
Suata ritme jantung terdengar jelas dan mengisi ruangan operasi yang dilengkapi oleh alat medis canggih. Sudah setengah jam operasi yang di pimpin oleh Julian berlangsung. Keseriusan dan fokus tampak menyelimuti orang - orang yang berada di dalam ruangan.
Naura di tunjuk sebagai asisten dokter. Lalu Bayu sebagai dokter anestesi. Mereka di bantu oleh seorang perawat lelaki yang biasa menjadi partner dalam beberapa operasi Julian, Rian.
Keheningan masih terjadi setelah akhirnya di detik mendebarkan terlewati. Bayu yang memastikan tanda vital pasien berada di zona aman pun terusik untuk memecahkan keheningan di antara mereka.
"Aku sudah menerima undangan pernikahan Keira Minggu depan. Apa kau sudah menerimanya, Julian?" tanya Bayu ingin tahu.
Kedua telinga Naura yang jelas-jelas mendengar ucapan Bayu pun memasang telinga dan memerintah otak untuk merekam segala percakapan di antara kedua dokter itu.
"Fokuslah pada pasien." Julian seolah menolak untuk menjawab.
Ada rasa kecewa yang datang di hati Naura, mendengar jawaban dari dokter dingin itu yang menolak untuk memberikan keterangan.
"Atau kau tidak di undang oleh Keira?" tanya Bayu yang semakin memancing.
"Haishh, kau ini!" Julian melirik ke arah Bayu sejenak. "Keira mengundangku. Puas!"
Bayu tersenyum di balik masker yang menutupi mulut. Hatinya semakin tergelitik menjahili partner kerja dalam berbagai operasi.
"Apa kau sudah memilki pasangan untuk hadir di pernikahan Keira?"
Seketika Naura melirik ke arah Julian, tepat di saat Bayu selesai melontarkan ucapannya. Fokus Naura teralihkan. Kedua tangan yang sedang memegang alat medis pun ikut terhenti sehingga menarik perhatian dari Julian.
"Fokus!" Julian berucap tegas dengan nada datar.
"Ma- maaf dokter." sahut Naura tergagap.
"Jangan galak - galak seperti itu, dokter Naura baru beberapa hari magang di rumah sakit ini."Bayu membela lalu memainkan mata pada Naura yang menatap sekilas ke arah dirinya.
"Bisakah anda lebih fokus Dokter Naura!" Julian kembali lagi menegur Naura.
"M-maaf, dokter saya....."
"Fokus dalam operasi itu sangat di butuhkan karena nyawa pasien berada di tangan kita! Bisa - bisanya lebih fokus pada ucapan lelaki di sana dari pada tanggung jawabmu? Hah!" Bentak Julian tegas hingga menghentak tubuh Naura.
__ADS_1
Perempuan cantik berbola mata cokelat tua itu terdiam. Nyali Keira seketika menciut hingga lidahnya tak berani merangkai kata. Ada senyar panas yang merayapi kedua mata hingga merubah kebeningan kedua mata itu menjadi berkaca-kaca.
Namun, dalam tunduknya Naura mengerjap kelopak mata dan mensugesti diri untuk tak menjadi cengeng hanya karena bentakan tegas seorang Julian.
"Jangan menangis! Hadapi dia dengan tenang. Hanya dia penyelamatku untuk kembali bisa merebut hati Ayah." ucap Naura di dalam hati mencoba untuk mensugesti diri sendiri.
"Kau ini kenapa gak sekali, Julian! Naura itu perempuan. Jangan....."
"Aku berucap benar dan tak salah." sela Julian cepat. "Dan kau! Meja operasi itu bukan tempatnya untuk bergosip."
"Aku bukan bergosip, aku hanya bertanya - tanya." ucap Bayu yang tak takut dengan peringatan keras dari Julian.
"Kau bisa menanyakan secara pribadi di ruanganku." Julian menyahuti tenang dengan fokusnya kembali pada pekerjaannya.
"Tapi, kau selalu mengusirku saat aku keruanganmu."
