Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Bagaikan Istri Simpanan


__ADS_3

"Sayang kenapa Kamu diam saja?" Ans memecah keheningan setelah beberapa lama terdiam.


"Sayang sebenarnya Kita mau beli apa sih?" tanya Ans lagi saat Tari tak kunjung menjawab pertanyaannya, dan hanya berjalan mengelilingi rak-rak supermarket.


Tari lagi-lagi mengabaikan Ans yang berada di sampingnya, Ia bahkan lupa apa yang harus Ia beli sehingga mereka singgah di sebuah supermarket sebelum pulang kerumah.


"Permisi, Kami ada produk baru yang sedang diskon, produk ini bagus untuk menyegarkan tubuh dan fikiran." seorang karyawan mempromosikan sebuah parfum produk terbaru pada Ans dan juga Tari.


"Apa produk ini juga bisa menghilangkan segala masalah yang Saya hadapi?" tanya Tari tanpa sadar, membuat karyawan itu melongo mendengar pertanyaan Tari.


"Jangan dengarkan pacar Saya nona, silahkan Anda kembali bekerja" ucap Ans menarik Tari keluar dari supermarket tersebut. "Sayang apa yang terjadi pada dirimu? Kamu tidak usah memikirkan urusan rumah tangga mereka, mereka sudah dewasa dan tahu mana yang benar dan salah" jelas Ans, ya Ans berpendapat bahwa Tari bersikap seperti itu karena memikirkan masalah Anin dan juga Kevin.


"Aku sedang tidak memikirkan masalah mereka, Aku melakukan kesalahan yang sangat fatal kemarin, dan itu membuatku dalam masalah" akhirnya Tari mengeluarkan apa yang sedang Ia rasakan.


"Apa maksudmu?" Ans mengerutkan keningnya sehingga kedua alisnya tertautan.


"Aku bertemu dengan Anna kemarin di rumah sakit saat memgantarkan makan siang untuk Ayahmu" Tari mengerucutkan bibirnya, Ia benar-benar merasa bersalah pada Anin.


"Bagaimana mungkin? rumah sakit sebesar itu Kamu bisa bertemu dengan Anna" Ans terkejut saat mendengar penjelasan Tari, dan pikirnya sudah travelling kemana-mana.


Apa yang dilakukan Tari pada Anna? apa Dia mencecar Anna dengan mulutnya yang tajam itu? berbagai pertanyaan muncul begitu saja di dalam otak Ans.


"Terus kenapa jika Kamu bertemu dengan Anna? itukan tidak masalah" Ans berusaha menepis semua kemungkinan yang bermunculan di dalam pikirannya.


"Tentu saja itu masalah besar, Aku bertemu dengan Anna di depan rumah sakit, Aku menolongnya saat Dia akan terjatuh kerena Aku tidak tahu jika itu Anna, Dia terlihat pucat dan itu membuatku bersimpati." Tari menundukkan kepalanya.


"Kenapa Kamu bersedih? itu tidak masalah, Kamu kan hanya menolong orang lemah, dan Anin akan mengerti itu" Ans mengacak-acar rambut Tari, itulah cara Ans untuk menenangkan macan betinanya.


"Ais" Tari menepis tangan Ans. "Yang jadi masalah itu adalah" Tari menceritakan pertemuannya dengan Anna saat di rumah sakit.


flashback on


Saat Tari hendak pulang Ia melihat Anna sedang berdiri di depan pintu masuk rumah sakit. Tari menolong Anna, saat Anna hendak terjatuh karena kehilangan keseimbangan.

__ADS_1


"Kamu pucat sekali, di mana keluargamu?" Tari celingak-celinguk mencari keberadaan seseorang.


"Aku tidak mempunyai keluarga di kota ini" jawab Anna senyum dengan wajah pucatnya. "Aku hanya di rawat oleh pacarku."


"Lalu dimana pacarmu?" tanya Tari kasihan pada Anna, bisa di bayangkan bagaimana perasaannya, Ia sakit dan tidak ada satupun keluarganya mendampinginya, dan sekarang bahkan pacarnya tidak menjemputnya.


"Katanya Dia lagi sibuk banyak pekerjaan" jawab Anna.


"Jika Aku jadi Kamu, Aku tidak akan tinggal diam begitu saja, Aku akan ke kantornya dan memastikan hal penting apa yang membuatnya tidak menjemputku di rumah sakit" Tari sangat geram.


"Terimakasih atas sarannya"


flashback of.


"Artinya Kamu yang menyebabkan semua masalah ini? Kamu juga yang membuat Anna datang ke kantor dan bertemu dengan nona Anin?" berbagai tuduhan keluar dari mulut Ans.


