
"Dimana Arkana?" kedua mata Bara mengawasi keadaan sekitar yang tak terlihat keberadaan bayi tampannya.
"Mbak Dewi sedang mengajak jalan - jalan Arkana sebentar," ujar Kiran memberitahu.
"Setelah lancar bertemu dengan Kak Anton. Aku ingin mengajak kalian berbelanja." ucapan Bara mencuri perhatian Kiran yang sedang menengguk jus segar buatan Kiran sendiri.
"Sho - Shopping? Kau ingin mengajak kami shopping?" sepasang mata Kiran terbelalak, terkesiap akan kebaikan hati Bara.
"Hanya Arkana. Aku ingin membelikan baju dan juga perlengkapan lain yang Arkana butuhkan. Kau hanya menemani dan menjaga Arkana saja." Bara kembali tergelitik untuk menggoda Kiran.
"Ka- Kau bilang apa? Jadi aku hanya di jadikan Babby sitter, begitu maksudmu? Wah...., kau cari mata, ya?" Kiran terperangah hingga mulutnya menganga kecil.
"Kau mau shopping juga?" tanya Bara dengan menahan senyumannya. Lelaki tampan itu begitu santai, menyeruput kopi hitam di depan mata.
"Enggak tuh! Uangku itu masih cukup kalau untuk shopping!" Kiran jual mahal.
"Aku dengar Dior, baru mengeluarkan koleksi terbaru musim panas mereka. Edisi terbatas sih katanya?" Bara semakin menggoda Kiran yang pasti akan luluh di buatnya.
Kiran melemas. Seketika memasang wajah memelas. "Aku ikut."
"Satu syarat!" Lanjut Bara untuk semakin menjahili Kiran.
"What?"
"Kiss?"
"Oh my gosh, Bara!" Kiran menggeram, kesabarannya sungguh benar - benar di uji oleh lelaki itu. "Ini nggak adil namanya! Arkana aja...."
"Arkana biasa aku kecup sesuka hatiku dan tanpa ada perlawanan apalagi nego! Berbeda denganmu. Kau...."
"Oke!" Kiran langsung memotong cepat. "Only once?"
"Oke!"
Bara langsung memposisikan tubuhnya dengan tegak dan bersiap menerima kecupan dari Kiran. Bibirnya perlahan mengerucut, saat Kiran sedang bersiap-siap mengabulkan keinginannya.
Cup!
"Kenapa di pipi?" Bara terperangah.
Senjata makan tuan, pribahasa yang tepat di tujukan pada Bara saat ini.
"Kau tadi bilang hanya kiss, bukan? Di pipi juga namanya kiss." Kiran begitu pintarnya berdalih.
"Kiran, kau...."
"Lagian kau sendiri yang tidak mengatakannya agar lebih spesifik dimana bibirku ini harus mendarat, kan? Jadi, apa yang barusan saja terjadi itu sudah di anggap sah!" Kiran kembali membela diri dengan logika yang masuk akal.
"Ya, kau benar! Aku tak spesifik mengatakannya?" Bara mengalah "Tapi, kiss yang aku inginkan adalah yang seperti ini."
Bara bangkit dari duduknya. Lalu beberapa langkah jalan ke sisi Kiran terduduk. Sedikit agak memaksa dalam menarik dagu Kiran, Bara berhasil mendaratkan bibirnya di bibir Kiran.
__ADS_1
"Bar! Apa yang kau lakukan? Nanti ada yang melihat." Kiran mendorong Bara.
"Disini tidak ada orang," bisik Bara dengan mata mengawasi keadaan ruangan.
"Kemarin malam kau sudah puas." Kiran sudah menolak halus.
"Morning kiss, please?" pinta Bara dengan nada yang manja.
Kiran tertawa. "Dasar! Kenapa kau ini sangat menyebalkan, sih?"
"Tapi, kau cinta kan?" Bara mengulas senyuman yang menjengkelkan.
"Cinta," Kiran menyahut dengan nada yang manja.
"So, kiss me, please?" Bara kembali mendesak.
"Tapi janji ya, nanti aku di ajakin shopping?" Kiran menagih janji sebelum nantinya kembali menjadi korban kejahilan Bara.
"Janji!" Sahut Bara cepat.
Bibir Bara telah mengerucut dan bersiap untuk menerima kecupan hangat dari bibir manis Kiran yang sangat Bara sukai.
Cup cup cup
Tiga kecupan bertubi - tubi Kiran berikan tanpa memberikan jeda. Lelaki tampan berlesung pipi itu begitu puas menjahili Kiran. Bagaikan sebuah kuncup bunga yang tak pernah mengembang, hati Bara kini sedang bermekaran, mengembang sempurna akan cinta dan kebahagiaan dari perempuan kesayangannya, Kiran Aurelia Geovan.
"Apa malam ini aku boleh menginap di sini lagi? Atau kita langsung tinggal bersama saja di mansionku?" Bara kembali meminta.
...***...
"Kami akan menikah."
Dengan penuh percaya diri Bara menyatakan niatan hatinya di depan Kakak dan juga Kakak Iparnya dengan menggenggam erat tangan Kiran.
"Kau sudah tobat?" tanya Anton dengan nada sinis.
"Pi..!" Lisa menginterupsi. "Bukan saatnya untuk memarahi," sambungnya menasehati dengan bijak.
