Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Kevin Sakit


__ADS_3

"Pak ke hotel Grand Millenium Beijing" perintah Anin.


"Baik nona" supir taksi memutar balik mobilnya menuju hotel Grand millenium Baijing.


Tiga puluh menit telah berlalu, akhirnya Anin sampai di hotel Grand Millenium Beijing, Anin melangkahkan kakinya masuk kedalam lift tanpa bertanya pada repsionis terlebih dahulu.


Ting


Pintu lift terbuka tepat di lantai 10 dimana kamar Kevin berada, Anin melangkahkan kakinya mendekati kamar 321 dan mengutuknya.


Tok....tok....tok......


"Apa mas Kevin sudah pergi" gumam Anin, karena pintu tak kunjung terbuka.


"Mas Kevin, apa mas Kevin masih di dalam?" teriak Anin.


Kevin yang samar-samar mendegar suara teriakan dari luar, bangkit dari duduknya dan berjalan sempoyongan mendekati pintu, karena kepalanya sangat berat dan sakit.


"Siapa........"


Bruk


Belum selesai Kevin bicara, Anin memeluknya dengan sangat erat. "Jangan pergi mas, Aku masih rindu" ucap Anin meneggelamkan kepalanya di dada bidang Kevin.


"Aku tidak akan kemana-mana" Kevin senyum dan mengelus lembuat puncuk kepala Anin.


Anin melepaskan pelukannya saat merasakan badan Kevin panas. "Mas Kevin sakit?" Anin menyentuh kening Kevin dengan punggung tangannya.


"Aku tidak apa-apa, ini hanya demam biasa, nanti juga sembuh setelah minum obat dan istirahat" Kevin lagi-lagi mengembangkan senyumnya melihat wanita yang di cintainya begitu khawatir padanya.


"Pulanglah! Apa Kamu tidak takut masuk kedalam kamar seorang Pria?" ucap Kevin menyuruh Anin pergi, Kevin takut tidak bisa mengendalikan dirinya.

__ADS_1


"Aku tidak akan pergi sebelum Kamu minum obat, jadi duduklah!" perintah Anin menyuruh Kevin duduk di atas ranjang. "Dimana kotak P3K nya?" tanya Anin, karena ini baru pertama kalinya Anin masuk kedalam kamar hotel Kevin.


"Di sana" Kevin menunjuk laci dekat Tv, dan menyadarkan punggungnya ke kepala ranjang karena kepalanya sangat pusing.


Anin melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar mandi untuk mengambil air hangat untuk mengompres Kevin dan juga membersihkan tubuh Kevin agar lebih segar. Dan tidak lupa juga Anin mengambil kotak P3K di laci sebelum menghampiri Kevin di tempat tidur.


"Minum dulu obatnya" Anin memberikan obat pereda panas pada Kevin dan juga air mineral.


"Pulanglah, Aku sudah minum obat" usir Kevin yang tidak ingin merepotkan Anin, walau Kevin sangat bahagian karena Anin ingin merawatnya dan mencegahnya untuk kembali ke indonesia, itu artinya Kevin mempunyai peluang untuk bersama Anin lagi.


"Tidak, Aku akan menunggu mas Kevin sampai demam mas Kevin benar-benar turun." Anin kekeh dengan pendiriannya, Anin tidak tega jika meninggalkan Kevin dalam keadaan sakit tanpa ada yang merawatnya.


"Terserah Kamu" Kevin mengalah dan memutuskan untuk tidur agar tidak terjadi apa-apa di antara mereka.


"Kamu mau apa?" Kevin memegang tangan Anin, yang hendak melepaskan dasi dan juga membuka kancing kemejan Kevin. Pikiran Kevin sudah traveling ke mana-mana, apa lagi saat mengingat punggung mulus Anin yang tadi saat di butik. "Anin tolong jangan menyiksaku seperti ini! Aku juga laki-laki normal." batin Kevin.


"Jangan berfikiran aneh-aneh, Aku hanya ingin membersihkan tubuhmu." Anin melanjutkan kegiatannya membuka kancing kemeja Kevin, hingga dada bidang dan juga perut Kevin yang seperti roti sobek terpampang nyata di hadapannya, namun Anin terlihat biasa-biasa saja.


Pikiran Kevin mulai treveling kemana-mana, apa Anin memperlakukan Dilan seperti ini juga saat sakit? itulah yang bada di fikiran Kevin saat Ini. Tiba-tiba api cemburu menyelimuti pikiran dan hatinya membayangkan tangan mungil Istrinya menyentuh dada bidang Pria selain dirinya.


