
"Masuklah" Anin membukakan pintu untuk Kevin masuk keruang ganti.
"Apa yang bisa Aku bantu?" ulang Kevin setelah berada di dalam ruang ganti baju.
Tanpa menjawab pertanyaan Kevin, Anin langsung balik badan membelakangi Kevin. "Tolong bantu Aku menaikkan resleting dress ini, Aku tidak bisa mengapainya" ucap Anin menyibak rambutnya kedepan agar Kevin bisa dengan leluasan menaikkan resleting dressnya.
"Glek" Kevin menelan salivanya dengan kasar melihat punggung mulus wanitanya, ingin rasanya Kevin memakan habis wanita yang ada di hadapannya ini, untuk menuntaskan kerinduannya selama bertahun-tahun lamanya.
"Gila, inimah senjata makan Tuan namanya" batin Kevin.
Ya Kevin sengaja memilihkan Anin dress dengan resleting belakang hanya untuk mengerjain Anin, karena Kevin sangat tahu Anin tidak biasa memakai dress dengan model resleting belakang di karenakan tangannya yang pendek. Namun rencana Kevin tidak berhasil untuk membuat Anin kesal, dan malah sekarang Kevin lah yang kesusahan karena menahan nafsunya agar tidak menyerang Anin saat itu juga.
"Kevin kenapa Kamu diam saja? ayo cepat punggungku terasa dingin!" ucap Anin lagi membuyarkan lamunan Kevin. Anin sudah sangat gerogi saat Kevin menatap punggungnya dengan tatapan Aneh. Ya Anin dapat melihat tatapan Kevin dari pantulan cermin besar yang ada di hadapannya.
"Ah iy" jawab Kevin gugup dan melangkahkan kakinya mendekati Anin.
Kevin menahan nafas saat menarik resleting dress Anin. "Ah sial kenapa Aku segugup ini? padahal ini bukanlah hal pertama bagiku melihat punggung Anin." batin Kevin frustasi. "Selesai" ucap Kevin buru-buru melangkahkan kakinya meninggalkan ruang ganti, takut Ia hilang kendali jika berada di dalam sedikit lebih lama lagi.
Sementara Anin sibuk merapikan penampilannya di ruang ganti. "Ais kenapa jantungku berdetak sangat kencang hanya karena hal sepeleh seperti ini?" Anin memegang dadanya merasakan jantungnya yang berdetak tidak beraturan. "Hem...hem" Anin berdehem untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering, lalu Ia melangkahkan kakinya mendekati Kevin yang sedang duduk santai di sofa memainkan dasinya.
"Sudah siap?" Kevin bangkit dari duduknya saat melihat Anin berjalan ke arahnya.
Kevin tak mengedipkan matanya sekalipun saat menatap penampilan Anin yang terlihat sangat anggun dengan balutan dress berwarna hitam dan juga high heels warna yang senada.
"........" Anin menganggukkan kepalanya.
Kevin menyerahkan dasi yang sedari tadi Ia mainkannya pada Anin. "Pasangkan dasiku" ucap Kevin sedikit manja.
"Kenapa harus Aku? Kamu kan bisa sendiri" jawab Anin acuh dan mengambil tas nya di atas meja.
"Aku tidak akan pergi jika Kamu tidak memasangkan dasiku" ancam Kevin.
Anin mendegus kesal, dan mengambil alih dasi yang di pegang Kevin. "Mendekatlah" perintah Anin yang tidak ingin terlambat datang ke pertemuan penting pertamanya.
Kevin mengembangkan senyumnya dan mendekat pada Anin, Kevin sedikit berjongkok untuk mensejajarakan tinggi nya dengan Anin yang hanya sebatas lehernya saja.
__ADS_1
Anin mesangkan dasi pada Kevin dengan gerutuan yang tidak jelas. "Dasar baby gede, pakai dasi saja tidak bisa" gerutu Anin cemberut.
"Akukan sudah bilang dulu, memasangkan dasi Suami adalah kewajiban Istri" Kevin menatap lekat wajah bulat wanitanya yang terlihat sangat mengemaskan jika sedang cemberut.
"Itu sudah tidak berlaku bagiku" jawan Anin.
"Kenapa tidak, bukankah Kita belum bercerai dan Aku masih Suami sahmu?" Kevin perlahan-lahan membahas masalah mereka dengan nada candaan agar Anin tidak merasa tertekan.
"Terserah Kamu mau bilang apa" ucap Anin menyambar tasnya dan meninggalkan Kevin di dalam butik.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Fang Grub
Akhirnya mereka berdua sampai di gedung Fang Grub, dan sekarang mereka berada di dalam ruangan Tuang Fang bersama dengan asisten Tuang Fang yang bernama Yimi.
