Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Keadaan Naura Dan Berlin


__ADS_3

"Bagaimana keadaanmu, Nak? Kami tadi panik saat mendengar kabar mengenai kejadian tadi." Kanaya membelai kepala Marsha dengan penuh rasa sayang.


"Sudah jauh lebih baik, Bun. Maaf karena Marsha tadi semuanya jadi kacau, dan sekarang Berlin dan Naura di culik oleh Gary." ucap Marsha yang merasa tidak enak hati, rasa bersalah di dalam jiwa kini sedang menggerogoti.


"Ini takdir. Bukan kesalahanmu, Nak." Kanaya langsung membantah ucapan dari Marsha. "Tadinya Paman Anton dan Bibi Lisa juga mau kesini juga. Tapi-" Kanaya melirik ke arah Elvano yang sedang berdiri bersebelahan dengan Alvaro "Ruangan ini nantinya akan semakin ribut dengan adanya dua lelaki yang tidak bisa menahan emosinya."


Sedangkan Elvano acuh saat mendengarkan ucapan sindiran dari sang istri tercintanya. Papa dari ke empat orang anak itu malah melirik tajam ke arah putra sulungnya yang masih mengunci bibirnya serapat mungkin.


"Al, kamu itu Papa! Ada yang ingin Papa bicarakan!" Perintah Elvano dengan nada yang tegas.


***


Kedua mata teliti mengawasi keadaan ruangan kamar yang menjadi penyekapan. Sebuah CCTV terpasang menjadi salah satu alasan utama untuk mengintai gerak - gerik bagi Naura dan juga Berlin yang ada di ruangan kamar tersebut.


Ya, kedua itu gadis itu tidak ikat. Tidak di siksa dan hanya di kurung dalam ruangan kamar yang terkunci dari luar. Sang pemilik bangunan pun belum menyambut apalagi bertatap muka dengan kedua gadis yang ia culik secara paksa.


Munafik rasanya jika Naura dan Berlin tak menegang. Tidak usah di tanyakan lagi bagaimana keadaan jantung keduanya yang berdetak dengan kencang dan tak normal. Namun, Berlin maupun Naura masih bersikap dengan tenang seperti rasa takut tak menyerbu ataupun menyapa diri.

__ADS_1


Naura dan juga Berlin malah sedang duduk santai di atas sofa empuk yang terdapat di sudut ruangan. Melepaskan rasa penat dan lelah usai mobil yang mereka naiki saling kejar - kejaran dengan mobil para bodyguard Alvaro.


Mungkinkah keduanya sedang memainkan drama untuk mengelabui Gary?


Mungkin saja dan bisa jadi. Mengingat jam yang Berlin kenakan masih mengirimkan sinyal GPS untuk mengetahui keberadaan mereka berdua. Ya, jam itu adalah satu - satunya penyelamat yang bisa mengirim posisi mereka kepada keluarga Alvarendra setelah handphone milik kedua gadis itu di buang di tengah jalan. Jam tangan canggih hasil rakitan dari Bastian, si Bos IT.


"Berlin, aku rasa AC kamar ini rusak? Karena ruangan kamar ini terasa agak panas!" Ucap Naura dengan jemarinya meraup rambutnya lalu tangan yang lain mengipas leher jenjang yang terpamerkan dengan jelas.


"Mungkin Kak, aku juga merasa gerah!" Berlin juga ikut - ikutan. Jemari lentiknya melepaskan tiga kancing teratas dari kemeja yang sedang di kenakannya.


Libido Gary pun mulai mencuat ke ubun-ubun .Kedua mangsa lezat sedang memancing serigala yang kelaparan dan memanggilnya dengan sengaja. Tablet PC pun langsung di banting ke atas meja. Kedua kaki Gary langsung mengambil langkah panjang untuk menyapa kedua gadis yang sudah berhasil menaikkan nafsunya di siang bolong.


Sedangkan para bodyguard dari Gary pun hanya bisa celingukan melihat tingkah bos mereka yang menyeringai dalam langkahnya. Dan tidak berani bertanya apa yang sebenarnya sudah terjadi dan terbayangkan di dalam benak.


Pintu pun terbuka. Naura dan Berlin pun langsung tersentak dan bangkit dari duduk di atas sofa yang empuk. Dan daun pintu itu pun kembali tertutup oleh Gary yang kini sudah berkabut nafsu melihat kedua gadis yang ada di hadapannya.


"Halo, kedua perawanku yang cantik-cantik. Selamat datang di istanaku." ucap Gary dengan menyapa sambil menjijikkan di kedua telinga Naura dan juga Berlin.

__ADS_1


"Oh, tunggu dulu. Kalau Berlin sudah saya jamin seratus persen kerapatannya. Tetapi aku masih agak ragu dengan kekasih dari Julian ini? Tapi Kakak tirimu pernah bilang bahwa kamu juga masih perawan karena kamu belum pernah menjalin hubungan apapun dengan lelaki lain. Bagaimana kalau aku periksa dulu untuk memastikannya? Apakah yang di ucapkan oleh Kakakmu tirimu adalah fakta atau tidak?"


Ingin sekalian rasanya Naura langsung melemparkan sepatu yang masih ia kenakan ke wajah Gary untuk memberikan pelajaran kepada Gary akan ucapannya yang sangat menjijikkan tadi. Dan ingin juga rasanya Naura meludahi wajah bengis bagaikan iblis milik Gary yang sangat memuakkan itu.


Namun, semuanya Alexa masih tahan demi rencananya yang telah tersusun rapi dan telah di sepakati dengan Berlin.


******


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2