Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Akad Nikah


__ADS_3

"Jadi...." Anin menghentikan perkataannya saat melihat kedatangan Kevin.


"Maaf saya terlambat" ucap Kevin berusaha tetap tenang walaupun di dalam hatinya ia merasa bersalah dan juga kasihan mendengar perkataan Anin barusan.


"Anda siapa ?" tanya Dokter tersebut.


"Saya suami dan juga ayah dari wanita yang sedang anda periksa"


Dokter menatap Kevin dan Anin secara bergantian, setelah itu ia meninggalkan sepasang suami istri itu di dalam ruangan tersebut.


Anin menundukkan kepalanya menatap hasil USG yang di pegannya tadi, dan tak terasa air matanya jatuh begitu saja.


Kevin berjalan mendekat dan mendaratkan tubuhnya di sebuah kursi yang terdapat di samping pembaringan. Kevin mengepalkan tangannya kuat-kuat dan berusaha menunrunkan egonya.


"Saya mengiginkan anak itu, apa kau bersedia mengandungnya untukku dan demi anak kita?" ucap Kevin, walaupun ia belum tahu pasti apa keputusannya ini tepat atau tidak.


"Sungguh ? kau tidak berbohong ?" Anin mengangkat kepalanya dan menatap bola mata Kevin, mencoba mencari kebenaran di dalam sana.


"iya, saya ingin anak kita lahir kedunia dengan selamat".


Kediaman Maheswari

__ADS_1


Setelah kepulangan Kevin dan Anin dari rumah sakit, mereka di sambut dengan tatapan dingin dan juga penuh harap dari para Orang Tua mereka.


Anin yang mengerti arti tatapan ibunya segera menyerahkan hasil USG nya lalu mengembangkan senyumnya.


Sandra dan Oma Jelita segera memeriksa hasil USG tersebut " Imut sekali" ucap Oma Jelita mengembangkan senyumnya.


"Kenapa nyonya mengatakannya imut ? padahal janinnya masih sebesar biji kacang !" protes Anin.


"Jangan memanggilku nyonya, mulai sekarang kau harus memanggilku Oma sama seperti Kevin" Oma Jelita mengusap-usap wajah imut Anin.


"Oh iya, Oma jadi lupa maksud kedatangan Oma Kemari. Sebantar malam kita akan mengadakan pernikahan walaupun itu sederhana karena tiba-tiba.


Malam pun tiba dimana Akad nikah akan segera dilaksanakan, Kini kevin duduk termenung di sebuah mesjid bersama dengan penghulu dan ditemani Ans dan juga Oma Jelita yang sedang menunggu kedatangan Anin.


Setelah cukup lama menunggu kini mempelai wanita sudah tiba di tempat Akad nikah tersebut. Setelah para saksi sudah hadir saatnya Kevin mengucapkan janji suci di depan Orang Tua dan juga Saksi. Dan dengan satu tarikan Nafas, kini Kevin dan Anin sudah resmi menjadi suami istri baik dalam Agama maupun Hukum.


Oma Jelita dan juga Ibu Sandra sangat bahagia menyaksikan pernikahan Anak cucu mereka, akan tetapi tidak dengan mempelai pria, karena di dalam hatinya hanya akan ada Ana seorang selama sisa hidupnya.


Setelah membersihkan diri, Anin kembali masuk kedalam kamarnya. Ia sangat gugup saat mendapati Kevin sedang duduk di tepi ranjang membelakanginya.


Anin memberanikan diri mendekat ketepi ranjang sebelah dan juga duduk membelakangi Kevin. Kevin yang menyadari kehadiran sang empunya kamar segera berdiri.

__ADS_1


"Karena kau adalah wanita hamil, jadi kau bisa tidur di ranjang." ucap Kevin sembari berjalan kearah lemari untuk mengambil selimut tanpa melirik Anin sedikitpun.


"Maaf" ucap Anin segera berdiri.


Kevin menghentikan langkahkan lalu menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Maaf ? kamu berslah apa lagi pada saya ?" geram Kevin.


"Kerena tidak mengikuti rencanamu untuk segera bercerai, dan kamu juga terpaksa harus menikah denganku. Dan bahkan sekarang akan menjadi ayah dari anak yang ada didalam kandunganku."


Kevin menatap tajam Anin dengan perasaan kesal dan juga emosi yang memuncak. "Saya memang ayah dari anak yang sedang kau kandung, orang yang tidak jadi pergi mengurus perceraian adalah saya. Orang yang tanda tangani sertifikat pernikahan saat berada di atas kapal pesiar dan menghianati Ana juga saya." Bentak Kevin.


Kevin terus berjalan mendekat pada Anin, membuat Anin berjaln mundur hingga punggunya membentur diding tembok kamar


"Kalau kamu memang benar merasa berhutang pasa saya, maka.........


-


-


-


TBC

__ADS_1


__ADS_2