"Maaf Tuan membuat Anda menunggu, Tuan Fang ada urusan mendadak" jelas Yimi namun tatapannya tertuju pada Anin, tatapan tidak suka karena melihat Anin begitu dekat dengan Kevin.
"Anda nona Elice kan?" tanya Yimi memastikan.
"Nama Saya Yimi" ucap Yimi tanpa menyambut uluran tangan Anin. "Anda terlihat sangat anggun hari ini nona, dan semoga desain Anda seanggun penampilan Anda" sindir Yimi yang meremehkan kemampuan Anin.
Kevin yang mendegar Yimi menyindir dan meremehkan wanitanya, segera menoleh menatap Anin, namun Ia tidak menemukan ketakutan dan juga ketidak percayaan diri di wajah Anin, dan itu membuat Kevin diam saja menunggu pembelaan Anin.
"Anda tenang saja nona, desain Saya tidak akan mengecewakan Tuan Fang maupun Tuan Kevin." Anin menyerahkan desain yang di buatnya tadi pada Yimi.
"Tunggu nona" cegah Anin saat Yimi akan melihat desainnya. "Sebelum Anda melihat desainnya, Saya ingin mengatakan sesuatu pada Anda." lanjut Anin lagi.
"Katakanlah" perintah Yimi.
"Saya hanya ingin mengatakan pada Anda, bahwa jangan pernah sekali-kaki menilai seseorang dari sampulnya saja, dan jangan pernah meremehkan seseorang hanya karena penampilannya, karena penampilan tidak menjamin kecerdasan seseorang. Saya fikir Anda adalah wanita cerdas dan juga berpendidikan, tapi Saya tidak menyangka Anda akan berfikiran dangkal seperti ini, Saya tidak mau Anda di permalukan di luar sana hanya karena pikiran dangkal Anda" Anin menyerang balik, membuat Kevin terkagum-kagum pada Anin.
Ucapan Anin tepat mengenai hati Yimi, Yimi diam saja setelah mendegar perkataan Anin. Yimi menyesali perbuatannya karena telah berbuat hal serendah itu hanya karena tidak suka melihat Anin dan Kevin yang terlihat begitu akrab, sampai-sampai bergandengan tangan masuk kedalam ruangan Tuan Fang dan itu membuat Yimi cemburu.
Yimi jatuh cinta pada pandangan pertama pada Kevin, Yimi beberapa hari ini berusaha mendekati Kevin, namun Kevin seperti kulkas berjalan yang tidak bisa di dekati oleh siapun. Jadi saat Yimi melihat Kevin begitu dekat dengan Anin, itu membuatnya marah.
__ADS_1
_____
Setelah meeting selesai bersama dengan Tuan Fang, Kevin menawarkan diri untuk mengantar Anin pulang karena hari mulai gelap.
"Aku antar Kamu pulang ya, sudah malam soalnya" tawar Kevin.
"Tidak usah, Aku bisa pulang sendiri, lagi pula arah apartemen dan hotel yang Kamu tempati itu berlawanan arah." tolak Anin tidak ingin merepotkan Kevin, karena Ia tahu Kevin pasti sangat lelah, dan dari tadi Kevin terus batuk saat meeting berlangsung.
"Baiklah, hati-hati di jalan ya, sampai jumpa lain waktu" ucap Kevin tidak memaksakan diri untuk mengantar Anin, kerana kepalanya sakit dan tubuhnya sangat lelah.
"Lain waktu?" tanya Anin.
"Iya lain waktu, Aku harus pulang ke Indonesia besok, banyak sekali perkejaan yang harus Aku selesaikan di sana, maaf karena tidak bisa lagi menemanimu." ucap Kevin, walau berat rasanya Kevin berpisah dengan Anin, namun untuk saat ini Kevin tidak bisa memaksa Anin untuk ikut dengannya ke indonesia.
"Baiklah, Aku pergi dulu ya" pamit Anin dan setelah menyetop taksi.
Selama perjalanan, Anin melamun memikirkan kata-kata Kevin tadi. "Kenapa Aku merasa sedih mengetahui Kevin akan pulang ke indonesi? bukankah itu yang Aku mau?" gumam Anin.
Anin tidak mengerti dengan perasaanya sendiri, di sisi lain Anin ingin Kevin menjauhinya, namun Anin juga merindukannya.
"Pak Kita ke hotel.............
-
-
-
-
-
TBC
Jangan lupa dukung Author dengan memberikan Like, komen, Vote, dan jangan lupa menambahkan sebagai cerita favorit kalian, agar mendapatkan notifikasi setiap up.
__ADS_1