Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Dimana Anakku?


__ADS_3

Kiran implusif. Bibirnya kini terhantarkan dengan baik ke hadapan bibir Bara. Jarak yang tipis dan hanya dengan satu gerakan yang mengerucut bibir Bara yang sudah bisa menempel di bibir Kiran.


Namun, laki - laki tampan yang masih memamerkan lesung pipinya itu tak mau memuluskan niatannya. Tak mau membuat image Kiran semakin jelek di hadapan para tamu yang tak mengetahui kebenaran di antara mereka.


"Tenang saja. Aku akan mengatur semuanya. Ikuti aku dan jangan melawan sedikitpun." suara Bara mengalun lembut dengan mulut yang terbuka sangat kecil nyaris tertutup rapat.


Kiran menurut, lebih memilih untuk patuh pada ucapan Bara. Nyali Kiran tidak cukup untuk melawan Bara. Lelaki tampan itu sangat cerdas memanfaatkan kelemahan Kiran. Bagi kehidupan Kiran, Arkana adalah segalanya.


Cukuplah Kiran yang tersakiti. Namun, tidak untuk mataharinya, dunianya, belahan jiwanya, penguat diri di saat hati yang rapuh, Arkana Rasendriya.


Jemari Bara mencengkram lembut pinggul Kiran saat menuntut langkah perempuan cantik itu. Senyum manisnya terulas, saat tatapannya bersirobok dengan Arya yang ada di hadapannya. Sementara Kiran hanya bisa tertunduk dan menutupi wajah dari pandangan sinis orang - orang yang di lalui.


"Saya mau balik ke kamar!" Pamit Bara pada Arya.


"Oh, iya! Silahkan,Pak Bara!" Jawab Arya yang sempat tersentak di awal.


"Aku boleh meminta sesuatu, Pak Arya?" pinta Bara dengan senyuman manisnya.


"Tentu Pak Bara. Karena anda adalah tamu penting kami di sini." Arya menyanggupi.


"Bisa tutup mulut orang - orang di sini, kan? Kontrak kerja sama kita akan langgeng jika permintaanku ini terpenuhi." dengan cara mengancam yang cerdas Bara memaksa Arya untuk mau menyanggupi keinginannya.


...***...


"Sekarang dimana Arkana?!" Kiran langsung mendesak Bara.


Perempuan cantik itu sudah tertipu oleh bualan manis mulut Bara, yang mengatakan jika Arkana berada di dalam kamar tempatnya menginap. Lelaki itu malah acuh.Malah mempedulikan untuk mengunci pintu kamar hotel tanpa mau langsung menjawab kegelisahan hati Kiran.


"Dimana Arkana, Bara!" Bentak Kiran kesal dengan amarah yang meluap.


"Dalam keadaan marah pun kau tetap manis, sayang." puji Bara yang tidak ingin di dengarkan oleh Kiran.


"Kau mau main - main denganku, Bar? Kau menjebak ku untuk masuk kedalam kamarmu ini?" tanya Kiran yang mulai tersadar oleh permainan dari Bara.


"Aku lelah terus bermain-main, Kiran." gelas kristal yang berada di atas meja di isi oleh red wine dari botol pada genggaman tangan Bara. "Kali ini aku ingin serius," sambungnya dengan menatap Kiran tajam.


"Dimana anakku?!" Kiran kembali mengulangi pertanyaannya.


"Arkana itu juga anakku, Kiran!" Bara menyambar cepat


"Apa? Anakmu?" senyum menjengkelkan terulas di bibir Kiran. "Kemana saja kau selama hampir dua tahun ini?" lanjut Kiran dengan sinis.

__ADS_1


"Aku tidak perlu menjelaskan betapa gilanya aku untuk mencari keberadaan kalian berdua selama ini. Dinding yang mengelilingimu begitu tebal dan begitu tinggi, hingga tak bisa aku panjat. Dari cara kedua keponakanku melindungimu itu sangat cerdas hingga membuatku beberapa kali terkecoh." ucap Bara dengan sedikit meneguk sedikit red wine dari dalam gelas kristal yang telah di genggam.


"Pembohong! Kau itu pembohong Bara!" Bibir Kiran tak ragu mencibir ucapan Bara. "Kau tadi bilang, kalau kau itu sampai gila mencari kami berdua? Lalu, bagaimana dengan para model ataupun aktris yang kau kencani, dan yang kau rayu itu? Mungkin juga sudah naik ke ranjangmu." sambung Kiran menuduh.


Beberapa detik Bara terdiam. Tak bersuara. Tak berkata - kata. Bibirnya yang basah akan red wine yang telah di cecap tertutup rapat tanpa ada celah yang terbuka.


Namun, semuanya hanya sesaat. Setelahnya seringai ironi nan menjengkelkan terus terulas di bibir Bara.


"Sampai juga ke telingamu?" tanya Bara dengan nada yang mengejek.


Bara melangkahkan kedua kakinya untuk berjalan mendekati Kiran. Gelas kristal yang berisikan red wine di bawa serta dalam langkahnya mendekati perempuan cantik yang menggeram kesal pada dirinya.


"Apa kau itu cemburu, sampai - sampai kau marah seperti itu?" tanya Bara yang begitu penasaran.


"Mimpi!" Ucap Kiran dengan nada kasar.