Di pangkuan Lisa, Arkana sedang asyik menggigit teether berbentuk pisang yang Lisa berikan. Bayi tampan itu sampai gemas sendiri menggigit mainan yang berbahan karet yang aman untuk bayi seusia dirinya.
"Kau tidak di paksa oleh anak kurang ajar ini kan, Kiran?" tanya Anton dengan nada yang mencibir.
Kiran tersenyum, bibirnya menipis. Mulut kecil Kiran sudah terbuka untuk mengeluarkan kata-kata menjawab pertanyaan dari Anton yang menuduh.Namun tak terealisasi di karenakan Bara yang mengambil alih.
"Fitnah!" Ucap Bara cepat.
"Ssshhhh!" Anton menggeram dengan berdesis. "Kau ini adik siapa?"
"Sudah pasti adik Papi." Lisa menyahuti cepat. "Keras kepala dan gengsinya kalian berdua itu hampir sama. Hanya saja berbeda versi. Yang satu versi Opa - Opa dan yang satu lagi versi Oppa - Oppa!" Sambung Lisa kesal dengan penekanan kata.
Kiran meringis senyuman. Bingung harus menyikapi situasi mencengkam di ruang keluarga dari kediaman Anton dan Lisa. Memang benar apa yang di katakan oleh Bara saat tadi pagi. Lelaki tampan yang enggan melepaskan genggaman tangannya itu benar - benar membawa Kiran ke tempat yang cukup urgent dan menguji nyali.
__ADS_1
"Opa dan Oppa." gumam Kiran samar - samar dengan meringis senyuman kecut.
"Maf ya Kiran. Mereka itu tidak pernah akur semenjak insiden penendangan dua tahun yang lalu. Yang satunya masih sakit hati dan yang satunya lagi masih belum puas di karenakan masih ada yang menghalangi." Lisa menjelaskan kerenggangan yang terjadi di antara Bara dan juga Anton.
"Kiran paham, Kak. Semua ini terjadi karena Kiran. Kalau saja saat itu Kiran tidak lari dan menyembunyikan diri, mungkin Bara tidak akan di tendang oleh Kakak Ipar." ada rasa bersalah yang terselip dari pengakuan Bara.
"Kak Anton...." Kiran memanggil Anton dengan nada yang lembut. "Bara sudah mengakui kesalahannya. Yang terjadi di antara kami juga sudah selesai. Bara sendiri sudah resmi melamar Kiran." Kiran mengangkat tangannya dan memamerkan cincin berlian yang melingkar di jari manisnya.
"Jadi, kapan kalian akan melangsungkan pernikahan?" tanya Lisa yang ingin tahu dengan mengulas senyuman bahagia.
"Minggu depan, Kak." Pernyataan Bara yang mengagetkan Kiran di sebelahnya.
"A- apa? Cepat sekali?" gumam Kiran dengan memelotot pada Bara.
"Sudah aku bilang, kan? Aku itu orang yang tidak sabaran. Lebih cepat, lebih baik!" Balas Bara dengan nada bergumam yang sama
"Mana bisa seperti itu? Kau itu harus berdiskusi dulu denganku?" Kiran tidak terima dengan keputusan Bara.
"Sudah, diam saja dan ikuti aku! Atau kau mau, setelah ini kita itu tidak jadi shopping!" Ucap Bara mengancam.
"Haiissshhh! Dasar kejam!" Kiran kembali berakhir mengalah.
"Menghadapimu harus dengan cara yang cerdas." balas Bara dengan senyuman yang manis tanpa rasa bersalah.
"Hei Kalian!" Bentak Anton kesal, melihat Bara dan Kiran yang sedang berbisik - bisik. "Apa sudah selesai berundingnya!"
Kiran meringis. "Maaf, Kak."
"Keputusan Bara sudah bulat, kami akan melangsungkan pernikahan Minggu depan di karenakan Bara sudah harus secepatnya bertanggung jawab akan kesalahan di masa lalu." ucap Bara sambil menatap lembut Kiran. "Membahagiakan perempuan kesayangan dan," Bara menatap ke arah Arkana. "Permata hati. Bara sudah tidak sabar ingin melakukannya. Restuilah kami, Kak."
Perkataan tulus dari hati yang terdalam membuat Anton tak ingin lagi menekan apalagi memarahi adiknya itu. Mulut Anton terdiam, terkunci rapat.
Tak hanya Anton, Lisa pun ikut terdiam. Namun, diamnya perempuan yang terkenal akan kelembutannya itu di karenakan rasa haru pada adik Iparnya itu. Ketulusan dan keseriusan Bara di pamerkan nyata di depan dirinya dan suami tercintanya. Sisi gentleman Bara yang menghantarkan senyar haru di hati perempuan cantik nan lembut itu.
"Sudah pasti kami akan merestui kalian." kalimat ketulusan hati yang terucap lewat bibir Lisa.
"Kakak Ipar memang terbaik." lirikan Bara terarah pada Anton "Selalu mengerti dan memahami perasaan adik Iparnya." lanjut Bara seraya menyindir.
"Sudah, sudah! Jangan memancing lagi. Lebih baik kita makan siang sekarang. Kakak Ipar kalian yang cantik ini sudah menyiapkan makanan untuk kita makan siang bersama." Ucap Lisa menjadi penengah yang sempurna bagi kedua lelaki kesayangannya yang belakangan tak akur.
...********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.