Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Pertanyaan Kiran


__ADS_3

"Sudah tak begitu sakit. Aku sudah mengompresnya tadi." tatapan Kiran menunduk, tak berani dalam - dalam membalas tatapan dari Bara.


Detak jantung Kiran semakin cepat. Rasanya akan copot jika Bara terus menunjukkan sisi lembutnya.


"Kau sudah makan?" Brayen membuyarkan lamunan Kiran.


"Hah... ya?" Kiran tersentak, baru tersadar dari lamunannya.


Bibir Bara menipis, senyum manisnya terulas. "Aku belikan red velvet cake kesukaanmu saat menuju ke sini. Mbak Dewi telah membawanya ke dapur."


"Oh.. ! Mau aku buatkan teh chamomile untuk menemani?" Kiran menawarkan diri.


"Dengan senang hati, aku mau." Bara menyambut dengan tangan yang terbuka.


...***...


Cahaya bohlam yang mengecil terlihat bagaikan taburan bintang di depan mata dengan penghalang dinding kaca raksasa. Atap - atap bangunan tak lagi terlihat di karenakan waktu yang semakin larut.


Kiran dan Bara duduk di sudut ruangan santai menikmati secangkir teh dan beberapa potong red velvet cake yang Bara bawakan.


Canggung, perasaan yang menyelimuti seluruh jiwa Kiran hingga jemarinya saling menjalin dan bergerak gelisah.


Tingkah perempuan cantik itu tak luput dari lirikan kedua mata Bara yang awas. Hatinya tergelitik untuk menjahili namun tak sampai hati takut membuat Kiran merasa tak nyaman nantinya. Lelaki tampan itu hanya bisa mengulas senyuman tipis, namun mampu memamerkan lesung pipinya.


"Celina..."


"Kau tenang saja. Aku sudah membereskannya." Bara memotong cepat. "Jangan pikirkan orang yang tidak penting seperti dia." sambung Bara memerintah lembut.


"Apa boleh aku tahu, alasan kamu mau berhubungan dengannya, Bar?" tanya Kiran yang begitu penasaran.

__ADS_1


"Membicarakan hal yang tak penting seperti ini hanya membuat moodku tak baik. Tapi, karena kau yang meminta, akan aku beritahu." jawab Bara yang agak berat hati, namun mengiyakan agar nantinya tidak ada kesalahpahaman antara dirinya dan perempuan kesayangannya.


"Celena aku dekati hanya untuk memancing mu keluar dari tempat persembunyian mu. Kau yang aku ketahui sangat ekspresif pastilah akan terpancing dengan berita hubungan di antara kami berdua. Usahaku agak membuahkan hasil, saat Alvaro berhasil terpancing dan mengamuk kepadaku. Alvaro tak sengaja berucap jika kau bahagia di dekat Julian. Maka dari itu aku terus - menerus mengikuti jejak dari Julian. Tapi, ya... kau tahu sendiri Julian itu sangat pintar tak pasif saja. Dia sengaja melakukan perjalanan ke kota - kota lain sengaja untuk mengelabuhiku." jelas Bara dengan lancar demi melenyapkan rasa penasaran di hati Kiran.


"Oh.... begitu." Kiran menanggapinya dengan singkat.


"Kiran? Kenapa kau lari dariku?" tanya balik Bara mendesak.


"Hah? Itu.... itu... itu karena kau sangat menakutkan seperti hewan buas." Kiran menjawab asal. Namun, sangat tepat kebenarannya.


Bara tersenyum tipis. Napas lembutnya terhembus dari mulutnya yang terbuka kecil. Ucapan Kiran sukses menghantarkan senyar penyesalan terdalam di hati laki - laki tampan yang masih mengenakan setelan jasnya.


"Aku tahu perbuatan ku sudah menorehkan trauma bagimu, Kiran." Bara bangkit dari duduknya lalu berlutut di hadapan Kiran. "Kiran..., aku minta maaf." sambung Bara yang berucap tulus.


"Aku sudah memaafkanmu, Bar." jawab Kiran dengan nada lembut.


"Harusnya kau tak lari, Kiran. Aku sudah pernah mengatakan bukan, akan bertanggung jawab kepada mu?" lanjut Bara setengah menyalahkan.


"Aku juga sudah mengatakannya bukan, jika saat itu aku sangat takut padamu," Kiran kembali mengulang alasannya.


"Lalu? Apakah saat ini kau masih takut kepadaku?" jemari Bara membelai lembut pipi Kiran.


Luluh lantah sudah Bara mengobrak - abrik hati Kiran dan mempora - porandakan hati Kiran dengan badai cinta dan kelembutan sikap yang terus Bara hujamkan tanpa henti.


"Aku mau kembali percaya padamu," ucap Kiran sadar dalam buaian manis Bara.


"Jadi, keputusanmu..."


"Masih ada sisa waktu dua hari lagi, bukan?" Kiran menyerobot cepat. "Jadi kau harus sabar sesuai dengan waktu yang kau minta."

__ADS_1


"Ya! Aku akan bersabar." Bara mengulas senyuman terpaksa.


"Apa aku boleh bertanya lagi padamu?" Kiran kembali ingin mempertanyakan satu hal yang masih mengganjal di hatinya.


"Katakanlah." Bara mengiyakan. Jemarinya masih membelai lembut pipi Kiran dengan penuh rasa sayang.


"Apakah kau pernah tidur dengan perempuan lain, Bar? Karena Kak Alvaro pernah bilang, kalau beberapa perempuan yang kau kencani termasuk Celena sering bermalam di Apartemenmu?" tanpa ragu dan tanpa perasaan takut Kiran mengeluarkan hal yang mengganjal di hatinya.


"Huh? Sepertinya Alvaro memang selalu melaporkan kelakuanku selama kau tinggalkan." ucap Bara yang agak kesal dengan sikap keponakannya itu.


"Jawab dulu pertanyaanku!" Seru Kiran memaksa, sambil memasang wajah yang terlihat kesal.


"Ya, aku akui mereka itu sering datang ke Apartemenku dan sering bermalam di Apartemenku. Bahkan mereka juga sering menggoda dan merayuku. jawab Bara yang tidak menyangkal. "Tapi, aku tetap setia denganmu. Karena bujukan dari para perempuan murahan seperti mereka tak akan mempan untuk menggoyahkan kesetiaan dan rasa cintaku padamu." bisik Bara dengan perlahan mendekatkan bibirnya ke bibir Kiran. Namun, tak segera langsung di kecup.


"Aku tak pernah tidur apalagi menikmati tubuh perempuan lain selain dirimu, sayang. Bahkan hanya sekedar untuk kecupan bibir-" bibir Bara kemudian mengecup sekilas bibir Kiran- "Yang seperti ini, sayang." sambungnya.


...*******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.

__ADS_1


__ADS_2