"Hanya itu caraku untuk membuatmu keluar dari tempat persembunyian mu. Tapi, Kiran... aku itu tidak pernah menyentuh mereka lebih dari sekedar genggaman tangan. Hanya tubuhmu yang pernah aku nikmati dan memang hanya tubuhmu yang ingin aku sentuh."


Bara meneguk sisa red wine, dalam gelas kristal yang ada di tangannya. Dengan gerakan cepat dari Bara menarik lengan Kiran, merangkap tubuhnya dan menekan bibirnya ke bibir Kiran.


Red wine yang ada di dalam mulut Bara di pindahkan paksa kedalam mulut Kiran hingga tumpah. Cara Bara yang memaksa, yang menekan membuat Kiran tak tinggal diam. Kiran berontak. Kedua tangannya Kiran tidak henti memukul Bara yang begitu kasar mencumbui bibirnya.


Bara menyeringai. Ibu jarinya bergerak naik dan mengusap darah segar yang keluar dari luka pada bibir bawahnya.


"Kau pantas mendapatkankan itu!" Kiran menggeram kesal dengan napas yang tersengal akibat udara yang menipis di paru - paru.


"Aku itu memang pantas mendapatkannya, Kiran. Dan lebih dari ini pun aku terima. Kau pukul aku, kau tampar aku sekalipun aku terima. Tapi, kau jangan pernah lari lagi dari pelukanku. Karena aku tidak mau kembali gila


karena kehilanganmu." ada suara ketulusan yang terselip dari pernyataan Bara yang posesif.


"Kau bermulut manis sekali!" Dengan wajah yang memerah menahan tangisnya yang ingin keluar, Kiran kembali mencibir Bara.


Bara kemudian merogoh saku celananya dan mengeluarkan handphone miliknya dari sana. Jemarinya bergerak menyentuh layar touchscreen yang menyala.


Sebuah tangisan bayi terdengar jelas dari handphone yang ada di tangan Bara. Tangisan dari suara yang familiar bagi kedua telinga Kiran hingga membuat tubuhnya bergetar. Kini Kiran sedang di selimuti ketakutan yang luar biasa di sekujur tubuhnya.


"Bara! Apa yang sudah kau lakukan pada Arkana?!" Bentak Kiran kasar.


" Aku hanya ingin kau tidur denganku dan layani aku. Maka Arkana akan aku lepaskan!" Ancam Bara dengan mengulas seringai ironi yang menjengkelkan hati.


Plak.

__ADS_1


Tangan Kiran langsung melayang dan mendarat keras di sisi wajah Bara. Begitu kerasnya hingga mengalihkan pandangan Bara ke sisi sebelahnya yang berlawanan. Tamparan keras yang Kiran berikan di wajah tampannya Bara.


Kedua mata Bara mengerjap sejenak. Meresapi senyar panas yang menggerogoti ke sisi wajahnya yang memerah akibat tamparan keras dari Kiran.


"Kau pikir aku ini apa, Bar?" bentak Kiran dengan amarahnya yang meledak.


"Kau, Kiranku." Bara menyahuti datar.


"Kau itu memang lelaki kurang ajar yang tidak tahu malu!" Suara parau Kiran yang bergetar, wajah cantiknya di nodai oleh air mata yang keluar dari kedua sudut mata.


"Ya, aku menjadi tidak tak tahu malu semuanya itu karena kau, Kiran!" Bara kembali menyahuti.


"Kau itu seperti binatang yang menjijikkan! Bintang sekalipun masih punya hati pada anaknya sendiri. Sedangkan kau...kau.., melebihi bintang Bara!"


Geraham Kiran saling beradu dan bergesekan saat rangakaian kata - kata keluar dari bibirnya yang bergetar. Namun, getaran bibirnya itu tertahan oleh pemiliknya di karenakan hati dan jiwanya begitu geram pada lelaki terlihat masih begitu tenang.


"Karena aku sangat mencintaimu, Kiran!" Dengan rasa yang tak berdosa Bara malah menyatakan perasaannya.


"Kau pembohong! Lelaki bermulut manis yang menjijikkan! Telan balik pernyataan sampahmu itu, Bar!" Bibir Kiran yang bergetar terpaksa menjadi korban deretan gigi putihnya. Dan terpaksa Kiran gigit di karenakan kegeramannya pada Bara yang tidak bisa terlupakan.


"Aku merindukanmu, Kiran." kembali Bara tidak tahu malunya menyatakan perasaannya.


"Aku mau anakku sekarang, Bara! Dimana kau sembunyikan Arkana?!" Bentak Kiran lagi dengan derai air mata.


"Arkana juga anakku, Kiran." Bara menyambar dengan tenang.


"Anak kau bilang? Kau bilang Arkana adalah anakmu?" Kiran mengulas dengan senyuman yang mengejek. "Kau ada di mana selama aku mengandung Arkana? Dimana kau saat aku mengalami mual dan muntah akut saat sedang mengandung Arkana? Tanganku bahkan harus tertusuk jarum infus yang menyakitkan agar selangnya bisa terhubung dan mentransferkan cairannya ketubuhku. Dimana kau saat aku sendirian berjuang untuk mempertaruhkan nyawaku saat melahirkan Arkana?" tanya Kiran panjang lebar sekaligus mengungkapkan isi hatinya.


...*******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.

__ADS_1


__ADS_2