Astaga! Nyali Bayu sungguh luar bisa terus menggoda Julian. Seolah - olah dokter yang berperawakan manly itu tak takut menghadapi pembalasan Julian setelah berada di luar ruang operasi.
"Dokter Naura sudah punya pacar?" tanya Bayu yang memulai kembali memancing perhatian Naura.
"Tcchh! Aku ini jomblo dan polos. Lagi pula, mana mungkin aku ingin menjadikan Dokter Naura sebagai korban. Paling - paling aku yang akan menjadi korban dari kecantikannya itu." Bayu menyangkal lalu memuji - muji kecantikan dari Naura yang memang menjadi pusat perhatiannya.
"Jangan percaya ucapannya. Dia itu bermulut manis." kalimat peringatan yang Julian tunjukkan pada Naura tanpa ingin melirik.
"Y- ya, dokter? Apa Dokter Julian berbicara dengan saya?" tanya Naura yang ingin memastikan.
"Kau pikir, kalimat itu pantas aku tujukan pada Rian!" Jawab Julian menutupi sikap peduli.
"Y- ya, Dokter. Terima kasih atas sikap perhatiannya."
Kesedihan dan rasa takut yang sempat singgah di hati Naura sedikit memudar dengan kebahagiaan atas sikap peduli Julian pada dirinya. Di balik masker yang di kenakan, bibir Keira menipis, merekah, mengulas senyum kebahagiaan hingga semakin memupuk rasa percaya diri untuk mendekati sosok lelaki dingin yang ada di hadapannya itu.
...***...
Julian telah mengganti scrub yang tadi kenakan saat berada di ruang operasi dengan setelan kemeja yang rapi di padukan dengan jeans yang berwarna hitam. Arloji mewah milik brand ternama, Rolex telah melingkar di pergelangan tangannya.
__ADS_1
Seketika penampilan lelaki tampan bertubuh tinggi itu berubah menjadi lebih menyilaukan mata perempuan di bandingkan Julian yang mengenakan seragam scrub dengan dominan warna hijau dan biru.
Gaya perlente menarik hati menjadikan Julian pusat perhatian dari orang - orang yang di lalui. Di tambah lagi aroma citrus berpadu dengan lavender dari Cristian Dior Eau Sauvage Man yang menguar dari tubuh gagah Julian membuat kesadaran para perempuan klepek - klepek akan aromanya yang menenangkan.
"Ah, dokter tampanku lewat." komentar seorang perawat yang di lalui oleh Julian.
Lelaki itu mengulas senyuman ramah pada pegawai dan rekannya di rumah sakit saat kedua kaki panjangnya menuju ke arah parkiran khusus. Tak jauh dari Range Rover Velar miliknya terpakir ada sebuah kegaduhan mencuri perhatian Julian yang sedang terburu-buru.
Seorang perempuan mendapat intimidasi dari dua orang pria yang berbadan kekar dengan
seorang perempuan paruh baya nan angkuh. Keangkuhan perempuan itu terlihat nyata dengan caranya mendorong kasar perempuan muda yang memberontak di hadapannya.
"Jangan ambil mobilku! Ini mobilku!" Teriakan dari Naura yang tak di dengar oleh dua orang lelaki yang berbadan kekar merampas kunci Honda Civic berwarna merah elegan dari tangannya.
"Hei!" Bentak perempuan paruh baya dengan tangannya yang menarik kasar rambut Naura. "Mobilmu ini di beli pakai uang suamiku! Jadi, mobil ini adalah milik suamiku dan aku berhak atas harta suamiku."
"Kembalikan mobilku! Ayah telah memberikannya padaku." suara parau Naura yang di iringi oleh isak tangisan dan ringisan menahan rasa sakit.
"Jangan pernah memanggil suamiku dengan sebutan Ayah! Dasar anak haram!" Perempuan paruh baya itu kembali menunjukkan sikap kasarnya dengan mendorong tubuh Naura hingga jatuh tersungkur ke atas lantai parkiran.
...*************...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.
__ADS_1