlah aneh.


Bibi Ajeng tersenyum mendengar penjelasan anaknya, karena Ia tahu betul mengapa keponakannya itu bersikap seperti itu. "Tentu saja Kevin memberimu cuti, orang Dia tidak ingin jika Istrinya itu di ajar sama Dilan, Dia kan akhir-akhir ini sangat protektif pada Istrinya atau lebih tepatnya cemburu" ucap Bibi Ajeng masih dengan senyuman menghiasi wajahnya.


Sementara Anin jangan di tanya lagi, Ia sudah sangat malu, apa lagi saat Oma Jelita menatapnya dengan senyuman yang sulit untuk di artikan.


"Ibu tahu ? bahkan Kevin menyuruhku mengambil beberapa gambar dan juga video latihan menari Anin, dengan alasan ingin tahu perkembangannya. Walaupun Ia hanya takut jika Dilan yang mengajari Anin. benar-benar Kevin sudah bucin akut pada Anin" lagi-lagi bibi Ajeng membuat Anin merona.


"Anin pamit dulu ya bibi, Oma, mau ganterin makan siang untuk mas Kevin" Anin segera pamit untuk menghindari hal-hal memalukan lainnya yang di lakukan Suaminya.


"Lihatlah tidak cukup dengan sarapan dan makan malam, kini Dia menyuruh Istrinya untuk membawakan makan siang kekantornya" protes Oma Jelita mengeleng-gelengkan kepalanya. "Kamu benar-benar sudah melelehkan gunung es yang ada di dalam tubuh Kevin."


Anin menghiraukan perkataan Oma Jelita karena sudah sangat malu. "Anin pergi dulu ya" Anin buru-buru melangkahkan kakinya menuju dapur untuk mengambil makan siang yang telah Ia persiapkan.


"Pergilah antar kakakmu ke kantor" perintah Oma Jelita yang segera di anggukki oleh Elvan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kevin segera mengakhiri rapat saat mendapatkan pesan dari Istri tercintanya.


"Aku ada di lobi mas" isi pesan.


"Tunggu Aku di ruanganku" perintah Kevin.


Kevin melangkahkan kakinya keluar dari ruang rapat, dan berhenti saat ponselnya kembali berdering.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Kevin datar setelah sambungan terhubung.


"Saya tidak menemukan Anna di rumah sakit Tuan, kata dokter, Anna baru saja keluar dari rumah sakit sendiri." jelas Ans mondar-mandir di rumah sakit mencari Anna.


"Baiklah, kembalilah ke kantor" pinta Kevin dan memutuskan sambungan telfonnya.


Baru saja Kevin akan melangkahkan kakinya keluar dari lift untuk menuju ruangannya menemu Istri tercinta. Kevin di kaget oleh seseorang yang langsung bergelayut manja padanya.


"Kejutan" ucap Anna.


Ya Kevin sangat terkejut, tapi bukan terkejut seperti yang di harapkannya, melainkan kejutan yang akan membuatnya dalam masalah.


"Sayang Aku sangat merindukanmu" Anna bergelayut manja pada Kevin, sementara Kevin tak menangapi Anna dan hanya memperlihatkan senyum yang begitu di paksakannya.


Kevin membuka pintu ruangannnya dan tercengang mendapati kehadiran sang Istri. "Aa....Anin" lirih Kevin, Ia benar-benar takut jika Anin marah atau salah paham padanya.


Anin yang merasa namanya di sebut segera menghentikan pekerjaannya yang sedang menata makan siang di meja, membalikkan tubuhnya dan tercengang melihat keberadaan Anna yang sedang merangkul lengan Suaminya dengan begitu erat.


"Sayang siapa Dia? kenapa Dia ada di ruanganmu?" tanya Anna yang tidak tahu siapa wanita yang berdiri tak jauh darinya.


"Deg" hati Anin bagai di remas-remas saat mendengar Anna memanggil Suaminya dengan sebutan sayang.


Kevin melepaskan rangkulan Anna yang masih setia menempel pada lengannya, membalikkan tubuhnya menghadap Anna. "Anna, mungkin sudah saatnya Kamu mengetahui semuanya." Kevin menarik nafas dan membuangnya. "Dia Anin, dan Dia adalah Is......."


"Saya perawat yang akan merawat Nona Anna" jawab Anin memotong perkataan Kevin, karena Ia sangat tahu apa yang akan di katakan Suaminya yang bisa saja membuat Anna kembali drop.


"Benarkah?" tanya Anna dengan wajah berbinar, menghampiri Anin yang masih berdiri di samping sofa. "Kau juga membuatkan makan siang untukku dan juga Kevin?" lanjut Anna.


"......."Anin mengangukkan kepalanya. "Saya permisi dulu" Anin melangkahkan kakinya keluar ruangan, namun langkahnya terhenti saat tanga Kevin memegang pergelangan tangannya.


"Anin apa yang Kamu lakukan? Aku sudah tidak sanggup bersandiwara lagi, dan apa itu? Kamu menyebut dirimu perawat? Aku tidak setuju jika Kamu harus melayani Anna apa lagi dalam ke adan hamil." protes Kevin. "Aku akan...."


Anin dengan segera melepaskan gengaman tangan Suaminya. "Nona Anna" Anin lagi-lagi menghentikan perkataan Kevin, dan sengaja memanggil Anna untuk menghentikan kelakuan Kevin.

__ADS_1


Anna yang sedang mencicipi masakan yang di buat Anin, segera menoleh saat namanya di panggil. "Iya ada apa?" tanya Anna yang belum menyadari keanehan dari keduanya.


"Jika Nona membutuhkan sesuatu, silahkan Anda hubungi Tuan Kevin atau sekretaris Ans untuk memberita tahu Saya" ucap Anin berbasa-basi.


"Baiklah, terima kasih" ucap Anna sopan, dan melanjutkan kegiatannya mencicipi masakan Anin.


Sementara Kevin, memandangi kepergian Anin dengan perasaan campur aduk, rasa kesal, marah, dan juga bersalah. Sungguh pikirannya benar-benar kacau, jika Ia memberitahukan semuanya pada Anna, dan membuat Anna kembali drop, maka itu akan membuat Anin marah dan juga di hantui rasa bersalah.


Namun jika Ia tidak memberitahukan pada Anna yang sebenarnya, Ia akan tersiksa dengan sandiwara ini, apa lagi jika memikirkan perasaan Istrinya yang mungkin saja menangis di sendiri di belakangnya membuatnya benar-benar sakit.


Kevin mengusao wajah dengan kasar.


"Sayang Kamu kenapa? sepertinya Kamu terlihat kacau dan juga gelisah, apa ada masalah?" ucap Anna yang sedari tadi memperhatikan raut wajah Kevin.


"Aku tidak apa-apa, makanlah Kamu pasti belum makan kan" ucap Kevin dan melangkahkan kakinya mendekati Anna, mendudukkan tubuhnya di sofa berhadapan dengan Anna.


Kevin memandangi makana yang ada di hadapannya "Harusnya yang bersamaku saat ini Kamu, bukan Anna" batin Kevin.


"Kenapa Kamu tidak makan?" Anna kembali bersuara saat Kevin belum juga menyentuh makanannya.


"Aku tidak lapar, makanlah duluan!" Kevin sangatlah lapar, namun selera makannya menghilang begitu saja.


-


-


-


-


TBC


Jangan lupa dukung Author dengan memberikan Like, Komen, dan juga Vote.

__ADS_1


__ADS_2