
Kevin merebahkan tubuhnya di atas ranjang setelah sampai di kamar hotel, tulang-tulangnya serasa remuk bekerja seharian tanpa di dampingi Ans di sampinganya.
Kevin mengambil ponselnya di atas nakas dan menghubungi seseorang. "Ans pesankan Saya tiket, Saya ingin pulang malam ini juga, Aku merindukan kamarku" perintah Kevin dan langsung memutuskan sambungan telfonnya.
Ya setelah di tinggalkan oleh Anin, Kevin tidak pernah absen tidur di kamarnya hanya untuk ingin merasakan kahadiran Anin di dalam kamar yang di penuhi kenanagan Anin.
Setelah membersihkan diri dan makan malam, Kevin melangkahkan kakinya masuk kedalam lift dan turun ke lantai bawah untuk menemui resepsionis.
"Saya ingin meniggalkan kamar 321" Kevin menyerahkan kartu akses pada resepsionis karena Ia harus berangkat ke Indonesia malam ini.
"Tunggu Tuan" cegah resepsionis tersebut saat Kevin akan pergi.
"Ada apa?" tanya Kevin datar.
"Ini ada titipan dari wanita cantik bernama Elice Tuan." resepsionis tersebut memberikan amplop coklat dan juga kertas note pada Kevin.
"Terimakasih" Kevin mengambil amplop tersebut dan melangkahkan kakinya keluar dari hotel karena taksi yang Ia pesan sudah menunggu di luar.
Kevin tidak menyentuh amplop coklat tersebut karena Ia sudah tahu bahwa isinya pasti sertifikat kepemilikan, dan yang menarik perhatiannya adalah secarik kertas putih di atasnya.
Terimakasih Tuan karena tertarik dengan lukisan Saya. Dan semoga Anda segera melupakan masa lalu yang menyakitkan bagi Anda.
Saya berkata demikian, karena hanya orang-orang yang memiliki luka masa lalu yang bisa memahami lukisan saya.
Terimakasih
Salam manis Elice.
Tanda tangan di ujung kertas.
"Sepertinya Aku mengenali tulis tangan ini?" Kevin sedikit berfikir di mana Dia pernah melihat tulis tangan tersebut, saat berfikir matanya tidak sengaja menangkap tanda tangan di ujung kertas.
"Tanda tangan ini?" Kevin sedikit berfikir. "Pak putar balik, Saya tidak jadi ke bandara, dan tolong antar Saya ke Art Galeri" perintah Kevin, yang ingin memastikan sesuatu.
__ADS_1
Jantung Kevin berdetak sangat kecang selama perjalanan menuju ke Art Galeri. "Ada apa dengan Jantungku?" Kevin tersenyum memegangi jantungnya yang berdetak tak beraturan. "Semoga itu benar-benar Kau sayang" gumam Kevin tak sabar lagi ingin sampai ke Art Galeri memastikan semuanya.
Lima belas menit telah berlalu akhirnya Kevin sampai di Art Galeri, Kevin berlari masuk kedalam galeri seni tersebut setelah membayar ongkos taksi.
"Nona apa nona Elice ada di sini? dimana Dia tinggal?" tanya Kevin tak sabaran.
"Ada apa Tuan? bukankah Anda bertemu dengan nona Elice malam ini?" tanya Qian terheran-heran melihat Pria di hadapannya yang terlihat tidak sabaran.
"Apa nona Elice setinggi ini? Dia selalu menggunakan kertas note untuk menyampaikan sesuatu, Dia wanita yang penurut?" bukannya menjawab pertanyaan Qian, Kevin malah melontarkan berbagai pertanyaan pada Qian.
Qian menghela nafas kasar melihat tingkah Pria di hadapannya yang sangat berbeda dengan sikap yang Ia temui tadi siang. "Benar Tuan ciri-ciri yang Anda sebutkan ada pada Nona Elice, tapi tidak dengan wanita penurut. Nona Elice adalah wanita tangguh, pemberani dan juga pekerja keras, dan Dia tidak penurut sama sekali, membangkang Ia" Qian senyum saat mengatakan membangkan, karena Ia sering melihat Elice dan juga Dilan bertengkar, dan Dilan selalu mengalah, padahal yang Qian tahu, Dilan bukanlah orang yang mudah mengalah.