"Apa Kamu sudah biasa melakukan ini pada Pria selain Aku?" tanpa sadar pertanyaan itu Keluar dari mulut Kevin.


"Hah apa ini? apa Dia sedang menuduhku? apa Aku terlihat semurahan itu di matanya?" batin Anin sedikit tersinggung dengan pertanyaan Kevin. Anin yang berusaha sebisa mungkin untuk terlihat biasa-biasa saja untuk menutupi kegugupan dan juga malunya saat melihat Pria di hadapannya bertelanjang dada, malah di tuduh yang aneh-aneh.


"Ya Aku sudah biasa dengan pemandangan seperti ini, kenapa? apa Kamu tidak suka? Aku bahkan menyentuhnya dengan sangat lembut seperti ini" tanpa sadar Anin menggerakkan tangannya dengan lembut di atas perut dan juga dada bidang Kevin, membuat darah Kevin berdesir hebat didalam tubuhnya.


Kevin yang sudah terbakar api cemburu dan juga nafsu menarik tubuh Anin dan menindihnya. Kevin menatap intens wajah Anin dangan tatapan sayu. Kevin mencekram tangan Anin begitu kuat, membuat Anin meringis kesakitan.


"Mas Kevin, Kamu menyakitiku" ucap Anin lirih dan memalingkan wajahnya ke samping, Anin menyesali perkataannya barusan, Ia dapat melihat mata Kevin memerah menahan marah. Anin tahu betul sekarang Kevin sedang cemburu padanya.


Kevin tak menghiraukan perkataan Anin dan malah makin menghimpit tubuh munggil Anin, mendekatkan wajahya dan mencium telinga Anin dan membisikkan sesuatu di sana. Anin menutup matanya merasakan hembusan nafas Kevin yang terasa hangat menerpa telinganya. "Aku tidak suka jika tanganmu menyentuh seseorang selain Aku" bisik Kevin di telinga Anin.

__ADS_1


Satu detik, dua detik, tiga detik. Akhirnya Anin membuka matanya saat tidak ada pergerakan dari Kevin. Betapa malunya Anin, saat Kevin menatapnya dan tersenyum padanya.


"Ah gila, apa yang Kamu harapkan bodoh, sadarlah Anin sadar." batin Anin.


"Kenapa sayang? apa Kamu mengharapkan sesuatu yang lebih?" goda Kevin.


Ya Kevin yang tersadar dengan perbuatannya segera menghentikan perbuatannya dan juga melepaskan cengkraman tangannya pada tangan Anin, Kevin tidak ingin membuat Anin stres lagi. Kevin yang hendak melepaskan kungkungan tubuhnya pada Anin, segera di urungkan saat melihat wanitanya menutup mata dan menunggu kejadian selanjutnya. Dan Kevin memutuskan untuk mengoda Anin.


"Maafkan Aku sayang, tubuhku sangat lelah untuk melakukannya sekarang." Kevin mencium kening Anin dan membaringkan tubuhnya di samping Anin. "Tidurlah" Kevin memeluk tubuh Anin dari belakang.


Anin yang hendak memindahkan lengan kekar Kevin dari pinggangnya segera di urungkan saat mendengar perkataan Kevin. "Biarkan seperti ini sebentar saja" ucap Kevin semakin mempererat pelukannya. Tidak butuh bagi keduanya untuk terlelap karena masing-masing merasa lelah karena bekerja seharian.


Jam dua dini hari, Anin terbangung saat merasakan suhu tubuh Kevin semakin panas. Anin bangun dan menyiapkan air hangat untuk mengompres Kevin agar demamnya cepat turun.


Karena Air hangat yang di bawanya sudah dingin, Anin berniat mengantinya dengan air hangat, namun saat hendak berdiri tangannya di cegat oleh tangan Kevin.


"Jangan tinggalkan Aku lagi, Aku mohon sayang. Aku tidak ingin lagi kehilangan dirimu, Aku sangat mencintaimu. Maafkan Aku karena baru menemukanmu sekarang. Jujur Aku sangat kecewa saat melihat perubahanmu selama tiga tahun itu." igauan Kevin.


"Aku merasa................


-


-


-


-


-


TBC

__ADS_1


Jangan lupa dukung Author dengan memberikan Like, komen, Vote, dan jangan lupa menambahkan sebagai cerita favorit kalian, agar mendapatkan notifikasi setiap up.


__ADS_2