Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Egois


__ADS_3

"Aku sudah menemukan solusinya, jika kita bisa mendapatkan Dokter Rangga menjadi juru bicara produk yang kita luncurkan, maka tidak ada lagi yang bisa meragukan kualitasnya." ucap Kevin


"Dokter Rangga Wjiaya?" tanya Ans


"Ya Dokter Rangga wijaya, siapkan kotrak kerjasama dengannya dan segera temui Dia" perintah Kevin.


"Baiklah, karena semuanya sudah selesai kau sudah boleh pulang." lanjut Kevin


"Baik tuan" ucap Ans dan pergi meninggalkan ruangan Kevin.


Setelah kepergian Ans, Kevin juga bergegas pulang. Sesampainya di rumah Ia tidak mendapati Anin dimana pun di dalam Kediaman Adhitama. Kevin segera membersihkan dirinya setelah itu makan malam sendirian.


"Sudah jam sepuluh malam, kenapa siput kecil itu belum juga pulang? kemana dia?" batin Kevin.


Setelah menyelesaikan makan malamnya sendiri, Kevin kembali kekamarnya dan mematikan lampu kamar hingga gelap gulita.


Anin yang baru saja pulang merasa heran mendapati kamar begitu gelap, lampu kamar tiba-tiba menyala, bersamaan dengan seorang pria menatap tajam padanya.


Anin menundukkan kepalanya takut melihat tatapan penuh mengintimidasi Suaminya. Kevin melangkahkan kakinya mendekat, namun Anin terus memudurkan langkahnya hingga punggungnya membentur tembok. Kevin menumpu berat badannya dengan tangan yang menempel ke tembok.


"Dari mana saja kamu?" tanya Kevin menyelidik.


"Ak....aku dari rumah sakit untuk menemani Oma" ucap Anin gugup.


"Benarkah?" tanya kevin memegang dagu Anin untuk mengagat wajahnya, Kevin menatap manik coklat Anin namun tidak mendapatkan kebohongan didalannya, hanya sebuah tatapan ketakutan.


"i..ya" ucap Anin gugup.


Kevin segera mengeser posisinya agar tidak lagi mengunci pergerakan Anin.


"Tu..tunggu" cegah Anin pada Kevin yang hendak menjauh, kini giliran Anin yang maju mendekati Kevin.


"Apa kamu sudah tidak memakai pruduk dari Quen Grub?" tanya Anin sambil menghirup-hirup wangi tubuh dan rambut Kevin.


"Emm...." kevin mengagguk


"Jika begitu bisakah Aku, membuang semua produk Quen Grub?" tanya Anin hati-tati. Namun Kevin hanya diam saja dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Emm bagaimana kalau Aku menyimpannya saja" lanjut Anin


"Kenapa" tanya Kevin singkat.


"Aku tidak suka wanginya dan juga Dokter Rangga bilang Aku harus menghindari aroma yang terlalu menyengat agar bisa mengurangi rasa mualku" jelas Anin.


"Dokter Rangga? Dokter Rangga Wijaya?" Tanya Kevin dengan tatapan penasaran.


"......" Anin mengangguk


"Bagaimana kamu bisa mengenalnya?" tanya Kevin.


"Dia adalah dokter kandunganku." jawab Anin

__ADS_1


"astaga dokter kandunggan Anin saja aku tidak tahu" batin Kevin.


"Bagaimana karakter Dokter Rangga?" tanya Kevin lagi.


"Orangnya baik dan menyenagkan, hanya saja...." Anin ragu untuk mengatakannya.


"Hanya saja apa, katakanlah.! perintah Kevin.


"Eum.. Aku takut Kamu akan marah"


"Aku janji tidak akan marah"


"Dokter Rangga bilang, Kamu tidak pernah menemaniku untuk memeriksakan kandunganku, dan selalu sibuk dengan pekerjaanmu. Kata Dokter Rangga Kamu bukan Ayah yang baik untuk Anakmu" ucap Anin.


"Deg" Hati Kevin bagai tertusuk jarum mendengar penuturan Anin.


"Kapan pemeriksaan kandunganmu selanjutnya" tanya Kevin.


"Besok siang" jawab Aning singkat.


"Tidurlah sudah tengah malam" perintah Kevin setelah itu ia menyusutkan tubuhnya kedalam selimut.


******


Siang pun tiba saatnya Anin untuk memeriksakan kandungannya dan juga menghadiri kelas Ibu hamil. Anin segera mempersiapkan apa-apa saja yang harus dibawanya.


Ia menghentikan langkahnya saat mendapati Kevin tengah duduk di ruang kelurga. Anin mengernyitkan keningnya, tidak biasanya Kevin pulang secepat ini.


"Aku akan mengantarmu untuk memeriksakan kandunganmu dan juga menemanimu ikut kelas Ibu Hamil, apa Kamu sudah siap?" tanya Kevin dan bangkit dari duduknya.


"Eummm...." Anin hanya mengangguk.


"Ayo" Kevin menarik tanggan Anin masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit Dokter Rangga yang juga menyediakan kelas Ibu Hamil.


