
Setelah lelah keliling rumah bersama Oma, Anin pamit untuk istirahat karena merasa sangat lelah.
"Oma Anin Kekamar dulu ya" pamit Anin
"Iya sayang, pergi lah temui suamimu !" Oma Jelita mempelihatkan senyumnya.
Anin melangkahkan kakinya dengan ragu menuju kamar Kevin, Dengan hati-hati Anin mengetuk pintu kamar tersebut. Namun sang empunya kamar belum juga membuka pintu.
Tangan Anin segera terulur memegang gagang pintu, dan mengumpulkan keberaniannya membuka pintu kamar suaminya. Karena Ia masih takut kejadian kemarin malam terulang lagi, dimana Kevin menyakiti hatinya dengan kata-katanya yang begitu tajam bagaikan pisau.
Anin menghela nafas lega, saat mendapati kamar begitu sepi dan tak berpenghuni. Ia mengedarkan pandangannya memperhatikan kamar Kevin yang terbilang sangat rapi untuk ukuran seorang Pria.
Semua barang tertata dengan rapi di tempatnya masing-masing. Pandangan mata Anin berhenti dan tertuju pada sebuah foto yang begitu besar memenuhi dinding tepat di depan sofa.
Langkah kaki Anin semakin dekat pada foto itu, Ia memperhatikan. Foto tersebut dari ujung rambuat sampai ujung kaki.
"Aku memang sangat berbeda denganmu, kau benar-benar seperti angsa putih yang cantik. Sedangkan Aku hanya itik buruk rupa, tapi kau tenag saja Aku sudah berjanji pada pacarmu, setelah Anaknya lahir Aku kan pergi dari kehidupannya tanpa Kau tahu keberadaanku."
Anin menghembuskan nafasnya dan mencoba menguatkan hatinya agar tidak bersedih.
"Kau sangat beruntung, Dia sangat menyayangimu dan juga mencintaimu." Lanjut Anin.
Kevin yang sedari tadi mendengarkan perkataan Anin segera menghampirinya denga mebawa susu yang diberikan Oma di dapur tadi
__ADS_1
"Kau sudah selesai bicara ?"
Anin memutar tubuhnya mencari dari mana sumber suara tersebut.
Kevin segera meletakkan susu yang Ia bawa di atas meja "Minumlah susunya selagi hangat" ucap Kevin dingin tanpa ekspresi. Ya Kevin berubah menjadi pria arogan di depan Anin, bukan karena Ia membencinya melainkan Ia menjaga jarak agar tidak jatuh cinta pada istrinya.
Kevin melangkahkan kakinya menuju lemari dan mengambil selimut lalu meletakknya di sebuah sofe bed di samping tempat tidur yang berukuran king size.
"Terimakasih, Aku akan tidur di sofa" Anin memperlihatkan senyumnya.
"Tentu saja kau harus tidur di sofa, karena Aku tidak ingin berbagi kasur denganmu" ucap Kevin dingin dan segera mendaratkan tubuhnya di sofa "Aku ingin membicarakan hal yang sangat serius" lanjut Kevin melemparkan sebuah Amplop coklat ke atas meja.
Anin ikut duduk berhadapan dengan Kevin dan segera membuka Amplop coklat tersebut. Setelah mengetahui isinya, Ia segera mengangkat kepalanya lalu menatap Kevin sekakan-akan meminta penjelasan "Ini untukku ?"
"Aku tidak menginginkan itu semua" lirih Anin.
"Aku harap kau bisa menerimanya, dan...."
"Apa kau berfikir Aku akan memanfaatkan anak yang ada dalam kandunganku, untuk mengancam dan mendapatkan apa yang Aku inginkan suatu saat nanti? sebab itu kau bertindak seperti ini ?" Kevin diam saja mendengar penuturan Anin.
"Kau tenang saja Aku tidak akan melakukannya" ucap Anin.
"Mungkin ya, mungkin juga tidak, kita tidak tahu hati seseorang, Aku memberimu waktu tiga hari untuk berfikir."
__ADS_1
*****
Anin bangun lebih awal dari Kevin, kini Ia sedang berdiri di balkon kamar dengan pikiran yang sudah traveling kemana mana. Setelah melahirkan Anaknya, Ia harus berpisah dengan suami dan juga anaknya pada hari itu juga, lalu Kevin akan kembali pada Ana hidup bahagia bersama anaknya. itulah yang ada dipikiran Anin saat ini, tak terasa air matanya mengalir begitu saja.
"Rumah ini memang layak dihuni oleh pangeran dan juga putri, sedangkan aku tidak pantas berada di rumah ini." batin Anin.
"Pagi" ucap Anin yang sedang berdiri di samping tempat tidur Kevin dengan membawa berkas ditangannya.
Kevin yang terkejut segera mendudukkan tubuhnya di atas tempat tidur, Anin segera meletakkan surat perjanjian perceraian yang telah ia tanda tangani.
"Kau benar, Anak Kita akan lebih bahagia jika hidup bersamamu, dan satu hal lagi, Aku tidak membutuhkan uangmu. Tapi satu hal yang hari kamu tahu, Aku akan terang-terangan menemui anakku suatu saat nanti" ucap Anin.
Anin mengeluarkan cincin pernikahan yang ada jari manisnya dan meletakkannya di atas kertas tersebut, lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar.
"Anin" panggil Kevin.
Anin menghentikan langkahnya "Kau tenang saja aku tidak akan mengatakan hal ini pada Oma" ucap Anin tanpa membalikkan tubunya.
-
-
-
__ADS_1
TBC