Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Pernyataan Naura


__ADS_3

"Kau itu memang bodoh!" Julian malah mencibir.


Lelaki tampan itu kemudian langsung berlutut di hadapan Naura. Kotak P3K yang tak juga Naura terima berkahir tergeletak di sebelah Julian. Layaknya seorang pasien, Julian memeriksa luka di lutut Naura. Telapak tangan Naura yang mengepal pun ikut jadi pusat perhatian dari Julian.


"Kau itu seorang dokter, tapi tidak peduli pada luka yang kau dapatkan. Lukamu itu bisa infeksi jika terlambat di tangani." Julian memarahi Naura yang masih hening dan mematung di hadapannya.


"Hanya luka kecil tidak akan membawa saya pada kematian." ucap Naura menyahuti datar.


"Jika kau biarkan kotor dengan debu yang menempel seperti ini lama kelamaan akan membawamu pada kematian," balas Julian dengan penekanan kata.


Dengan telaten Julian membersihkan luka di lutut dan telapak tangan Naura dari debu kotoran yang mengotori. Lalu sebuah kapas yang telah di basahi sedikit cairan alkohol Julian basuh pada luka di lutut Naura.


Sejenak lelaki tampan itu terkesiap dengan keheningan dari Naura. Julian bahkan menatap Naura yang masih saja diam mematung bahkan saat kapas yang di basahi oleh alkohol itu menyentuh lukanya pun Naura masih tak bergerak.


"Jangan di tahan jika kau merasa perih."Julian memerintah kepada Naura untuk menahan perih luka di lutut.


"Luka ini belum seberapa dengan luka - luka saya yang sebelumnya." ucap Naura.


"Saya sudah bilang, kan? Jika saya tidak suka urusan...."


"Apa Dokter Julian melihat semuanya? Apa Dokter Julian mendengar semuanya?" sela Naura memberanikan diri.


"Luka kecil seperti ini akan segera sembuh." Julian enggan menjawab pertanyaan dari Naura.


"Jadi Dokter Julian sudah mendengar semuanya, kan?" tanya Naura mendesak.


"Kau suka mengenakan rok saat bekerja?Besok - besok jangan kenakan lagi rok sependek ini karena akan melukai tubuhmu nantinya." Julian malah berucap yang lain.

__ADS_1


"Apa Dokter Julian mendengar ucapannya yang menyebut saya sebagai anak haram?" Naura semakin memaksa Julian agar berkata jujur.


Wajah Julian menengadah untuk bisa menatap Naura. Tatapannya dingin menusuk kedalam dua bola matanya Naura. Namun, tak menggetarkan tatapan Naura untuk berpaling. Naura malah membalas tatapan dingin nan tajam Julian.


"Kenapa kau tak melawan? Kau bisa saja kan menjerit hingga security bisa mendengar dan membantumu? Kau sayang pada mobilmu itu kan? Kau pikir tenaga perempuan kurus sepertimu ini bisa menghadapi dua lelaki yang tiga kali lipat darimu?"


Julian berakhir jujur dan menyerang Naura dengan pertanyaan yang sejak tadi tertahan di tenggorokannya. Ingin rasanya Julian tidak ingin ikut campur dalam permasalahan Naura. Namun, lelaki tampan itu tidak bisa karena sisi sensitifnya telah tersentuh setelah kedua mata melihat sendiri secuil pil pahit di kehidupan Naura.


"Dengan saya berteriak, lalu orang lain mengetahui, posisi saya akan semakin sulit. Di campakkan di kota B saja sudah membuat saya sulit. Apalagi nantinya orang - orang yang berada di rumah sakit tahu tentang permasalahan ini. Bukankah Dokter Julian pernah bilang kalau saya tidak boleh membuat skandal karena bisa membuat mencoreng nama baik, Dokter Julian?"


Sejenak Julian membisu. Kesadaran dirinya tersentak hingga membuat lidah tidak bertulangnya kelu setelah mendengar sindiran dari Naura.


"Lalu, kau merasa terhina di campakkan ke sini?" Julian menyudutkan Naura.


"Tadinya saya merasa putus asa hingga pesimis untuk meraih kembali apa yang seharusnya sudah menjadi milik saya. Pak Bimantara pasti sudah menceritakan alasan kedatangan saya ke sini kan, Dokter Julian?" tanya Naura memancing.


Julian kembali berdiri di hadapan Naura setelah mengeluarkan pernyataan alasan Julian di balik sikap pedulinya menolong Naura. Menegaskan jika dirinya hanya merasa kasihan dan merasa bertanggung jawab saja.


"Saya menyukai anda Dokter Julian!" Pengakuan frontal Naura yang membuat Julian terperangah.


"Sudah aku katakan aku menolongmu itu hanya karena merasa kasihan. Jangan salah paham dengan kebaikanku kepadamu." Julian kembali memberikan penegasan.


"Tapi saya menyukaimu Dokter Julian." Naura kembali mengulangi ucapannya.


"Kau...."


"Maukah Dokter Julian menikah dengan saya?"

__ADS_1


Kali ini Naura benar - benar memberanikan diri mengeluarkan kata - kata yang sejak kemarin terpikirkan olehnya. Mengeluarkan kata-kata yang seharusnya tidak pantas untuk di ucapkan oleh seorang perempuan. Mengeluarkan kata-kata yang membuat Julian terkesiap luar biasa oleh Naura.


"A- Apa kau bilang?" Julian terkesiap.


"Maukah Dokter Julian menikah dengan saya?" Naura kembali mengulangi kata-kata ajakannya.


"Apa? Kau sudah gila ya!"


"Dokter dengarkan dulu penjelasan saya."


"Keluar! Keluar kau dari Apartemenku!" Bentak Julian dengan kedua tangan mendorong - dorong tubuh Naura.


"Tapi Dokter! Dokter Julian harus mendengar penjelasan saya dulu. Aku mohon dokter!" Naura berteriak dan berusaha membujuk Julian yang marah atas ucapannya tadi.


...*****...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk Li 8. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.


__ADS_2