
Naura terus mengulas senyuman bahkan tertawa kecil sejak tangannya di genggam oleh Julian. Perempuan cantik yang mengenakan sweater rajut berwarna cokelat muda di padukan dengan celana jeans putih itu mengawali pagi hari itu dengan di hujani dengan cinta dan kebahagiaan dari Julian, sang kekasih.
Sementara Julian tidak bosan bahkan tak merasakan lelah karena sudah berulang kali menempelkan bibirnya di punggung tangan Naura. Untuk mengungkapkan rasa sayangnya dengan menghantarkan senyar hangat dan menghujam hati Naura dengan taburan cinta yang bersemi.
"Julian, bisakah kau menghentikan itu?" tanya Naura dengan mengulas tawa.
"Kau gugup, jadi aku mencoba membuyarkanmu dari rasa gugupmu."
"Lian...? Darimana kamu tahu kalau aku sedang gugup sejak tadi?" Naura terperangah, dan tidak menyangka ternyata Julian begitu peka terhadap keadaannya.
"Dari pergerakan tubuhmu yang merasa tak nyaman, apalagi ritme pernapasanmu menjadi tidak normal seperti biasa. Terlebih dari dadamu yang terlihat naik turun tak normal hingga berulangkali kau menggigit bibir bawahmu dan terkahir dari telapak tanganmu yang lembab akan keringat yang keluar." jelas Julian.
"Wow! Tidak salah kalau para perempuan itu begitu memuja - memujamu, Lian!" Puji Naura pada kecerdasan Julian hingga membuat mulutnya menganga kecil.
"Naura, akhir - akhir ini aku selalu sering perhatikan kau selalu menggigit bibir bawahmu. Ketika kau merasa tak nyaman."
"Oh, sejak dulu aku memang seperti......"
Ucapan Naura terhenti karena bibir Julian yang sudah langsung menempel di bibir Naura dengan tiba - tiba.
"Lian! Apa yang sedang kau lakukan, kita itu sedang berada di luar kamar," Naura terkesiap dengan pergerakan Julian yang tidak terbaca.
"Apa kau tau? Kau itu sudah menggodaku, jika setiap kali kau menggigit bibir bawahmu seperti itu," ujar Julian dengan ibu jari mengusap lembut bibir bawah Naura.
"Kemarin malam kau sudah puas bukan?" Naura malu - malu mengingatkan Julian, akan keagresifannya kemarin malam."
"Jangan pernah gigit bibir bawahmu di hadapan laki-laki lain karena itu sama saja dengan kau yang menggoda mereka secara tidak langsung. Kau dengar itu? Hm!" Julian memaksa untuk Naura agar menuruti keinginannya.
"Siap, Pak Dokter!" Sahut Naura cepat dengan mengulas senyuman.
__ADS_1
"Ayo, kita susul keluargaku. Mereka pasti sudah berkumpul di sana," Julian kembali menggenggam tangan Naura lalu menariknya lembut.
"Apa mereka semua sudah berkumpul? Termasuk Papa, Mama, Bibi Kanaya dan Paman Elvano? Lalu Nyonya cantik yang waktu itu datang kerumah sakit...."
"Itu Kakak Iparku yang tertua. Kau jangan takut, Naura! Mereka semua sangat baik. Terutama dengan Kak Marsha. Kak Marsha ya tidak sama galaknya dengan suaminya itu," ucap Julian yang memberitahu tentang sosok Marsha guna menenangkan jiwa Naura yang terlihat gugup dan cemas.
"Tenanglah, Naura. Keluarga besarku tidak menakutkan. Malahan keluarga besar kami cenderung lebih sederhana di balik kemewahan yang kami miliki," lanjut Julian yang terus berusaha untuk menenangkan Naura.
...***...
"Sepertinya Mama dan Bibi Kanaya sedang mengasuh para cucu." kedua mata Julian mengawasi keadaan restoran yang tidak melihat keberadaan Ibu dan Bibi tercintanya.
"Kalau begitu aku bergabung dengan mereka saja, Lian." senyum Naura merekah, membalas senyuman yang ramah dari para perempuan Alvarendra yang sudah melambaikan tangan kepadanya.
"Apa kau yakin, Naura?" tanya Julian memastikan.
"Sekarang kau itu punya teman yaitu aku. Aku teman sejati yang akan selalu menemanimu," sela Julian dengan hati yang tersentuh yang mendengar curahan hati dari Naura.
"Kau itu teman hidupku, Lian. Teman bahagiaku!" Naura menunjukkan keposesifannya.
"Ya! Karena kau...."
"Ekhm...!" Marsha berdehem, mengusik keromantisan kedua insan yang sedang di mabukkan asmara.
"Maaf, Lian. Bisakah aku meminjam sebentar, Naura mu?" tanya Marsha sambil meringis senyuman.
"Apa kemarin malam kau masih belum puas juga!" Lidah tajam Alvaro menuduh tanpa berdosa.
"Ayo, Naura! Yang lainnya sudah menunggu untuk kau bisa bergabung," ucap Marsha yang mengajak Naura dengan nada lembut dan ramah.
__ADS_1
"Kak please! Jangan merusak kesucian pikiran dari kekasihku ini yah?" dengan wajah sedih Julian memohon pada Marsha.
Tak!
Sebuah pukulan tangan Alvaro melayang tepat di lengan Julian. Sikap arrogant Alvaro yang mulai terpancing pada ucapan Julian membuat Naura dan Marsha menahan tawanya.
"Kau pikir istriku itu apa? Cepat sini? Papaku dan Paman Anton sudah menunggu sejak tadi." ucap Alvaro sambil memiting leher Julian dan menggeretnya dengan paksa.
"Awh, Kak! Sakit!" Julian mengerang kesakitan.
"Kau jangan kaget ya Naura, mereka memang seperti itu. Ayo kita bergabung dengan Viona dan juga Berlin. Karena sebentar lagi akan ada obrolan yang seru!" Ajak Marsha dengan menarik lembut tangan Naura.
"Obrolan seru, Kak?" tanya Naura antusias dengan hati yang terpancing.
"Pengantin baru akan kesini sebentar lagi," bisik Marsha sambil tertawa kecil.
...******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
__ADS_1