Setelah memeriksakan kandungan Kevin menemani Anin mengikuti kelas ibu Hamil, Ia mengusut tangan dan lengan Anin sesuai instruksi perawat.


Anin hanya senyam senyum memandangi wajah tampan Suaminya yang terlihat semakin tampan jika sedang serius.


"Seandainya saja pernikahan yang Aku jalani adalah pernikahan normal seperti layaknya pasangan lain, mungkin saat ini Aku akan sangat bahagia" batin Anin.


"Hei apa yang kamu pikirkan ?" tanya Kevin yang menyadari Anin sedang menatapnya.


"Tidak ada" jawab Anin gelagapan Karena tertangkap basah.


Kevin mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang mungkin terisi sepuluh pasangan.


"Apa mereka semua tidak sibuk atau tidak punya pekerjaan ? mengapa mereka selalu tidak keberatan menemani istri nya ke kelas hamil?" Batin Kevin


"Untuk latihan hari ini, sampai disini saja, kalian bisa bubar." ucap Perawat.


Kevin membantu Anin berdiri dan hendak keluar namun Dokter Rangga menghampiri Mereka.

__ADS_1


"Pantas saja Suami Nona sangat sibuk, ternyata Dia adalah Tuan Kevin" ucap Dokter Rangga menyindir.


"Ah iy, belakangan ini saya sedikit sibuk jadi tidak bisa menemani istri saya memeriksakan kandungannya" ucap Kevin Sopan walaupun merasa tersinggung.


"Ah begitu, tapi Aku rasa tidak ada yang lebih penting dari istri dan anak," ucap Dokter Rangga yang kata-katanya langsung menancap dihati Kevin.


"Ah iy, nanti Saya akan menyuruh asisten saya untuk mengurus jadwal pemeriksaan istri saya agar bisa menemaninya setiap saat" ucap Kevin yang berusaha menarik perhatian Dokter Rangga.


"Baiklah tuan Kevin, Saya permisi Dulu" ucap Dokter Rangga pergi meninggalkan keduanya di dalam ruangan.


Kevin dan anin berjalan di lobi Rumah sakit untuk segera pulang.


"Kamu tidak perlu mengatarku pulang, Aku bisa naik taksi, karena pasti Kamu sangat sibuk" ucap Anin.


"Baiklah, hati-hati dijalan" ucap Kevin.


Anin meninggalkan Kevin di rumah sakit, saat Anin akan menyetop taksi Ia teringat sesuatu.


"Oh astaga, Aku lupa menanyakan sesuatu pada Dokter Rangga" Anin tidak jadi pulang Ia kembali kerumah sakit untuk menemui Dokter Rangga.


Namun langkahnya terhenti saat melihat Kevin dan juga Dokter Rangga sedang berbicara hal yang serius.


"Dokter Saya datang kesini ingin mengajukan kerja sama, apakah Dokter mau menjadi juru bicara Saya?" tanya Kevin menyodorkan Kotrak kerjasama keatas meja.


"Ini adalah kontrak kerjasama, silahkan Anda lihat dulu" Lanjut Kevin.


"Maaf Saya tidak bisa, apa ini tujuan Anda menemaninya datang kemari? mencoba menarik perhatian Saya melalui Istri Anda?" tanya Dokter Rangga dengan wajah dinginnya.


"Maaf Saya tidak bisa bekerja sama dengan pria yang tidak bertanggung jawab seperti Anda" lanjut Dokter Rangga.


"Ya Aku datang kesini hanya untuk menarik perhatian Anda, tapi Dokter Anda tidak tahu apa-apa tentang hubungan Kami." ucap Kevin geram.


"Nyes" hati Anin bagai diremas-remas Ia tidak menyangka Kevin akan melakukan semua ini, Anin mengira Kevin datang karena sayang pada Anaknya. Namun Ia salah mengira ternyata Kevin hanya memanfaatkan bayi dalam kandungannya, hanya untuk mendapatkan perhatian Dokter Rangga.


"Apapun itu alasannya, Anda harus tahu satu hal, Anda tidak akan mendapatkan wanita seperti Nona Anin lagi, yang rela mengandung anak Anda, rela menanggung semua resiko, mulai dari rasa sakit yang dirasakan seorang wanita dan juga perubahan bentuk tubuhnya." jelas Dokter Rangga.


Dokter Rangga mengetahui apa yang terjadi pada rumah tangga Kevin, karena Anin selalu saja kecoplosan dan juga mencari-cari alasan saat Dokter Rangga menanyakan keberadaan Suaminya, bahkan Ia tidak pernah menyebutkan nama suaminya.


"Sekali lagi maaf Tuan Kevin Saya tidak bisa bekrja sama dengan Pria egois seperti Anda" ucap Dokter rangga.


Dengan perasaan kesal Kevin pun melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Dokter Rangga, dan kaget saat mendapati Anin berdiri di depan ruangan Dokter Rangga.


"Aa..anin....a..aku............


-


-


-


TBC

__ADS_1


__ADS_2