"Bisa beri tahu di mana nona Elice sekarang ! Saya harus menemuinya sebelum pulang ke indonsia" ucap Kevin.
"Maaf Tuan Saya tidak bisa memberitahu Anda, itu adalah privasi nona Elice." tolak Qian yang tidak enak jika mengganggu kesenangan bosnya.
"Saya ingin membicarakan tentang lukisan yang Saya beli, nona Elice belum memberikan sertifikat kepemilikannya padahal Saya akan pergi malam ini" Kevin berbohong berharap Qian akan memberitahu keberadaan nona Elice, walau Ia belum sepenuhnya yakin, bahwa Elice adalah Anin namun tidak ada salahnya jika memastikan itu, Itulah yang ada di pikiran Kevin sekarang.
"Nona Elice sekarang menghadiri pesta dengan bos Saya, di gedung xx" Qian terpaksa memberitahu Kevin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Karena ini adalah pesta topeng, jadi semua orang yang hadir harus memakai topeng agar bisa bergabung dengan pesta tersebut.
"Mohon perhatiannya" ucap seorang Pria yang sedang berdiri diatas panggung. "Saya berdiri di sini untuk menyampaikan sesuatu pada wanita yang berdiri di ujung sana" Pria itu menunjuk wanita yang sedang duduk di sebuah kursi menikmati minumannya, dan wanita itu tak lain adalah Anin.
"Saya hanya ingin menyampaikan pada nona Elice bahwa Saya mencintainya"
Elice yang mendengar namanya di sebut segera menoleh ke atas panggung, dan tertegung melihat Dilan berdiri di atas panggung dan mengatakan cinta padanya. "Dasar, katanya mau ke toilet, tapi lihatlah Dia malah berulah di atas panggung" gerutu Elice.
Pov Anin
Lihatlah Pria itu melambaikan tangannya padaku, dan mau tidak mau Aku harus menghampirinya agar tidak membuatnya malu di depan orang banyak, walau Aku sangat malu di buatnya, untungnya ini pesta topeng jadi tidak ada yang akan mengenaliku.
__ADS_1
Dengan ragu Aku melangkahkan kakiku untuk menemui Dilan, tapi Aku tidak sampai naik ke atas panggung dan hanya menungguinya di depan panggung. Dan yang membuatku semakin risih adalah suara teriakan orang-orang yang menyuruhku menerima cinta Dilan.
Pria itu berjalan menuruni panggung dan menghampiriku dan mengajakku berdansa, mau tidak mau Aku harus menerima ajakannya, Aku berdansa dengannya sembari memarahinya.
"Kamu itu mempermalukanku tahu?" ucap ku pada Dilan.
"Kenapa harus malu? toh tidak ada yang mengenali kita disini?" Dilan tersenyum padaku.
"Tetap saja" Aku melancarkan aksiku yaitu merajuk, karena Aku tahu Dia tidak akan tahan jika melihatku merajuk.
"Aku kan sudah bilang padamu, berhati-hatilah karena Aku akan terang-terangkan memperlihatkan bahwa Aku mencintaimu" bisik Dilan pada telingaku dan tertawa lepas.
Aku memukul pundak Dilan untuk melampiaskan amarahku, dan kembali bercerita seputar tentang bisnis pada Dilan, karena hanya itu yang bisa Kami bahas saat bersama. Dilan juga mengerti bahwa Aku tidak mencintaianya walau Dia kadang iseng hanya untuk membuatku kesal.
Saat Kami asik bercerita Kami mendengar suara gelas pecah dari arah belakang, namun saat Aku menoleh tidak ada keributan di sana.
"Elice Aku kesana dulu ya, disini ribut untuk menjawab telfon" pamit Dilan padaku dan meninggalkanku seorang diri di tengah kerumunan orang-orang bertopeng.
Aku hanya mengiyakan saja, dan berniat untuk kembali duduk, namun tubuhku di tarik seseorang dan memaksaku berdansa dengannya, Aku meronta meminta di lepaskan, namun kekuatanku kalah dengan kekuatan pria bertopeng yang aku tidak tahu siapa orangnya.
"Lepaskan Saya Tuan.........
Hayo Siapa pria bertopeng itu?
-
-
-
-
-
__ADS_1
TBC
Jangan lupa dukung Author dengan memberikan Like, komen, Vote, dan jangan lupa menambahkan sebagai cerita favorit kalian, agar mendapatkan notifikasi setiap up.