Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Balas Dendam Part 2


__ADS_3

"Apa taruhan untuk permainan ini? bagaiman jika kamu kalah?" tanya Vito meremehkan kemampuan Kevin.


"Jika saya kalah, saya akan memakan semua bola biliar ini." ucap Kevin sembari menunjuk bola biliar yang ada di meja biliar. "Tapi jika kau kalah kamu makan satu bola saja!" ucap Kevin dingin. "Anin kemarilah!" perintah Kevin.


Anin berjalan mendekati Kevin. "Anin jika pria ******** ini kalah, kamu ingin menghukumnya seperti apa?" tanya Kevin dengan suara lembutnya.


"Sa...saya ingin dia meminta maaf padaku." ucap Anin gugup.


dengan semangat dan penuh percaya diri, Vito menyetujui persyaratan Kevin. "oke."


Vito memulai permaian biliar itu. Ia terlihat sangat hebat memainkan tongkat biliar dan juga menembak dengan lincah. Kevin hanya memperhatikan cara bermain Vito.


Sementara Anin harap-harap cemas. Ia takut Kevin kalah dan harus memakan semua bola biliar yang sedang di mainkan Vito.


Selang beberapa menit, Vito selesai dengan permaiannya. Kini giliran Kevin yang akan bermain.


Kevin memulai permaianan, dan ia juga tak kalah hebat dari Vito. Kevin bisa memasukkan dua sampai tiga bola hanya dengan satu tembakan, membuat kecemasan di wajah Anin menghilang dan tergantikan dengan senyuman indahnya.


"Bukankah kamu bilang tidak bisa bermain?" tanya Vito kesal, ia tidak menyangka Kevin akan sehebat itu.


"Saya belum pernah memainkannya, saya bru belajar saat melihatmu bermain." ucap kevin santai.


"Ini mah curang namanya." ucap Vito kesal.


"Minggir!" perintah kevin sembari mendorong tubuh Vito kebelakang dan melanjutkan permainannya.


Vito sedikit cemas karena kini skor mereka sama dan yang akan menentukan adalah bola terakhir yang akan di tembakkan Kevin.

__ADS_1


"Sudut bola terakhir sangatlah sulit." ucap Vito.


"Bola terakhir ini, saya hanya bisa meminta dewi keberuntungan membantuku untuk menembakkannya." ucap kevin, ia menghampiri Anin, dan mengenggam tangan Anin. Ia menuntun Anin mendekat kemeja biliar.


"Anin apa kau bersedia membantuku memasukkan bola terakhir ini?" ucap Kevin, dan itu refleks membuat tubuh Anin menegang. Bagaimana tidak, ia tidak pernah bermain biliar.


"Wanita yang saya anggap post-in not tak berharga, bisa-bisanya kamu memanggilnya dewi." ucap Vito, ia sengaja mengejek Anin agar kepercayaan diri Anin menghilang. "Saya ingin melihat dewimu ini bisa membantumu apa." ucap Vito tersenum sinis.


"Jangan bercanda! Saya bahkan belum pernah memegang tongkat biliar, apa lagi bermain biliar." bisik anin di telinga Kevin.


"Apa kamu tidak percaya diri?" tanya Kevin, yang di jawab anggukan kepala oleh Anin. "Kalau begitu apa kamu percaya padaku?" tanya Kevin, dan lagi-lagi dijawab anggukan oleh Anin.


Kevin membimbing tangan Anin memegang tongkat biliar yang berada di atas meja biliar. Sementara Tangan satunya melingkat di belakang tubuh Anin.


Kevin memegang tangan Anin yang sedang memegang tongkat biliar di dekat pinggang Anin. Membuat tubuh mereka begitu sangat dekat. Dalam hitungang ketiga Kevin mendorong tangan Anin membuat Bola itu mengelinding menghampiri targer bola lainnya.


"Yes masuk." Anin melompat kegirangan dan tanpa sadar ia memeluk tubuh Kevin, membuat kevin tersenyum kaku mendapat serangan mendadak.


Sementara Vito dan jeni menatap mereka berdua dengan tatapan tidak suka.


Kevin menatap vito dengan tatapan tajamnya. "Pria sejati akan menepati janjinya kan?" tanya Kevin pada Vito yang sedang berdiri di seberang meja bersama Jeny.


"Benar pria sejati pasti menepati janjinya." ucap Jeny. "Vito aku pergi dulu pacarku sudah menungguku." ucap Jeny dan berlalu pergi meninggalkan tempat biliar.


"Maaf." ucap Vito terdengar tidak ikhlas.


"Lebih keras lagi!" perintah Kevin.

__ADS_1


"maaf." ucap Vito berteriak, dengan wajah kesalnya ia berjalan kearah pintu hendak kular dari ruangan tampat biliar.


Kevin berjalan mengambil satu buah bola biliar berwarna merah dan menghadang Vito yang hendak keluar ruangan. "Makan malammu" ucap kevin meberikan bola biliar pada Vito.


Vito menghiraukan Kevin yang berdiri dihadapannya. Ia melewati Kevin dan berjalan menghampiri Anin. Vito berlutut dan memegang tangan Anin. "Aku sudah meminta maaf dan juga di permalukan, bagaimanapun kita pernah pacaran. Kamu tidak akan tega melakukannya kan? ucap Vito menatap Anin.


Anin menepis tangan Vito. "Apa kamu pernah menganggapku pacarmu?" tanya Anin. "Aku hanya ATM berjalan bagimu dan seorang wanita yang tidak pernah berani melawanmu." ucap Anin senyum sinis. "Aku sudah muak melihat kelakuanmu.


"Ya, aku memang baj*ngan, tapi tolong maafkan aku" ucap Vito.


"Pergi!" bentak Anin sembari menunjuk pintu keluar. "Jangan pernah mencul dihadapanku lagi.


Vito bangkit dari tempatnya dan berlalu pergi dengan perasaan kesal dan menaruh dendam pada Anin.


Setelah kepergian Vito, Anin memutar tubuhnya dan membelakangi Kevin. Ia menundukkan kepalanya dan meneteskan air matanya.


Kevin menghampiri Anin dan menyodorkan bola biliar merah kemulut Anin. " Apa kau lapar? ucap Kevin, ia mencoba menghibur Anin tapi itu tidak berhasil sama sekali.


"hmm.. kau tidak ingin memakannya? baiklah biar aku yang makan." ucap Kevin, ia duduk di atas meja biliar dimana tangan Anin bertumpu. Kevin membuka mulutnya lebar-lebar dan akan memasukkan bola biliar itu kemulutnya.


Anin tersenyum melihat tingkah Kevin. Ia mengambil bola biliar itu dari tangan Kevin mebuat senyum diwajah kevin juga terbit.


"berbahagialah." ucap Kevin.


"terimakasih." ucap Anin.


"Kamu tidak perlu berterimakasih, berkat dirimu aku tidak menikmati perjalan membosankan ini sendirian." ucap Kevin bangkit dari duduknya. " mulai sekarang belajarlah untuk percaya diri!" perintah Kevin.

__ADS_1


TBC


__ADS_2