"......." Tari mengagukkan kepalanya, dan tidak keberatan dengan tuduhan sang kekasih, karena itu semua benar adanya.


Ans yang gemas melihat ekspresi Tari segera mengacak-akak rambut Tari. "Aku tidak menyangka pacarku bisa seceroboh itu." Ans merangkul Tari berjalan memasuki mobilnya.


Anin menyiapkan makan malam untuk Anna, dan sekalian Ia membersihkan apartemen tersebut yang terlihat berdebu, mungkin karena sudah lama tidak di huni.


Anin mengalihkan perhatiannya saat mendengar pintu terbuka, dan apa yang Ia lihat sungguh menyayat hati. Lagi-lagi Anna begelayut manja dan terus menempel pada Suaminaya.


"Padahal Aku sudah menyuruh Anin menyiapkan makan malam untuk Kita, tapi Kamu malah tidak bisa menemaniku makan malam" ucap Anna cemberut dan melepaskan rangkulan tangannya pada lengan Kevin, lalu melangkahkan kakinya menuju dapur, namun tak menemukan Anin di sana.


"Anin?" gumam Kevin yang memang tidak tahu bahwa Anna menyuruh Istrinya menyiapkan makan malam untuknya.


Kevin segera melangkahkan kakinya mengikuti Anna ke dapur dan tidak mendapatkan Istrinya di sana. Ia segera melangkahkan kakinya keruang tengah dan mendapati Istrinya tengah menaiki bangku yang sedikit tinggi untuk mengambil sasuatu.


Kevin langsung menghampiri sang Istri karena sangat khawatir, Kevin meraih tubuh Istinya dan mengendongnya turun dari bangku tersebut. "Apa yang Kamu lakukan barusan hah? ingat Kamu itu sedang hamil, apa Kamu ingin membahayakan Anak Kita dan juga dirimu?" Kevin benar-benar marah melihat kecerobohan Istrinya yang bisa saja menyakiti dirinya dan juga anaknya.


"Aku hanya ingin membersihkan itu" Anin menunjuk sebuah piala.

__ADS_1


"Aku sudah bilang tidak usah merawat Anna, dan juga siapa yang menyuruhmu membersihkan apartemen ini, ayo Kita pulang......"


"Ada apa?" tanya Anna baru saja keluar dari dapur.


Anin langsung melepaskan rangkulan Suaminya karena takut ketahuan oleh Anna. "Tidak apa-apa, Saya tadi hampir terjatuh dan Tuan Kevin menolong Saya" jelas Anin agar Anna tidak curiga padannya.


Wah Istri sahnya seperti pelakor saja yang harus menyembunyikan identitasnya.😔


"Semuanya sudah selesai nona, kalau begitu Saya pamit dulu sudah malam soalnya" ucap Anin melangkahkan kakinya menuju sofa untuk mengambil tas nya.


"Tinggallah dulu temani Aku makan malam, soalnya pacarku tidak bisa menemaniku, karena ada urusan katanya" ucap Anna melirik Kevin yang diam mematung di sampinya.


Anin menatap Kevin sebentar, namun Kevin mengelengkan kepalanya, tanda Ia tidak mengizinkan Anin untuk tinggal berdua dengan Anna. Kalau boleh jujur Kevin tidak begitu percaya pada Anna jika Ia harus meninggalkan Anin.


"Boleh ya, ini waktu yang tepat untukku mengenal Anna dan meminta maaf padanya." Anin mengirimkan pesan pada Kevin.


Kevin menatap Anin dengan tatapan yang sulit di artikan. "Jika Aku memutuskan tinggal dan makan malam dengan mereka, Anin akan terluka karena Anna akan terus menempel padaku, tapi ji Aku meninggalkan mereka berdua, Aku takut terjadi apa-apa pada Anin" batin Kevin bermonolog.


"Baiklah Saya akan menemani Anda makan malam" ucap Anin.


Kevin menghela nafas kasar mendengar jawaban Istrinya. "Kalau begitu Aku pamit dulu" ucap Kevin masih menatap Anin tanpa Anna sadari.


"Hati-hati di jalan ya sayang" Anna mengecup pipi Kevin sekilas.


Sungguh Istri mana yang tidak merasakan sakit saat melihat Suaminya di cium seorang wanita di depan mata kepalanya sendiri.


-


-


-


-

__ADS_1


TBC


Jangan lupa dukung Author dengan memberikan Like, komen, Vote, dan jangan lupa menambahkan sebagai cerita favorit kalian agar mendapatkan notifikasi setiap up.


__ADS_2